Pada masa ketika para Titan masih memegang langit dan bumi belum mengenal kekuasaan para dewa muda, Themis lahir dari Gaia dan Uranus. Ia tidak lahir membawa petir seperti Zeus kelak. Tidak pula membawa senjata atau kekuatan yang membuat gunung berguncang. Sejak awal, kekuatannya jauh lebih sunyi.
Themis memahami sesuatu yang bahkan para penguasa sering lupa: bahwa dunia tidak dapat bertahan hanya karena seseorang cukup kuat untuk memerintahnya.
Ada aturan yang lebih tua daripada takhta. Ada keseimbangan yang tidak bisa dilawan dengan kekerasan. Dan ada keputusan yang tetap berlaku bahkan ketika tidak seorang pun menyukainya.
Themis tumbuh di antara para Titan dengan ketenangan yang membuatnya berbeda dari saudara-saudaranya. Oceanus menguasai arus yang mengelilingi dunia, Hyperion membawa cahaya, Cronus merebut takhta dari ayah mereka, sementara Themis memperhatikan apa yang terjadi setelah kekuasaan berpindah tangan.
Ia melihat bagaimana sebuah kerajaan dapat berdiri karena rasa takut, tetapi juga bagaimana kerajaan yang sama dapat runtuh ketika tidak lagi mengenal batas.
Ketika Cronus menggulingkan Uranus, Themis tidak mengangkat senjata melawannya.
Namun ia juga tidak menjadi pengikut buta saudaranya.
Ia hanya mengingat.
Ia mengingat apa yang telah dilakukan Cronus kepada ayah mereka. Ia mengingat ketakutan yang mulai tumbuh di antara para Titan. Dan ia tahu bahwa kemenangan tidak selalu berarti kebenaran.
Sebab hukum yang paling tua tidak dibuat oleh raja.
Raja hanya berdiri di dalamnya.
Suara di Antara Para Titan
Ketika Cronus akhirnya menjadi penguasa, dunia tampak tenang untuk sesaat.
Namun ketakutan segera kembali.
Ramalan telah mengatakan bahwa suatu hari anak Cronus sendiri akan menggulingkannya. Karena takut kehilangan takhta, Cronus menelan anak-anaknya satu demi satu ketika mereka lahir.
Themis menyaksikan semuanya.
Ia tidak dapat menghentikan saudaranya dengan pedang, sebab masalah itu bukan sekadar kekuasaan seorang Titan. Cronus sedang berusaha melawan sesuatu yang jauh lebih tua daripada dirinya sendiri.
Takdir.
Ketika Zeus lahir dan disembunyikan oleh Rhea, perang akhirnya datang.
Titan melawan para dewa muda.
Gunung-gunung berguncang. Langit dipenuhi suara senjata. Dunia yang telah dikuasai para Titan selama berabad-abad berubah menjadi medan pertempuran.
Themis tidak menjadi tokoh utama dalam perang itu, tetapi ia berada di antara mereka yang memahami bahwa zaman sedang berubah.
Dan ketika Cronus akhirnya jatuh, Themis tidak ikut jatuh bersamanya.
Ia tetap berdiri.
Para dewa baru mengambil tempat di Olympus, tetapi Themis membawa sesuatu dari zaman para Titan yang tidak bisa mereka rebut: pengetahuan tentang tatanan yang menjaga dunia tetap berdiri.
Zeus segera memahami nilai itu.
Ia telah memenangkan perang.
Namun memenangkan perang berbeda dengan memerintah dunia.
Seorang raja membutuhkan seseorang yang berani mengatakan kepadanya ketika ia salah.
Themis menjadi suara itu.
Di Sisi Zeus
Di Olympus, Zeus duduk di atas takhta yang dahulu tidak pernah ia bayangkan akan menjadi miliknya.
Para dewa datang kepadanya untuk meminta keputusan. Perselisihan muncul di antara mereka. Manusia berdoa, bersumpah, mengkhianati janji, lalu memohon agar para dewa mengampuni mereka.
Zeus memiliki kekuatan untuk menghukum.
Tetapi Themis memahami kapan hukuman harus diberikan dan kapan sebuah batas telah dilanggar.
Ia menjadi pendamping Zeus dan, dalam tradisi Hesiod, menjadi salah satu istrinya.
Dari hubungan mereka lahirlah para Horae—Eunomia, Dike, dan Eirene—yang membawa gagasan tentang tata tertib, keadilan, dan kedamaian ke dalam dunia.
Di antara mereka, Dike terutama mewarisi sifat ibunya.
Namun Themis tidak berhenti pada keluarganya.
Ia menjadi penjaga tata kehidupan para dewa.
Ketika para dewa duduk bersama, ia mengatur tempat mereka. Ketika mereka berpesta, ia menjaga ketertiban. Ketika keputusan harus dibuat, ia mengingatkan bahwa bahkan Zeus tidak berdiri di atas hukum yang lebih tua daripada Olympus.
Zeus bisa menggelegarkan petir.
Tetapi Themis tidak perlu meninggikan suara.
Kadang-kadang cukup satu kalimat darinya untuk membuat seluruh aula Olympus menjadi sunyi.
Ia tidak memerintah dengan rasa takut.
Ia membuat orang lain mengerti akibat dari tindakan mereka.
Dan justru karena itulah, para dewa mendengarkannya.
Ramalan dari Delphi
Sebelum Apollo menjadi penguasa oracle Delphi, Themis pernah duduk di tempat suci itu.
Di sana, jauh dari pesta-pesta Olympus dan pertengkaran para dewa, manusia datang membawa pertanyaan.
Seorang raja ingin tahu apakah perang akan membawa kemenangan.
Seorang ibu ingin tahu nasib anaknya.
Seorang pengembara ingin mengetahui jalan yang harus dipilih.
Themis mendengar semuanya.
Namun jawaban yang diberikannya tidak selalu menjadi jawaban yang ingin mereka dengar.
Sebab tugasnya bukan menyenangkan manusia.
Tugasnya adalah mengatakan apa yang harus diketahui.
Suatu hari, ketika Apollo datang dan mengambil tempatnya di Delphi, Themis menyerahkan kepadanya pengetahuan yang telah dijaganya.
Bukan karena kekuatannya telah hilang.
Melainkan karena dunia sedang memasuki masa baru.
Para dewa muda kini mulai mengambil tempat yang sebelumnya dimiliki para Titan.
Themis mengerti bahwa zaman akan terus bergerak, dan seorang penjaga hukum tidak boleh melekat pada kursi yang didudukinya.
Ia menyerahkan oracle itu kepada Apollo.
Namun kebijaksanaan yang telah tinggal di sana tidak ikut pergi.
Rahasia yang Menyelamatkan Olympus
Zeus kemudian mengetahui bahwa ada satu rahasia yang dapat mengancam kedudukannya.
Thetis, putri Nereus, telah ditakdirkan melahirkan seorang anak yang akan menjadi lebih besar daripada ayahnya.
Zeus tidak dapat mengabaikan ramalan itu.
Themis mengetahui bahaya yang terkandung di dalamnya.
Ia tidak perlu menghunus senjata. Ia hanya perlu mengatakan apa yang telah ditentukan.
Zeus akhirnya mengatur agar Thetis menikah dengan Peleus, seorang manusia fana.
Dari pernikahan itulah lahir Achilles.
Anak yang kelak menjadi salah satu pahlawan terbesar di dunia Yunani.
Sekali lagi, Themis tidak mengubah takdir.
Ia hanya memastikan bahwa Zeus memahaminya.
Itulah perbedaan antara kekuasaan dan kebijaksanaan.
Kekuasaan dapat memaksa dunia tunduk.
Kebijaksanaan mengetahui ke mana dunia sedang bergerak.
Ketika Dunia Manusia Hancur
Namun Themis tidak hanya mengawasi para dewa.
Ia juga melihat manusia.
Dan pada suatu masa, manusia menjadi begitu rusak hingga Zeus memutuskan bahwa dunia harus dibersihkan oleh banjir besar.
Hujan turun tanpa henti.
Sungai meluap.
Tanah yang dahulu menjadi tempat manusia membangun rumah berubah menjadi lautan.
Di antara kehancuran itu, Deucalion dan Pyrrha berhasil bertahan.
Ketika air akhirnya surut, mereka berdiri di atas dunia yang hampir kosong.
Mereka pergi mencari jawaban.
Dan di sanalah Themis berbicara kepada mereka.
Perintahnya terdengar aneh: mereka harus melemparkan tulang-tulang ibu mereka ke belakang.
Deucalion dan Pyrrha terdiam.
Mereka tahu bahwa ibu yang dimaksud bukanlah seorang manusia.
Ibu mereka adalah Gaia.
Dan tulang-tulang Gaia adalah batu-batu yang tergeletak di tanah.
Mereka mengikuti petunjuk itu.
Batu-batu yang dilemparkan Deucalion berubah menjadi manusia laki-laki.
Batu-batu yang dilemparkan Pyrrha berubah menjadi perempuan.
Dari tanah yang telah dihancurkan banjir, umat manusia kembali bangkit.
Themis tidak menciptakan manusia dengan tangannya sendiri.
Ia hanya menunjukkan jalan agar kehidupan dapat menemukan bentuknya kembali.
Hukum yang Tetap Berdiri
Waktu terus berjalan.
Cronus telah menjadi kenangan.
Titan-titan lain mulai menghilang dari pusat dunia.
Olympus berdiri di atas gunung, dan Zeus menjadi penguasa para dewa.
Namun Themis tetap ada.
Ia tidak membutuhkan takhta.
Tidak membutuhkan mahkota.
Tidak membutuhkan petir.
Ketika para dewa berselisih, ia hadir sebagai suara yang mengingatkan mereka tentang batas. Ketika manusia datang membawa pertanyaan, ia memberikan jawaban yang tidak selalu mudah diterima. Ketika masa depan mulai terbentuk, ia mendengarkan sesuatu yang belum dapat didengar oleh orang lain.
Pada akhirnya, kekuatan Themis bukanlah kemampuan untuk menghancurkan sesuatu.
Justru sebaliknya.
Ia adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang harus tetap berdiri.
Di Olympus, ketika pesta telah berakhir dan para dewa meninggalkan aula satu demi satu, Themis kadang masih duduk di tempatnya.
Zeus mungkin telah pergi.
Petirnya telah menghilang di balik awan.
Tetapi Themis tetap membuka mata, memandang dunia yang terbentang jauh di bawah gunung.
Kerajaan dapat berganti.
Para dewa dapat saling menggulingkan.
Generasi manusia dapat lahir dan mati.
Namun selama dunia masih membutuhkan batas antara keadilan dan kesewenangan, suara Themis belum selesai berbicara.
Dan malam itu, di aula Olympus yang mulai sepi, ia kembali mendengar bisikan masa depan.
Ia tidak tersenyum.
Ia hanya menunggu.
Sebab ia tahu bahwa takdir tidak pernah benar-benar diam.
