Pada saat dunia masih muda, ketika Gaia baru saja membentangkan tanahnya dan Uranus belum sepenuhnya menguasai langit, ada satu tempat yang bahkan tidak ingin disentuh oleh cahaya. Jauh di bawah bumi, lebih dalam daripada akar gunung dan lebih sunyi daripada dasar lautan, terbentang sebuah jurang tanpa akhir. Namanya Tartarus.
Ia bukan sekadar tempat. Ia adalah kekuatan purba yang telah ada sejak dunia mulai menemukan bentuknya. Jika Gaia adalah bumi yang memberi kehidupan, Tartarus adalah kedalaman yang menelan segala sesuatu yang dikurung di dalamnya. Ia tidak mengenal musim, tidak mengenal siang dan malam, dan tidak membutuhkan matahari untuk tetap ada.
Di sana, kegelapan bukanlah ketiadaan cahaya.
Kegelapan adalah keberadaan itu sendiri.
Namun Tartarus bukan makhluk yang hidup seperti para dewa yang kelak memenuhi Olympus. Ia adalah salah satu kekuatan purba yang menjadi bagian dari fondasi dunia. Dalam wujudnya yang menyerupai manusia, ia tinggi, tenang, dan nyaris tak pernah menunjukkan emosi. Tubuhnya seperti dibentuk dari batu hitam yang menyerap cahaya, sementara matanya menyimpan kedalaman yang membuat siapa pun yang menatapnya merasa sedang berdiri di tepi jurang.
Ia tidak mengejar kekuasaan.
Ia tidak membutuhkan takhta.
Sebab bahkan para penguasa akan mengenal namanya ketika kekuasaan mereka berakhir.
Kedalaman yang Tidak Memihak
Tartarus menyaksikan dunia tumbuh dari tempatnya yang jauh di bawah.
Ia mendengar suara Gaia ketika gunung-gunung muncul dari tubuhnya. Ia merasakan getaran ketika Uranus membentangkan langit di atas bumi. Ia mendengar kelahiran generasi pertama para dewa, para Titan yang kelak akan menguasai dunia.
Namun Tartarus tidak pernah naik ke permukaan untuk mengambil bagian dalam pemerintahan mereka.
Ia hanya menunggu.
Bagi Tartarus, tidak ada yang benar-benar abadi. Gunung dapat runtuh. Laut dapat berubah arah. Langit dapat kehilangan penguasanya. Bahkan para dewa dapat dikalahkan.
Pada akhirnya, segala sesuatu akan memiliki tempat di dalam kedalaman.
Itulah sebabnya Tartarus tidak membenci Uranus ketika penguasa langit itu mulai memperlakukan anak-anaknya dengan kejam. Ia tidak ikut campur ketika Uranus menekan para Hecatoncheires dan Cyclopes jauh di dalam bumi.
Namun ia merasakan penderitaan mereka.
Setiap jeritan yang terperangkap di kedalaman bumi sampai kepadanya.
Dan ketika Gaia akhirnya melawan Uranus melalui anak-anaknya, Tartarus hanya diam, mendengar suara dunia berubah.
Setelah Uranus jatuh, dunia memasuki zaman baru.
Cronus mengambil tempatnya.
Para Titan berdiri sebagai penguasa.
Tetapi jauh di bawah kaki mereka, Tartarus tetap berada di tempatnya.
Tidak tunduk kepada siapa pun.
Ketika Gaia Datang ke Kedalaman
Gaia mengenal Tartarus lebih baik daripada hampir semua makhluk lain.
Mereka sama-sama lahir dari dunia yang masih muda. Gaia membentangkan daratan dan pegunungan, sementara Tartarus bersemayam di kedalaman yang berada jauh di bawahnya.
Mereka adalah dua sisi dari dunia yang sama.
Suatu ketika, Gaia turun semakin dalam, melewati akar-akar bumi yang membawanya menuju tempat yang jarang disentuh oleh kekuatan lain.
Di sana ia bertemu Tartarus.
Tidak ada pesta. Tidak ada istana. Tidak ada singgasana.
Hanya kedalaman yang luas dan keheningan yang seolah tidak pernah berakhir.
"Aku tidak pernah melihatmu datang sejauh ini," kata Tartarus.
"Aku adalah bumi," jawab Gaia. "Tidak ada tempat di dalam diriku yang benar-benar asing bagiku."
Untuk pertama kalinya, Tartarus tersenyum tipis.
Pertemuan itu menjadi awal dari hubungan yang berbeda dari hubungan Gaia dengan Uranus.
Uranus adalah langit yang menaungi Gaia.
Tartarus adalah kedalaman yang tinggal di dalam dunia bersamanya.
Dari hubungan mereka lahirlah seorang anak yang membawa kekuatan dari keduanya.
Namanya Typhon.
Anak dari Bumi dan Kedalaman
Ketika Typhon lahir, Tartarus merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bahkan kedalaman yang selama ini tenang seperti bergetar.
Typhon bukanlah anak yang lembut.
Tubuhnya begitu besar hingga kehadirannya terasa seperti bencana yang memiliki bentuk. Kekuatan bumi mengalir melalui dirinya, sementara kekuatan Tartarus memberinya sifat liar dan mengerikan yang tidak dimiliki para dewa biasa.
Gaia memandang anak itu sebagai senjata.
Ia telah melihat anak-anaknya dipenjara, dikhianati, dan dikalahkan oleh para penguasa langit. Ketika akhirnya Zeus dan para dewa Olympian mengambil kekuasaan, Gaia melihat generasi baru kembali berdiri di atas dunia.
Namun jauh di dalam dirinya, ia masih menyimpan amarah.
Dan dari kedalaman itu lahirlah Typhon.
Tartarus tidak mencegahnya.
Ia tahu apa yang sedang dilakukan Gaia.
Ia juga tahu bahwa anak mereka mungkin akan membawa kehancuran ke dunia yang baru saja berubah.
Tetapi Tartarus tidak pernah menjadi dewa yang menghentikan takdir.
Ia hanya menyediakan tempat bagi segala sesuatu yang jatuh ke dalamnya.
Amarah Gaia dan Bangkitnya Typhon
Ketika Typhon akhirnya muncul dari kedalaman, bumi berguncang.
Gunung-gunung bergetar. Laut bergerak seperti terseret oleh kekuatan yang tidak terlihat. Bahkan para dewa Olympus merasakan ancaman itu sebelum melihatnya.
Typhon bergerak menuju wilayah para dewa.
Zeus menjadi orang pertama yang berdiri menghadangnya.
Pertarungan itu bukan sekadar pertempuran antara dua makhluk kuat. Itu adalah benturan antara dua zaman.
Di satu sisi berdiri Zeus, penguasa generasi baru.
Di sisi lain berdiri Typhon, anak Gaia dan Tartarus, kekuatan liar dari dunia purba yang belum sepenuhnya menerima pemerintahan Olympus.
Petir Zeus menghantam.
Typhon tetap bangkit.
Gunung-gunung seakan menjadi senjata di tangannya, dan badai mengamuk di seluruh dunia. Untuk sesaat, bahkan Olympus tampak tidak aman.
Namun Zeus tidak mundur.
Pertarungan mereka berlangsung hingga akhirnya sang penguasa petir berhasil mengalahkan Typhon dan menjatuhkannya.
Anak Tartarus itu kembali menuju tempat yang sangat dekat dengan asal kekuatannya.
Kedalaman.
Di sana, dunia mengenal kembali sifat Tartarus yang sesungguhnya.
Ia tidak menyambut anaknya dengan sorak kemenangan.
Ia juga tidak menangisinya seperti manusia.
Ia hanya membuka kedalaman yang telah menunggunya sejak awal.
Sebab Tartarus tahu satu hal yang tidak pernah berubah sejak dunia dilahirkan:
apa pun yang jatuh, pada akhirnya akan menemukan jalan menuju bawah.
Penjara bagi Para Penguasa yang Jatuh
Setelah perang besar antara Zeus dan para Titan berakhir, Tartarus memperoleh peran yang jauh lebih penting dalam dunia baru.
Para Titan yang kalah dilemparkan ke dalam kedalamannya.
Cronus dan para Titan yang menentang Zeus tidak lagi berdiri di atas dunia. Mereka dijauhkan dari langit, dari bumi, dan dari kekuasaan yang pernah mereka miliki.
Di sana, Tartarus menjadi penjaga yang tidak membutuhkan rantai di tangannya.
Jurang itu sendiri adalah penjara.
Dindingnya tidak dapat ditembus. Kedalamannya tidak memiliki jalan keluar. Tidak ada matahari yang menyinari tempat itu dan tidak ada kerajaan yang dapat dicapai dari sana.
Bagi para Titan, Tartarus bukan sekadar tempat hukuman.
Ia adalah akhir dari sebuah zaman.
Mereka pernah memerintah dunia.
Kini mereka hanya mendengar gema langkah mereka sendiri di dalam kegelapan.
Dan Tartarus tetap berdiri jauh dari mereka, tanpa kebencian dan tanpa belas kasihan.
Ia tidak menghakimi.
Ia hanya menerima mereka yang telah dijatuhkan oleh kekuasaan baru.
Di Bawah Dunia Para Dewa
Zaman terus berubah.
Zeus menjadi penguasa langit. Poseidon menguasai laut. Hades menerima dunia orang mati. Para dewa baru memenuhi Olympus dan kisah-kisah mereka mulai memenuhi bumi.
Manusia lahir.
Pahlawan muncul.
Kerajaan berdiri dan runtuh.
Namun Tartarus tetap berada di bawah semuanya.
Ia tidak membutuhkan pemujaan.
Tidak ada kuil besar yang dibangun untuk memuliakannya. Tidak ada manusia yang berdoa agar ia memberkati panen atau memenangkan peperangan.
Tartarus bukan dewa yang memberi.
Ia adalah kedalaman yang menunggu.
Di tempatnya yang jauh di bawah bumi, ia mendengar dunia bergerak di atasnya. Ia mendengar gema langkah para dewa, jeritan para Titan yang dipenjara, dan suara bumi yang terus berubah.
Kadang Gaia datang kepadanya.
Mereka tidak selalu berbicara.
Tidak perlu.
Mereka telah melihat terlalu banyak zaman untuk membutuhkan banyak kata.
Gaia berdiri di tepi kedalaman, memandang Tartarus yang tetap tenang seperti ketika dunia masih muda.
"Kau masih di sini," katanya.
Tartarus menatapnya.
"Aku tidak pernah pergi."
Gaia kemudian kembali ke permukaan, meninggalkan kedalaman kepada penghuninya.
Tartarus kembali sendiri.
Di kejauhan, suara rantai para Titan terdengar samar.
Lebih jauh lagi, dunia terus bergerak menuju masa depan yang belum diketahui.
Dan jauh di bawah gunung, laut, kerajaan, dan bahkan Olympus, Tartarus tetap membuka matanya.
Menunggu.
Karena selama dunia masih memiliki sesuatu untuk dibuang, sesuatu untuk dikurung, dan sesuatu yang suatu hari akan jatuh dari tempat tertingginya, kedalaman itu tidak akan pernah benar-benar tidur.
