Setelah Gaia dan Uranus melahirkan generasi para Titan, dunia belum juga menemukan kedamaian. Uranus masih menggenggam kekuasaan dengan tangan yang keras, sementara anak-anaknya tumbuh dalam bayang-bayang ketakutan yang telah diwariskan dari ayah mereka. Di antara para Titan itu lahirlah Rhea.
Ia bukan yang paling kuat. Bukan pula yang paling keras suaranya. Namun sejak awal, ada sesuatu dalam dirinya yang berbeda. Rhea memiliki keteguhan yang tidak perlu diperlihatkan dengan senjata. Ia mampu menunggu, memperhatikan, dan menyimpan keberanian jauh di dalam dirinya sampai saat yang tepat tiba.
Ia tumbuh bersama saudara-saudaranya—Oceanus, Coeus, Crius, Hyperion, Iapetus, Theia, Themis, Mnemosyne, Phoebe, Tethys, dan Cronus. Di antara mereka, Cronus adalah sosok yang paling dekat dengannya.
Ketika Cronus akhirnya bangkit melawan Uranus dan merebut kekuasaan, dunia memasuki zaman baru.
Para Titan menjadi penguasa.
Dan Rhea berdiri di sisi Cronus.
Mereka menikah, dan untuk sesaat, masa depan tampak menjanjikan.
Namun kemenangan atas Uranus membawa sebuah bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Sebelum jatuh, Uranus telah meninggalkan ramalan yang melekat di benak Cronus: suatu hari, salah satu anaknya sendiri akan menggulingkannya sebagaimana ia menggulingkan ayahnya.
Cronus tidak pernah melupakan kata-kata itu.
Anak-Anak yang Hilang
Ketika Rhea mengandung anak pertamanya, ia membayangkan dunia yang berbeda dari dunia yang telah mereka warisi. Ia ingin anak-anaknya tumbuh tanpa rasa takut kepada ayah mereka. Ia ingin melihat mereka berlari di tanah yang telah diperintah oleh para Titan.
Tetapi ketika bayi pertama lahir, Cronus mengambilnya.
Ia menelan anak itu hidup-hidup.
Rhea tidak mampu mencegahnya.
Hestia menghilang ke dalam kegelapan tubuh Cronus.
Lalu Demeter lahir.
Nasib yang sama menunggunya.
Kemudian Hera.
Setelah itu Hades.
Lalu Poseidon.
Satu demi satu, anak-anak Rhea direnggut darinya sebelum mereka sempat mengenal dunia.
Setiap kali kelahiran datang, harapan muncul di hati Rhea. Dan setiap kali Cronus mengambil bayinya, harapan itu berubah menjadi luka.
Namun Rhea tidak membiarkan luka itu membuatnya menyerah.
Ketika ia mengandung anak keenam, sesuatu di dalam dirinya berubah.
Ia telah kehilangan terlalu banyak.
Kali ini, ia tidak akan menyerahkan anaknya.
Ketika saat kelahiran tiba, Rhea pergi ke tempat yang jauh dari pengawasan Cronus. Di sebuah gua di Kreta, ia melahirkan seorang putra.
Namanya Zeus.
Untuk pertama kalinya, Rhea memeluk anaknya tanpa mendengar langkah kaki Cronus mendekat.
Tetapi ia tahu waktunya singkat.
Ia kembali ke hadapan suaminya dengan membawa sebuah batu yang dibungkus kain, menyerupai bayi yang baru lahir.
Cronus datang dengan mata penuh kecurigaan.
"Anak itu," katanya.
Rhea menyerahkan bungkusan tersebut.
Cronus tidak bertanya lagi.
Ia menelan batu itu.
Rhea menundukkan kepala, menyembunyikan apa yang sebenarnya bergejolak di wajahnya.
Di luar istana, jauh di pegunungan Kreta, Zeus masih hidup.
Dan untuk pertama kalinya, takdir telah ditipu.
Anak di Gunung Ida
Zeus dibesarkan secara tersembunyi.
Para nimfa merawatnya, sementara kambing Amalthea memberinya susu. Di sekitar gua tempatnya tinggal, para Kouretes menjaga tangisannya agar tidak terdengar oleh Cronus. Setiap kali bayi itu menangis, mereka menghentakkan kaki dan membenturkan senjata mereka sehingga suara itu tertelan oleh kegaduhan.
Rhea tidak selalu berada di sisinya.
Itulah bagian paling berat dari rencananya.
Ia harus membiarkan anaknya tumbuh jauh darinya agar tetap hidup.
Sementara itu, di istana para Titan, Cronus merasa aman. Ia percaya bahwa ramalan telah gagal. Anak terakhirnya telah masuk ke dalam tubuhnya seperti saudara-saudaranya yang lain.
Ia tidak tahu bahwa Zeus tumbuh hari demi hari.
Tidak tahu bahwa bayi yang dahulu ia telan dalam bentuk batu hanyalah tipu daya.
Dan tidak tahu bahwa kekuasaan yang ia pertahankan dengan ketakutan sedang mendekati akhirnya.
Tahun-tahun berlalu.
Zeus tumbuh menjadi sosok yang kuat. Ketika waktunya tiba, ia kembali untuk menghadapi ayahnya.
Namun sebelum perang besar dimulai, satu hal harus dilakukan.
Saudara-saudaranya harus dibebaskan.
Dengan bantuan Metis, Zeus membuat Cronus meminum ramuan yang memaksanya memuntahkan kembali anak-anak yang selama ini ia telan.
Hestia keluar lebih dahulu.
Kemudian Demeter.
Hera.
Hades.
Poseidon.
Dan akhirnya batu yang pernah ditelan Cronus—bukti dari tipu daya Rhea—terlempar keluar.
Anak-anak Rhea yang dahulu direnggut darinya kini berdiri kembali di dunia.
Mereka telah kembali.
Dan mereka tidak lagi menjadi anak-anak yang tak berdaya.
Perang Para Dewa
Ketika Zeus dan saudara-saudaranya bangkit melawan Cronus dan para Titan, langit dan bumi kembali berguncang.
Perang itu berlangsung lama.
Para Titan bertempur mempertahankan zaman mereka, sementara generasi baru para dewa berdiri untuk merebut masa depan.
Rhea tidak berdiri di garis depan dengan senjata.
Perannya telah dilakukan jauh sebelumnya.
Ia telah menyelamatkan kehidupan yang akan mengubah dunia.
Ia telah menyembunyikan Zeus ketika Cronus masih merasa dirinya tak terkalahkan. Ia telah memberikan kepada putranya kesempatan untuk tumbuh, dan melalui tipu daya sederhana, memastikan bahwa garis keturunannya tidak berakhir di dalam tubuh suaminya.
Pada akhirnya, Cronus dan para Titan kalah.
Zeus mengambil tempat sebagai penguasa baru.
Dunia yang dahulu berada di bawah kekuasaan para Titan memasuki zaman para dewa Olympus.
Rhea menyaksikan perubahan itu dari tempat yang lebih sunyi.
Ia tidak menjadi penguasa Olympus.
Ia tidak mengejar takhta.
Ia telah melihat sendiri bagaimana sebuah takhta dapat membuat seorang ayah takut kepada anaknya sendiri hingga sang ayah memilih menelan anak-anaknya demi mempertahankan kekuasaan.
Rhea memilih sesuatu yang berbeda.
Ia menjadi ibu dari generasi baru.
Ibu yang Tetap Menunggu
Setelah perang berakhir, anak-anak Rhea mengambil tempat mereka di dunia.
Hestia menjaga api rumah.
Demeter menguasai kesuburan bumi dan hasil panen.
Hera menjadi ratu para dewa.
Hades memerintah dunia orang mati.
Poseidon menguasai lautan.
Dan Zeus duduk di singgasana langit.
Enam anak yang pernah dipisahkan oleh ketakutan Cronus kini membentuk pusat kekuasaan baru.
Rhea telah kehilangan mereka ketika mereka masih bayi.
Tetapi ia mendapatkan mereka kembali sebagai dewa-dewa yang menentukan nasib dunia.
Hubungannya dengan Cronus pun tidak lagi menjadi pusat hidupnya. Zaman mereka telah berlalu. Kekuasaan yang pernah mereka bangun bersama telah runtuh, dan anak yang mereka takuti justru menjadi penguasa baru.
Namun ada sesuatu yang tidak pernah berubah.
Rhea tetap seorang ibu.
Ketika para dewa baru mulai menata dunia, ketika Olympus menjadi pusat kekuasaan dan nama Zeus mulai menggema di langit, kisah Rhea tidak berakhir dengan mahkota.
Ia berakhir dengan sebuah gua di Kreta yang semakin sunyi.
Di sana, di tempat Zeus pernah disembunyikan dari ayahnya sendiri, angin pegunungan bergerak melewati bebatuan. Tidak ada lagi tangisan bayi yang harus disembunyikan. Tidak ada lagi langkah Cronus yang mendekat.
Hanya kesunyian.
Dan di dalam kesunyian itu, Rhea berdiri sejenak, memandang tempat yang pernah menyelamatkan putranya.
Dunia telah berubah.
Takdir yang dahulu tampak tidak dapat dihindari ternyata bisa dilawan.
Bukan dengan kekuatan terbesar.
Melainkan dengan keberanian seorang ibu yang, untuk sekali saja, menolak menyerahkan anaknya kepada ketakutan.
