Sebelum gunung-gunung berdiri, sebelum hutan tumbuh dan sungai menemukan jalannya menuju laut, dunia masih berupa kekuatan-kekuatan purba yang belum memiliki batas. Chaos telah membuka ruang bagi keberadaan, dan Gaia muncul sebagai bumi yang luas, kokoh, dan hidup. Namun di sekelilingnya masih terbentang sesuatu yang tidak dapat digenggam oleh tangan mana pun—kedalaman air yang belum mengenal pantai.
Dari Gaia lahirlah Pontus.
Ia bukan dewa yang datang dengan petir atau membawa mahkota. Pontus adalah laut itu sendiri, tua bahkan sebelum para Titan mengenal nama mereka. Ia terbentang di sekeliling bumi sebagai hamparan air yang dalam dan tak bertepi, menjadi batas antara daratan dan kekosongan di kejauhan. Ombaknya belum mengenal kapal, pantainya belum mengenal manusia, dan kedalamannya belum diterangi oleh cahaya matahari.
Pontus tidak membutuhkan istana. Seluruh laut adalah wilayahnya.
Ketika Gaia mulai melahirkan dunia yang lebih teratur, Pontus tetap berada di sisinya, mengisi tempat yang tidak dapat ditempati oleh batu dan tanah. Daratan membutuhkan air, dan dunia membutuhkan batas. Di antara keduanya, Pontus menjadi kekuatan yang tenang namun tidak pernah benar-benar diam.
Anak-Anak dari Kedalaman
Waktu berlalu, dan dunia mulai dipenuhi kehidupan yang lebih tua daripada para dewa yang kelak dikenal manusia. Dari hubungan Pontus dan Gaia lahirlah makhluk-makhluk yang membawa wajah laut dalam diri mereka.
Yang pertama adalah Nereus, putra tua yang dikenal sebagai sosok bijaksana dari laut. Ia tidak memiliki keganasan ombak ayahnya. Nereus justru dikenal karena kebenaran yang selalu keluar dari mulutnya, dan karena itu ia kelak menjadi salah satu makhluk laut yang paling dihormati.
Kemudian lahir Thaumas, yang membawa keajaiban dan kekuatan laut yang sulit dipahami. Dari dirinya kelak muncul Iris, pembawa pesan para dewa, serta para Harpy yang akan terbang melintasi langit dengan sifat liar mereka.
Pontus dan Gaia juga melahirkan Phorcys dan Ceto, dua kekuatan laut purba yang membawa sisi lebih gelap dari samudra. Dari garis keturunan mereka kelak muncul berbagai makhluk yang akan membuat manusia takut memandang ke tengah laut.
Eurybia, putri mereka, memiliki kekuatan yang berbeda. Ia membawa sifat keras dan tak mudah ditaklukkan dari laut terbuka, terutama ketika berhadapan dengan angin, batu karang, dan kekuatan langit. Bersamanya, keluarga Pontus semakin terikat dengan kekuatan-kekuatan liar yang menguasai dunia purba.
Pontus sendiri tetap menjadi pusat dari semuanya. Ia tidak memimpin seperti Zeus kelak memimpin Olympus. Ia tidak membuat hukum seperti Themis, dan tidak berperang seperti para Titan. Ia hanya ada—luas, dalam, dan tak dapat dipaksa berhenti.
Laut yang Menyaksikan Para Dewa
Kemudian dunia berubah.
Uranus menguasai langit. Gaia menjadi bumi yang melahirkan para Titan. Anak-anaknya tumbuh, dan Cronus akhirnya bangkit melawan ayahnya sendiri. Darah dan kekuasaan berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, sementara Pontus menyaksikan semuanya dari kejauhan.
Ia tidak ikut mengangkat senjata ketika para Titan memberontak terhadap Uranus. Ia tidak berdiri di pihak Cronus ketika kerajaan lama runtuh. Laut tidak membutuhkan takhta untuk tetap berkuasa.
Ketika Cronus mengambil tempat sebagai penguasa dan para Titan membagi dunia di antara kekuatan mereka, Pontus tetap berada di wilayahnya sendiri. Gelombangnya terus menghantam daratan. Pasang datang dan pergi. Makhluk-makhluk laut bergerak di kedalamannya, jauh dari perebutan kekuasaan yang berlangsung di darat dan langit.
Namun dari keturunannya, pengaruh laut terus menyebar.
Nereus hidup di kedalaman sebagai sosok tua yang mengetahui banyak rahasia. Phorcys dan Ceto melahirkan keturunan yang kelak memenuhi kisah-kisah manusia dengan rasa takut. Thaumas membawa keturunan yang menghubungkan laut dengan langit. Eurybia menurunkan garis yang kelak bersentuhan dengan kekuatan Titan dan dunia yang sedang berubah.
Pontus tidak perlu turun tangan untuk meninggalkan jejak. Darahnya sudah mengalir melalui banyak makhluk yang menghuni dunia.
Ketika Laut Menjadi Lebih Tua dari Para Penguasa
Akhirnya datang masa ketika Zeus menggulingkan Cronus dan para Titan, lalu membagi wilayah dunia bersama saudara-saudaranya. Langit berada di bawah Zeus, laut menjadi wilayah Poseidon, dan dunia bawah menjadi kerajaan Hades.
Tetapi ketika Poseidon mengangkat trisula dan mengklaim samudra sebagai kerajaannya, laut itu sendiri sudah jauh lebih tua daripada sang penguasa baru.
Di kedalaman yang tidak terjangkau cahaya, Pontus tetap ada.
Poseidon dapat mengguncang laut dengan trisulanya. Ia dapat memanggil badai, menaikkan gelombang, dan membuat bumi bergetar. Namun jauh sebelum nama Poseidon dikenal, Pontus telah menjadi laut. Ia tidak membutuhkan kerajaan untuk membuktikan keberadaannya.
Di antara ombak yang pecah di atas batu, di dasar yang gelap dan sunyi, jejak Pontus tetap tinggal sebagai bagian dari dunia paling awal.
Para dewa datang dan pergi. Para Titan jatuh. Kerajaan-kerajaan bangkit lalu lenyap. Manusia kelak akan berlayar melintasi permukaannya dan memberi nama kepada setiap teluk, pulau, dan pantai yang mereka temukan.
Namun laut tidak pernah benar-benar menjadi milik mereka.
Jauh di bawah permukaan, di tempat cahaya tidak lagi mampu menembus, air terus bergerak dalam kegelapan. Pontus tidak berbicara dan tidak membutuhkan siapa pun untuk menyebut namanya.
Ia hanya tetap ada—seperti pada awal dunia, ketika bumi baru saja menemukan bentuknya dan laut belum memiliki batas.
