Pada masa ketika dunia masih muda dan para Titan belum mengenakan mahkota, Gaia melahirkan anak-anak yang kelak akan mengisi langit dengan nama mereka. Di antara mereka ada Coeus, seorang Titan yang tidak dikenal karena amarah atau kekuatan yang meledak-ledak. Ia tumbuh dengan sifat yang berbeda. Ketika saudara-saudaranya memandang dunia dan melihat sesuatu yang harus ditaklukkan, Coeus melihat sesuatu yang harus dipahami.
Ia sering berdiri jauh dari keramaian para saudaranya, memperhatikan gerak langit, perubahan cahaya, dan perjalanan bintang-bintang yang belum dipahami siapa pun. Ia ingin mengetahui mengapa segala sesuatu bergerak sebagaimana mestinya. Baginya, dunia bukan sekadar tempat yang luas dan liar. Dunia memiliki keteraturan, dan di balik keteraturan itu ada sesuatu yang lebih tua daripada para Titan sendiri.
Coeus membawa pertanyaan itu ke dalam dirinya sejak awal. Ia bukan Titan yang paling keras suaranya, tetapi ketika ia berbicara, saudara-saudaranya mendengarkan. Ada ketenangan dalam dirinya yang membuat pertanyaannya terasa lebih berat daripada teriakan.
Di antara seluruh anak Gaia dan Uranus, Coeus menjadi sosok yang mencari jawaban di balik segala sesuatu yang tampak.
Titan yang Mencari Jawaban
Ketika Uranus masih menguasai langit dan para Titan hidup di bawah bayang-bayang kekuasaannya, Coeus mulai memahami bahwa kekuatan saja tidak cukup untuk menguasai dunia. Bahkan langit yang begitu luas pun memiliki jalannya sendiri. Matahari bergerak dalam lintasannya, bintang-bintang kembali ke tempatnya, dan musim datang lalu pergi tanpa menunggu kehendak seorang penguasa.
Coeus mempelajari semua itu dengan kesabaran yang tidak dimiliki banyak saudaranya. Ia menjadi Titan yang berkaitan dengan kecerdasan, pikiran, dan pengetahuan tentang tatanan kosmis. Ia seakan memahami bahwa jika seseorang ingin mengetahui ke mana dunia bergerak, ia harus terlebih dahulu memahami dari mana arah itu berasal.
Karena itulah Coeus sering dikaitkan dengan poros utara langit, tempat arah dapat ditentukan dan perjalanan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kegelapan. Dalam dirinya, pengetahuan bukan sekadar kumpulan jawaban. Pengetahuan adalah kemampuan untuk menemukan jalan.
Namun dunia para Titan tidak pernah membiarkan seseorang menjadi pengamat selamanya.
Ketika Cronus akhirnya bangkit melawan Uranus, Coeus berdiri bersama saudara-saudaranya. Langit yang selama itu berada di bawah kekuasaan ayah mereka berubah, dan generasi baru para penguasa lahir dari pemberontakan tersebut. Coeus tidak mengambil tempat paling depan dalam kemenangan itu, tetapi ia menjadi bagian dari kekuatan yang menjatuhkan Uranus dan membuka zaman baru.
Setelahnya, Cronus mengambil takhta.
Dan dunia memasuki masa para Titan.
Pernikahan di Antara Para Titan
Di antara para Titan, Coeus menemukan pasangan yang sejalan dengan sifatnya: Phoebe, saudarinya sendiri, Titan yang memiliki hubungan dengan kecerdasan, penglihatan, dan cahaya nubuat. Jika Coeus mencari arah dalam tatanan dunia, Phoebe memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu yang tersembunyi di balik masa kini.
Mereka tidak membutuhkan banyak kata untuk saling memahami.
Dari persatuan mereka lahirlah dua putri yang kelak membawa warisan orang tua mereka ke generasi berikutnya: Leto dan Asteria.
Leto tumbuh dengan ketenangan yang mengingatkan pada ibunya dan kekuatan yang diwarisi dari garis keturunan para Titan. Asteria membawa kemampuan melihat tanda-tanda yang belum terjadi, seperti bayangan masa depan yang kadang muncul sebelum dunia siap menerimanya.
Coeus memandang kedua putrinya dan melihat sesuatu yang lebih besar daripada keluarganya sendiri. Pengetahuan yang ia cari tidak akan berhenti pada dirinya. Ia telah menemukan cara untuk meneruskannya kepada generasi yang akan datang.
Namun Coeus tidak tahu bahwa keturunan yang lahir dari garis keluarganya kelak akan membawa perubahan terbesar bagi dunia.
Jatuhnya Para Titan
Masa kejayaan para Titan akhirnya retak.
Cronus, yang telah menggulingkan Uranus, mendengar ramalan bahwa salah seorang anaknya sendiri akan menjatuhkannya. Ketakutan membuatnya melakukan apa yang dahulu dilakukan ayahnya: berusaha menahan generasi berikutnya agar tidak pernah mencapai dunia.
Sementara itu, Coeus menyaksikan perubahan perlahan yang terjadi di antara para Titan. Kekuasaan yang dahulu menyatukan mereka mulai berubah menjadi rasa takut. Dunia yang mereka kuasai tidak lagi terasa seperti sesuatu yang akan bertahan selamanya.
Lalu Zeus tumbuh.
Perang besar pecah antara generasi Titan dan generasi baru para dewa. Gunung-gunung berguncang, langit terbelah oleh petir, dan bumi menjadi medan pertempuran antara ayah dan anak.
Coeus berdiri di pihak para Titan.
Tetapi kali ini pengetahuan tidak dapat memberinya jalan keluar.
Zeus dan saudara-saudaranya akhirnya menang. Para Titan yang kalah dijatuhkan dari kekuasaan dan dikurung jauh di Tartarus, di tempat yang gelap dan dalam, jauh dari langit yang pernah mereka kuasai.
Coeus pun jatuh bersama generasinya.
Di Balik Gerbang Tartarus
Di dalam Tartarus, tidak ada perjalanan bintang yang bisa ia amati. Tidak ada langit untuk dibaca, tidak ada arah untuk ditentukan. Hanya dinding kegelapan dan keheningan yang panjang.
Bagi Titan seperti Coeus, hukuman itu terasa lebih dalam daripada rantai.
Ia yang sepanjang hidupnya berusaha memahami tatanan dunia kini ditempatkan di tempat yang seolah tidak memiliki tatanan sama sekali.
Namun pikirannya tidak dapat dikurung.
Coeus tetap mengingat langit. Ia mengingat perjalanan benda-benda di atas bumi, mengingat arah yang pernah ia pelajari, dan mengingat bahwa dunia selalu bergerak menuju sesuatu yang baru. Bahkan ketika tubuhnya terikat di kedalaman Tartarus, pikirannya tetap berjalan.
Di atas sana, zaman baru telah dimulai.
Leto, putrinya, kelak akan menjadi ibu dari Apollo dan Artemis. Melalui mereka, darah Coeus akan kembali menyentuh dunia para dewa. Apollo akan membawa cahaya, nubuat, dan keteraturan; Artemis akan menguasai alam liar dan malam yang sunyi.
Warisan Coeus tidak berakhir ketika ia jatuh.
Ia hanya berpindah tangan.
Jauh di atas Tartarus, langit terus bergerak seperti yang selalu ia yakini. Bintang-bintang menempuh jalannya, malam berganti menjadi pagi, dan dunia melanjutkan perjalanan tanpa menunggu para Titan yang dahulu menguasainya.
Di dalam kegelapan, Coeus tetap terdiam.
Namun untuk pertama kalinya, ia tidak sedang mencari jawaban.
Ia hanya menunggu untuk melihat ke mana dunia akan bergerak selanjutnya.
