Crius: Di Antara Para Titan

   
Crius: Di Antara Para Titan

Crius: Di Antara Para Titan

Ketika Gaia melahirkan para Titan dari kedalaman dunia yang baru terbentuk, Crius datang ke dunia bersama saudara-saudaranya yang kelak mengguncang zaman para dewa. Ia bukan yang paling terkenal di antara mereka, bukan pula yang paling sering disebut ketika kisah-kisah besar diceritakan. Namun sejak awal, Crius memiliki tempatnya sendiri di antara para Titan. Ia berdiri sebagai putra Gaia dan Uranus, saudara Cronus, Oceanus, Hyperion, Iapetus, Theia, Rhea, Themis, Mnemosyne, Tethys, dan Phoebe, tumbuh di bawah langit yang dikuasai ayahnya sendiri.

Crius adalah Titan yang berkaitan dengan rasi-rasi bintang dan tatanan langit. Ia tidak mengejar kekuasaan dengan kegelisahan seperti Cronus, juga tidak mencari kemasyhuran. Dalam dirinya ada sesuatu yang lebih tenang, tetapi bukan berarti lemah. Ia memahami gerak langit, pergantian musim, dan arah yang ditempuh bintang-bintang ketika malam datang. Di antara para saudaranya, ia seperti sosok yang selalu mengamati sebelum bertindak.

Namun dunia yang mereka tinggali bukan dunia yang tenang.

Uranus memandang anak-anaknya sendiri sebagai ancaman. Para Hecatoncheires dan Cyclopes yang dilahirkan Gaia dikurung jauh di dalam Tartarus, dan penderitaan itu membuat bumi sendiri bergetar. Gaia tidak dapat lagi menanggung apa yang dilakukan suaminya. Kemarahan tumbuh di antara anak-anaknya, dan ketika akhirnya ia meminta mereka melawan Uranus, para Titan berdiri di hadapan sebuah keputusan yang akan mengubah dunia.

Cronus maju.

Crius tidak menjadi pemimpin pemberontakan itu, tetapi ia tidak meninggalkan saudara-saudaranya. Ketika para Titan menunggu saat yang tepat untuk menjatuhkan Uranus, ia berdiri bersama mereka dalam bayang-bayang malam. Langit yang selama ini berada di atas mereka akan segera kehilangan penguasanya.

Lalu Cronus mengangkat senjatanya.

Dan zaman pertama para dewa pun berakhir.

Ketika Cronus Menjadi Raja

Setelah Uranus tumbang, dunia memasuki masa pemerintahan para Titan. Cronus mengambil takhta, dan para saudaranya menyebar ke berbagai penjuru dunia yang kini terbuka bagi mereka. Crius mengambil tempatnya di antara kekuatan-kekuatan purba yang menjaga keteraturan langit.

Ia kemudian bersatu dengan Eurybia, putri Pontus dan Gaia. Dari hubungan itu lahirlah tiga anak yang kelak memiliki hubungan erat dengan kekuatan-kekuatan langit dan laut: Astraeus, Pallas, dan Perses.

Crius tidak mewariskan kepada anak-anaknya sebuah kerajaan yang dibangun dari batu atau emas. Yang ia berikan adalah sesuatu yang lebih luas: tempat di dalam tatanan dunia. Astraeus akan menjadi ayah dari angin-angin dan bintang-bintang tertentu melalui hubungannya dengan Eos. Pallas kelak dikenal sebagai Titan yang berkaitan dengan perang dan kekuatan tempur. Perses membawa kekuatan penghancur yang sesuai dengan namanya.

Di dalam keluarga kecil itu, Crius berdiri seperti pusat yang tenang. Ia tidak banyak mencari perhatian, tetapi anak-anaknya tumbuh membawa bagian dari kekuatan ayah mereka ke generasi berikutnya.

Sementara itu, di Olympus yang belum berdiri sebagai pusat kekuasaan, sesuatu yang jauh lebih besar mulai bergerak.

Cronus telah mendengar ramalan bahwa salah seorang anaknya sendiri akan menggulingkannya, sebagaimana ia dahulu menggulingkan Uranus. Ketakutan membuatnya menelan anak-anak yang dilahirkan Rhea. Hestia, Demeter, Hera, Hades, dan Poseidon menghilang ke dalam tubuh ayah mereka sendiri.

Crius menyaksikan perubahan saudaranya.

Cronus yang dahulu berdiri di samping mereka untuk melawan Uranus kini duduk sendirian di takhta dan menjaga kekuasaannya dengan ketakutan. Dunia para Titan mulai retak dari dalam.

Perang yang Membelah Dunia

Ketika Zeus akhirnya tumbuh dan kembali untuk menantang Cronus, tidak ada lagi jalan untuk menghindari perang. Para Titan terbagi, dan Crius berdiri di sisi saudaranya.

Perang itu berlangsung selama sepuluh tahun.

Gunung-gunung berguncang. Langit dipenuhi suara pertempuran. Laut bergolak ketika kekuatan-kekuatan purba saling berhadapan, sementara dunia seakan tidak mampu menanggung benturan antara dua generasi dewa.

Crius bertempur sebagai salah satu Titan yang mempertahankan kekuasaan Cronus. Ia bukan sosok yang paling sering disebut dalam pertempuran itu, tetapi keberadaannya tetap menjadi bagian dari kekuatan yang menahan pasukan Zeus. Bersama para Titan lainnya, ia menghadapi generasi baru yang datang dengan kekuatan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Namun Zeus tidak datang sendirian.

Cyclopes yang dahulu dibebaskan dari Tartarus menempa senjata bagi para dewa muda. Hecatoncheires ikut turun dalam perang. Petir Zeus membelah langit, sementara Poseidon mengguncang bumi dan laut. Hades membawa kekuatan kegelapan yang membuat musuh-musuhnya gentar.

Perlahan, para Titan kehilangan tanah mereka.

Crius melihat satu demi satu pertahanan mereka runtuh. Takhta yang dahulu direbut dari Uranus kini direbut kembali oleh generasi berikutnya. Para Titan dikalahkan dan dijatuhkan ke Tartarus, tempat yang dahulu menjadi penjara bagi makhluk-makhluk yang dikurung Uranus.

Di sana, zaman mereka berakhir.

Di Balik Langit yang Baru

Tidak ada kemenangan bagi Crius setelah perang itu.

Namanya tidak menjadi nama sebuah kota, tidak berdiri di atas singgasana Olympus, dan tidak menerima kuil-kuil megah seperti dewa-dewa yang datang sesudahnya. Ia menghilang bersama sebagian besar Titan yang kalah, sementara dunia bergerak memasuki pemerintahan Zeus.

Namun garis keturunan Crius tidak ikut lenyap.

Anaknya, Astraeus, membawa warisan ayahnya ke langit melalui anak-anaknya bersama Eos. Dari mereka lahirlah kekuatan-kekuatan yang mengatur angin dan tanda-tanda langit. Pallas dan Perses juga meneruskan darah Titan ke zaman baru, menjadikan keluarga Crius tetap hidup di antara para dewa dan kekuatan purba.

Jadi ketika malam tiba dan bintang-bintang mulai muncul satu demi satu, warisan Crius belum benar-benar hilang. Ia tidak lagi berjalan bebas di dunia seperti pada zaman para Titan, tetapi sesuatu dari dirinya tetap berada di atas sana, di antara jalur bintang dan gerak langit yang terus berputar.

Jauh di bawahnya, Olympus berdiri dengan para dewa baru di singgasana mereka.

Dan jauh di dalam kegelapan Tartarus, para Titan yang kalah tetap menunggu dalam diam, sementara langit terus bergerak seperti tidak pernah mengenal perang yang pernah membelah dunia.

Last update
Add Comment