Setelah Uranus dijatuhkan, dunia menjadi sunyi untuk beberapa saat.
Tak ada lagi suara penguasa langit yang memerintah dari atas. Tak ada lagi ancaman yang membuat para Titan menundukkan kepala. Di hadapan mereka berdiri Cronus, putra Gaia dan Uranus, dengan senjata masih berada di tangannya dan tatapan yang belum mengenal rasa takut.
Ia telah melakukan apa yang tak sanggup dilakukan saudara-saudaranya.
Ia melawan ayahnya.
Dan ia menang.
Cronus kemudian mengambil tempat Uranus sebagai penguasa para Titan. Di sisinya berdiri Rhea, saudarinya sekaligus istrinya, seorang Titan yang memiliki keteguhan yang berbeda dari dirinya. Jika Cronus selalu memandang ke depan dengan curiga, Rhea lebih sering memandang ke dalam, seolah mampu melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh mata.
Pada awal pemerintahannya, Cronus tampak seperti penguasa yang akan membawa dunia menuju zaman baru. Ia tidak ingin menjadi seperti Uranus. Ia tidak ingin ketakutan menjadi dasar kekuasaannya.
Namun kekuasaan memiliki cara sendiri untuk mengubah seseorang.
Cronus mulai memahami bahwa takhta yang direbut dengan tangan sendiri selalu menyisakan satu pertanyaan yang menghantui pemiliknya.
Siapa yang akan merebutnya dariku?
Pertanyaan itu menjadi semakin berat ketika sebuah ramalan datang kepadanya.
Salah satu anaknya kelak akan menggulingkannya.
Cronus terdiam ketika mendengarnya.
Ia telah melihat bagaimana seorang anak dapat mengangkat senjata kepada ayahnya. Ia sendiri yang melakukannya.
Dan untuk pertama kalinya, Cronus tidak takut kepada musuh di luar istana.
Ia takut kepada darah dagingnya sendiri.
Anak-Anak yang Hilang
Rhea melahirkan seorang anak.
Cronus menatap bayi itu dalam pelukannya. Untuk sesaat, ada sesuatu yang lembut dalam wajah sang raja. Ia melihat darahnya sendiri, melihat masa depan yang seharusnya menjadi milik anak itu.
Lalu ramalan kembali terngiang di kepalanya.
Cronus mengambil bayi tersebut dan menelannya.
Rhea tidak mampu mencegahnya.
Setelah itu lahirlah anak berikutnya.
Dan nasib yang sama menunggunya.
Hestia menghilang ke dalam tubuh ayahnya.
Kemudian Demeter.
Hera.
Hades.
Poseidon.
Satu demi satu anak Rhea direnggut dari dunia bahkan sebelum mereka sempat tumbuh dan mengenal cahaya.
Cronus meyakinkan dirinya bahwa ia sedang menjaga takhtanya. Ia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa selama anak-anak itu berada di dalam dirinya, tak seorang pun dapat menggunakan mereka untuk menggulingkannya.
Namun semakin banyak anak yang ia telan, semakin sunyi istananya.
Rhea menyaksikan semuanya.
Ia kehilangan anak-anaknya satu demi satu, sementara Cronus semakin keras dan semakin waspada. Ia masih menjadi raja para Titan, tetapi kini pemerintahannya berdiri di atas ketakutan yang sama dengan yang dahulu ia benci dari Uranus.
Dan ketika Rhea mengandung lagi, ia tahu bahwa kali ini ia harus melakukan sesuatu.
Ia tidak akan menyerahkan anak terakhirnya kepada Cronus.
Batu yang Dibungkus Kain
Ketika waktunya tiba, Rhea melahirkan seorang putra.
Anak itu bernama Zeus.
Untuk pertama kalinya, Rhea tidak membawa bayinya ke hadapan Cronus.
Ia menyembunyikan Zeus dan membawanya pergi ke Kreta. Di sana, jauh dari pandangan Cronus, bayi itu diserahkan kepada para penjaga yang akan melindunginya.
Tetapi Cronus menunggu.
Ia tidak bertanya apakah anak itu laki-laki atau perempuan.
Ia hanya meminta untuk melihatnya.
Rhea kembali kepadanya dengan sesuatu yang dibungkus kain.
Cronus mengambil bungkusan itu.
Batu besar telah dibungkus sedemikian rupa hingga tampak seperti bayi.
Tanpa curiga, Cronus menelannya.
Ia mengira takhtanya telah diselamatkan sekali lagi.
Sementara itu, di tempat yang jauh dari istana para Titan, Zeus tumbuh.
Ia tumbuh tanpa diketahui ayahnya.
Di dalam dirinya ada kekuatan yang belum dikenali Cronus dan sebuah masa depan yang tidak dapat dihentikan oleh ramalan apa pun.
Tahun-tahun berlalu.
Cronus tetap duduk di atas takhtanya.
Ia mengira kemenangan telah menjadi miliknya.
Ia tidak tahu bahwa ancaman yang paling ia takuti sedang tumbuh di luar jangkauannya.
Anak yang Kembali
Ketika Zeus telah cukup dewasa, ia kembali untuk menghadapi ayahnya.
Cronus tidak mengenalinya pada awalnya.
Namun kedatangan pemuda itu membawa sesuatu yang asing ke dalam istana. Ada keberanian dalam tatapannya yang tidak dimiliki siapa pun di antara para Titan. Ada kekuatan yang membuat Cronus merasakan kembali ketakutan yang pernah ia rasakan ketika mendengar ramalan.
Zeus tidak datang sendirian.
Ia membawa pertarungan yang selama ini coba dihindari Cronus.
Dengan bantuan yang datang dari pihak yang telah lama menunggu kesempatan untuk bangkit, Zeus memaksa Cronus mengeluarkan kembali anak-anak yang pernah ditelannya. Hestia, Demeter, Hera, Hades, dan Poseidon kembali ke dunia.
Anak-anak yang dulu dianggap telah hilang kini berdiri bersama.
Dan untuk pertama kalinya, Cronus berhadapan dengan semua yang pernah ia coba hancurkan demi mempertahankan takhtanya.
Perang pun pecah.
Para Titan berdiri di pihak Cronus. Para dewa muda berdiri di pihak Zeus.
Langit berguncang.
Gunung-gunung bergetar.
Dunia menjadi medan pertempuran antara generasi lama dan generasi baru.
Cronus bertarung untuk mempertahankan kekuasaannya, tetapi semakin lama perang berlangsung, semakin jelas bahwa ia sedang melawan sesuatu yang tidak dapat dikalahkan dengan kekuatan saja.
Ia sedang melawan waktu.
Dan waktu selalu berada di pihak anak-anaknya.
Jatuhnya Sang Raja
Perang itu berlangsung selama bertahun-tahun.
Akhirnya para dewa muda menang.
Cronus dijatuhkan, dan bersama para Titan yang tetap setia kepadanya, ia kehilangan takhtanya.
Dunia yang dahulu berada di bawah kekuasaan para Titan kini berpindah kepada generasi baru.
Zeus mengambil tempat yang pernah diduduki ayahnya.
Namun kisah Cronus tidak berhenti pada saat ia jatuh.
Ia dibawa ke Tartarus bersama para Titan yang kalah, dikurung jauh dari dunia yang pernah diperintahnya.
Di sana, tak ada lagi takhta.
Tak ada lagi istana.
Tak ada lagi anak yang harus ditakuti.
Hanya kesunyian yang panjang, dan masa lalu yang tidak dapat diubah.
Cronus pernah mengangkat senjata untuk menggulingkan ayahnya karena ia percaya bahwa dunia membutuhkan penguasa baru. Ia kemudian menelan anak-anaknya karena takut salah satu dari mereka akan melakukan hal yang sama kepadanya.
Pada akhirnya, ketakutannya sendiri menjadi jalan menuju kejatuhannya.
Di atas dunia, Zeus berdiri sebagai penguasa baru.
Dan jauh di bawah sana, dalam kegelapan Tartarus, Cronus tetap hidup dengan satu kenyataan yang tak mampu ia telan:
anak yang paling ia takutkan telah tumbuh menjadi raja yang menggantikannya.
Takdir yang berusaha ia hindari akhirnya datang juga, bukan sebagai kejutan, melainkan sebagai bayangan yang sejak awal selalu mengikutinya.
