Pada awal segala sesuatu, ketika dunia belum memiliki bentuk yang dapat disebut dunia, tidak ada suara langkah, tidak ada langit yang membentang, tidak ada laut yang bergelombang di bawah cahaya matahari. Hanya ada Khaos, ruang purba yang luas dan tanpa batas. Lalu sesuatu berubah.
Dari kedalaman yang tak memiliki arah, Gaia bangkit sebagai bumi yang kokoh. Ia tidak sekadar muncul sebagai sosok yang berdiri di atas tanah, sebab tanah itu sendiri adalah bagian dari dirinya. Setelahnya, Tartarus terbentuk jauh di bawah segala sesuatu, sebuah kedalaman yang kelak menjadi tempat paling gelap di antara dunia.
Namun dunia yang baru lahir itu masih terasa asing.
Gaia dapat menjadi bumi. Tartarus dapat menjadi kedalaman. Tetapi belum ada sesuatu yang membuat satu keberadaan tertarik kepada keberadaan lainnya.
Kemudian Eros datang.
Ia bukan lahir dari rahim seorang ibu. Tidak ada ayah yang mengangkatnya sebagai anak. Eros muncul sebagai salah satu kekuatan pertama yang menyertai kelahiran dunia, setua fondasi bumi dan kedalaman Tartarus.
Dan ketika Eros membuka matanya, sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya mulai bergerak.
Keinginan.
Bukan sekadar keinginan untuk memiliki, tetapi dorongan untuk mendekat. Untuk menyatukan. Untuk membuat sesuatu yang terpisah berhenti menjadi dua.
Eros tidak membawa kerajaan. Ia tidak membutuhkan takhta. Ia bahkan tidak membutuhkan senjata.
Kekuasaannya jauh lebih sederhana.
Ia membuat yang jauh ingin mendekat.
Ketika Dunia Mulai Mendekat
Gaia berdiri sendirian di tengah dunia yang masih muda.
Dari dirinya lahir berbagai kekuatan dan makhluk purba. Pegunungan muncul, laut terbentuk, dan dunia perlahan mendapatkan bentuk. Namun Gaia masih membutuhkan sesuatu yang dapat melengkapi dirinya.
Di atas bumi, Uranus akhirnya terbentang sebagai langit.
Ia adalah pasangan yang sempurna bagi Gaia: bumi di bawah dan langit di atas.
Tetapi jarak tetaplah jarak.
Eros hadir di antara keduanya.
Ia tidak menarik Uranus dengan tangan, karena Eros tidak bekerja seperti seorang raja yang memerintah pasukannya. Ia hanya menanamkan dorongan yang tidak dapat diabaikan. Langit condong kepada bumi, bumi merindukan langit, dan untuk pertama kalinya dua kekuatan besar dunia bertemu sebagai pasangan.
Dari pertemuan itu, kehidupan baru mulai memenuhi dunia.
Para Titan lahir.
Para Kyklops lahir dengan kekuatan mengerikan di dalam diri mereka. Para Hekatonkheires muncul dengan tubuh yang tidak seperti makhluk lain di dunia. Anak-anak Gaia dan Uranus memenuhi zaman yang masih muda, membawa benih dari masa depan yang bahkan belum dapat dibayangkan.
Eros tidak berdiri di samping mereka sebagai seorang ayah.
Ia adalah alasan mengapa pertemuan itu dapat terjadi.
Dan ketika generasi baru mulai memenuhi bumi, kekuatan Eros menunjukkan sisi yang berbeda. Ia tidak peduli apakah hasil dari pertemuan itu akan menjadi indah atau mengerikan. Ia tidak memilih siapa yang pantas untuk saling mendekat.
Ia hanya membuat jarak terasa seperti sesuatu yang harus dilampaui.
Kekuatan yang Tidak Membutuhkan Takhta
Para Titan kelak akan berbicara tentang kekuasaan.
Uranus akan mempertahankan langitnya dengan ketakutan. Gaia akan menyimpan kemarahan terhadap perlakuan Uranus kepada anak-anaknya. Kronos akan mengangkat senjata untuk merebut tempat ayahnya. Setelah itu, para dewa akan berperang demi menentukan siapa yang berhak memerintah dunia.
Tetapi Eros tidak pernah membutuhkan semua itu.
Ia tidak tertarik pada mahkota.
Ketika Uranus memandang anak-anaknya dengan rasa takut dan menekan mereka jauh ke dalam bumi, Eros tidak dapat memaksanya menjadi ayah yang lebih baik. Ketika Gaia mulai menyimpan kebencian kepada Uranus, Eros tidak dapat menghapus luka itu. Bahkan ketika Kronos mengangkat sabitnya dan memutus kekuasaan ayahnya, Eros tidak menghentikan tangannya.
Sebab Eros bukanlah hukum.
Ia bukan keadilan.
Ia bukan pula kebijaksanaan.
Ia adalah dorongan yang membuat makhluk hidup bergerak menuju sesuatu yang mereka inginkan.
Kadang-kadang dorongan itu melahirkan kehidupan.
Kadang-kadang ia melahirkan kecemburuan.
Kadang-kadang ia membuat seseorang berani mendekati sesuatu yang seharusnya dijauhi.
Dan kadang-kadang, dari keinginan yang tampaknya kecil, lahirlah perang yang mengguncang dunia.
Itulah sebabnya Eros tidak pernah benar-benar dapat dikalahkan.
Bahkan para dewa pun tidak dapat hidup tanpa kekuatannya.
Api yang Menyentuh Para Dewa
Waktu bergerak, dan dunia berubah.
Kekuasaan Uranus runtuh. Kronos mengambil tempatnya. Para Titan menguasai dunia. Lalu datang generasi yang lebih muda, para dewa yang kelak akan menetap di Olympus.
Namun di balik pergantian takhta itu, Eros tetap ada.
Ia menyaksikan dunia berubah tanpa menjadi bagian dari perebutan kekuasaan.
Ketika Zeus mengejar kekuasaan, Eros tetap diam.
Ketika Hera merasa cemburu, Eros tidak memihak.
Ketika para dewa dan manusia saling jatuh hati, saling mengejar, saling mengkhianati, dan saling kehilangan, kekuatan yang sama terus bekerja di balik semuanya.
Ia tidak mengenal batas antara dewa dan manusia.
Bagi Eros, hati seorang raja tidak berbeda dari hati seorang pengembara. Keduanya dapat menginginkan sesuatu yang tidak bisa mereka miliki. Keduanya dapat menjadi berani karena cinta. Keduanya dapat menjadi bodoh karena hasrat.
Dan semakin dunia berkembang, semakin manusia mulai memberinya wajah.
Mereka membayangkan Eros sebagai sosok muda bersayap yang membawa busur dan anak panah, sosok kecil yang dapat membuat hati siapa pun berubah hanya dengan satu tembakan. Gambaran itu membuatnya tampak seperti dewa yang lebih mudah dipahami daripada kekuatan purba yang pernah berdiri di awal dunia.
Namun jauh sebelum ia digambarkan sebagai pemuda bersayap, Eros telah ada ketika langit dan bumi baru pertama kali saling mendekat.
Ia bukan sekadar anak kecil yang bermain-main dengan hati para dewa.
Ia adalah salah satu kekuatan pertama yang membuat kehidupan terus bergerak.
Eros dan Dunia yang Tidak Pernah Diam
Ada sesuatu yang ganjil tentang Eros.
Ia tidak membangun apa pun dengan tangannya sendiri, tetapi hampir semua hal yang dibangun dunia memiliki jejak kekuatannya.
Keluarga lahir karena orang-orang memilih untuk saling mendekat.
Generasi baru muncul karena kehidupan mencari kehidupan.
Aliansi terbentuk karena kepercayaan dan keinginan.
Perang pun sering dimulai karena seseorang menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain.
Eros dapat membawa seseorang kepada kebahagiaan, tetapi ia juga dapat membuat seseorang kehilangan akal sehat.
Ia tidak menjanjikan akhir yang baik.
Ia hanya membuka pintu.
Mereka sendirilah yang menentukan apa yang terjadi setelah melewatinya.
Karena itu, kekuatannya bahkan dapat membuat para dewa menjadi lemah. Dewa yang tidak takut pada petir dapat kehilangan kendali karena cinta. Dewi yang mampu mengguncang dunia dapat terluka karena seseorang yang tidak membalas perasaannya. Seorang manusia yang tidak memiliki kekuatan apa pun dapat melakukan sesuatu yang luar biasa hanya karena ada seseorang yang ingin ia lindungi.
Eros tidak perlu mengangkat gunung.
Cukup membuat seseorang berkata, aku menginginkannya.
Dan dunia akan mulai bergerak.
Anak Zaman Pertama
Jauh di dalam ingatan dunia, Eros tetap berdiri sebagai sosok yang berbeda dari para dewa yang datang setelahnya.
Ia tidak memiliki kisah perebutan takhta seperti Kronos.
Ia tidak memimpin perang seperti Zeus.
Ia tidak menempa senjata seperti Hephaistos.
Ia tidak membawa pesan seperti Hermes.
Kekuatannya lebih tua daripada semua itu.
Ketika dunia masih kosong, Eros membuat keberadaan mencari keberadaan lain. Ketika bumi dan langit pertama kali bersatu, kekuatannya telah bekerja. Ketika generasi demi generasi lahir, ia tetap berada di antara mereka, tidak terlihat tetapi tidak pernah benar-benar pergi.
Dan ketika manusia akhirnya mulai menceritakan kisah tentang para dewa, mereka memberinya wajah yang dapat mereka pahami.
Mereka menggambarnya sebagai pemuda bersayap.
Mereka memberinya busur.
Mereka memberinya anak panah.
Mereka menjadikannya sosok yang dapat datang diam-diam, lalu membuat hati seorang dewa atau manusia berubah dalam sekejap.
Tetapi di balik gambaran itu masih ada Eros yang pertama.
Eros yang berdiri di dunia ketika belum ada Olympus.
Eros yang menyaksikan Gaia bangkit dari Khaos dan Tartarus terbentuk dalam kegelapan.
Eros yang tidak membutuhkan senjata untuk mengubah dunia.
Malam semakin turun di atas bumi.
Langit membentang luas di atas pegunungan, laut bergerak perlahan di kejauhan, dan kehidupan terus berkembang di antara keduanya. Di tempat yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia, kekuatan purba itu masih bergerak.
Sebuah tarikan kecil.
Sebuah keinginan.
Sebuah langkah menuju sesuatu yang berada jauh di depan.
Dan sekali lagi, dunia pun bergerak mengikutinya.
