Sebelum langit dipenuhi bintang dan sebelum matahari memiliki jalan untuk menyeberangi cakrawala, dunia masih berada dalam masa ketika segala sesuatu terasa lebih tua daripada nama-nama yang kelak diberikan manusia kepadanya.
Gaia telah melahirkan generasi pertama para Titan bersama Uranus. Di antara anak-anak mereka berdiri Theia, putri yang membawa sesuatu yang tidak dapat disentuh, tetapi dapat mengubah wajah dunia: cahaya.
Theia tidak seperti saudara-saudaranya.
Hyperion memandang ke arah langit dan melihat gerak besar benda-benda di atas dunia. Theia memandang lebih dalam. Ia memperhatikan bagaimana sesuatu yang jauh dapat membuat sesuatu yang lain tampak berharga. Batu yang biasa menjadi berkilau ketika disentuh cahaya. Air yang gelap dapat berubah menjadi permukaan seperti kaca. Mata makhluk hidup memantulkan apa yang mereka lihat.
Sejak muda, Theia memahami bahwa dunia tidak hanya dibentuk oleh benda-benda yang ada di dalamnya.
Dunia juga dibentuk oleh cara segala sesuatu terlihat.
Ia sering berdiri di tempat tinggi, memandangi bumi yang masih liar di bawahnya. Pegunungan menjulang tanpa nama, laut membentang tanpa pelaut, dan hutan tumbuh tanpa manusia yang kelak akan menebang pohonnya.
Suatu hari, Hyperion datang berdiri di sampingnya.
“Kau selalu melihat ke bawah,” katanya.
Theia tersenyum tipis.
“Dan kau selalu melihat ke atas.”
“Karena di atas sana ada sesuatu yang menunggu.”
Theia menatap langit yang gelap.
“Di bawah juga.”
Mereka tidak berkata lebih banyak. Namun sejak saat itu, jalan mereka mulai saling mendekat.
Anak-Anak Cahaya
Theia dan Hyperion akhirnya menjadi pasangan.
Dari keduanya lahirlah tiga anak yang kelak akan membawa cahaya mereka ke tempat-tempat yang berbeda.
Yang pertama adalah Helios, yang kelak akan melintasi langit dengan cahaya matahari.
Yang kedua adalah Selene, yang akan menerangi malam dengan cahaya bulan.
Yang ketiga adalah Eos, yang akan membuka pintu fajar setiap kali malam berakhir.
Theia memandangi ketiganya ketika mereka masih muda.
Helios memiliki api yang tidak pernah diam. Ia berlari lebih cepat daripada yang seharusnya, seolah-olah seluruh dunia adalah jalan yang harus ditaklukkannya.
Selene berbeda. Ia lebih tenang. Ia dapat duduk lama tanpa berbicara, memperhatikan perubahan bayangan di permukaan laut.
Sementara Eos selalu menatap tempat matahari belum muncul.
Suatu malam, ketika ketiga anaknya berdiri bersama di hadapannya, Theia berkata kepada mereka, “Kalian tidak membawa cahaya yang sama.”
Helios mengangkat dagu.
“Aku membawa yang paling kuat.”
Selene tersenyum kecil.
“Tidak semua orang membutuhkan cahaya yang paling kuat.”
Eos memandang keduanya lalu tertawa.
Theia ikut tersenyum.
Ia tahu ketiganya akan berjalan di jalan masing-masing.
Ia juga tahu bahwa cahaya tidak pernah benar-benar tinggal di satu tempat.
Ketika Para Titan Mulai Takut
Namun dunia para Titan tidak selalu damai.
Uranus takut kepada anak-anaknya sendiri. Ia melihat kekuatan mereka dan mengetahui bahwa suatu hari mereka mungkin akan berdiri melawannya. Ketakutan itu akhirnya membawa penderitaan kepada Gaia dan anak-anaknya.
Theia menyaksikan ketegangan tumbuh di antara mereka.
Ia tidak menyukai perang, tetapi ia juga memahami bahwa ketakutan seorang penguasa dapat menjadi lebih berbahaya daripada kemarahan seorang musuh.
Ketika Cronus akhirnya bangkit melawan Uranus dan mengambil kekuasaan, dunia berubah.
Para Titan menjadi penguasa.
Untuk sementara, seolah-olah zaman baru telah dimulai.
Namun Theia tidak pernah sepenuhnya percaya bahwa kekuasaan dapat menghapus ketakutan. Ia mengenal keluarganya terlalu baik.
Cronus kini duduk di tempat Uranus pernah berdiri, tetapi ketakutan yang sama perlahan tumbuh di dalam dirinya.
Sebuah ramalan mengatakan bahwa salah satu anaknya kelak akan menjatuhkannya.
Dan seperti Uranus sebelumnya, Cronus memilih untuk melawan masa depan.
Theia menyaksikan semuanya dari kejauhan.
Ia tidak dapat menghentikan kehendak Cronus, tetapi ia tahu satu hal: tidak ada penguasa yang dapat memerintah cahaya.
Matahari tetap akan terbit.
Bulan tetap akan datang.
Fajar tetap akan membuka langit.
Bahkan jika seorang Titan menginginkannya sebaliknya.
Cahaya yang Tidak Dapat Dikurung
Ketika anak-anak Cronus lahir dan kemudian ditelan oleh ayah mereka sendiri, dunia kembali diselimuti ketakutan.
Theia mendengar kabar itu.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang lebih berat daripada kesedihan.
Kemarahan.
Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan anak, dan ia tidak dapat menerima bahwa seorang ayah menjadikan ketakutannya sendiri sebagai alasan untuk menghancurkan darah dagingnya.
Namun ia tidak pergi berperang.
Theia bukanlah Titan yang mencari kemenangan melalui kekuatan.
Senjatanya adalah sesuatu yang jauh lebih tua.
Ia menunggu.
Sementara itu, Helios terus menempuh jalannya. Selene menjaga malam. Eos terus membuka fajar.
Mereka tidak berhenti hanya karena para penguasa langit bertengkar.
Itulah yang akhirnya dipahami Theia.
Cahaya tidak perlu memenangkan perang.
Ia hanya perlu tetap ada.
Dan selama ia tetap ada, kegelapan tidak pernah benar-benar menjadi penguasa.
Ketika Langit Terbelah
Kemudian Zeus tumbuh.
Perang antara para Titan dan generasi baru para dewa pun pecah.
Gunung-gunung berguncang. Laut bergerak liar. Langit dipenuhi suara benturan kekuatan yang belum pernah disaksikan dunia.
Theia tidak berdiri di garis depan seperti beberapa saudaranya.
Ia melihat perang itu dengan kesedihan yang dalam.
Di satu sisi berdiri anak-anak Gaia yang lebih tua.
Di sisi lain berdiri anak-anak Cronus.
Darah yang sama mengalir dalam tubuh mereka, tetapi dunia telah membuat mereka menjadi musuh.
Pada akhirnya, para Titan kalah.
Cronus jatuh.
Zeus mengambil kekuasaan.
Dan zaman baru dimulai.
Theia tidak dihukum seperti beberapa saudaranya yang dikurung jauh dari dunia. Ia tetap berada di antara para dewa tua, menyaksikan dunia berubah sedikit demi sedikit.
Ia melihat para dewa muda mengambil tempat mereka.
Ia melihat manusia mulai muncul dan memandang langit dengan rasa takjub.
Dan di atas mereka semua, anak-anaknya tetap menjalankan tugas yang tidak pernah berubah.
Helios melintasi langit membawa matahari.
Selene bergerak dalam keheningan malam.
Eos membuka gerbang pagi.
Theia memandangi ketiganya dan menyadari bahwa anak-anaknya telah menjadi bagian dari keseimbangan dunia.
Bukan karena mereka berkuasa atas segala sesuatu.
Melainkan karena dunia membutuhkan mereka.
Ibu dari Matahari dan Bulan
Pada suatu pagi, Theia berdiri di tepi dunia ketika langit masih berwarna gelap.
Eos belum membuka pintu fajar.
Ia menunggu.
Kemudian perlahan, garis terang muncul di kejauhan.
Theia melihat warna merah keemasan menyebar di atas bumi.
Eos datang lebih dulu.
Tak lama kemudian, Helios memulai perjalanannya.
Theia mengangkat wajah.
Di tempat lain, Selene telah menyelesaikan perjalanan malamnya dan perlahan menghilang dari langit.
Tidak ada terompet kemenangan.
Tidak ada singgasana.
Tidak ada perang.
Hanya siklus yang terus bergerak.
Theia memahami bahwa itulah warisannya.
Ia bukan Titan yang namanya paling sering disebut ketika para dewa bertempur. Ia tidak memiliki kisah penaklukan yang memenuhi gunung dan lautan.
Namun setiap pagi yang menyentuh bumi membawa jejaknya.
Setiap malam ketika bulan muncul, darahnya masih berbicara.
Dan setiap kali manusia melihat kilau emas pada sesuatu yang sederhana, atau melihat cahaya bulan menari di permukaan laut, mereka sedang menyaksikan sesuatu yang jauh lebih tua daripada kerajaan para dewa.
Theia berdiri diam ketika matahari semakin tinggi.
Cahaya memenuhi dunia.
Untuk sesaat, ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas—pegunungan, laut, hutan, dan langit yang luas.
Lalu ia tersenyum.
Karena ia tahu, selama dunia masih memiliki sesuatu untuk dilihat, cahaya tidak akan pernah benar-benar mati.
