Jauh sebelum nama Pleiades menghiasi langit malam, Pleione hanyalah seorang putri air yang lahir dari Oceanus dan Tethys.
Ia tumbuh di antara para Oceanid, membawa warisan laut purba yang mengalir mengelilingi dunia. Namun Pleione memiliki kedekatan khusus dengan alam liar. Ia tinggal di wilayah Arkadia, di sekitar Gunung Kyllene, tempat hutan lebat, lereng gunung, dan padang tempat kawanan ternak bergerak bebas. Namanya sendiri membawa makna kelimpahan dan pertambahan, seolah sejak kelahirannya ia telah membawa kemampuan untuk membuat kehidupan berkembang.
Di tempat itulah jalannya bertemu dengan Atlas.
Atlas adalah seorang Titan, putra Iapetus, yang kelak akan menerima beban langit di pundaknya. Namun sebelum hukuman itu datang, ia masih dapat berjalan bebas di antara gunung-gunung dan bumi.
Pleione dan Atlas kemudian menjadi pasangan.
Dari mereka lahirlah tujuh putri.
Mereka bukan anak-anak yang biasa.
Mereka adalah Maia, Electra, Taygete, Alcyone, Celaeno, Sterope, dan Merope.
Tujuh saudari yang kelak akan dikenal sebagai Pleiades.
Pleione memandang mereka tumbuh di lereng Kyllene, masing-masing membawa sifat dan jalan hidupnya sendiri. Maia yang kelak menjadi ibu Hermes. Electra yang darah keturunannya akan mengalir menuju Dardanos dan bangsa Troy. Alcyone, Celaeno, Sterope, Taygete, dan Merope yang masing-masing akan membawa nama keluarga mereka menuju kisah-kisah para dewa dan manusia.
Namun Pleione belum tahu bahwa anak-anaknya suatu hari tidak lagi menjadi miliknya sepenuhnya.
Langit telah menunggu mereka.
Tujuh Putri di Bawah Bayang-Bayang Atlas
Pleione sangat dekat dengan ketujuh putrinya.
Ia membawa mereka menyusuri hutan, melewati lereng gunung, dan mengajarkan mereka mengenali perubahan angin serta tanda-tanda hujan. Sebagai putri Oceanus, ia memahami bahwa alam selalu memberikan tanda sebelum sesuatu terjadi.
Tetapi ada satu bahaya yang tidak dapat ia baca dari angin.
Orion.
Sang pemburu raksasa melihat Pleione dan putri-putrinya ketika mereka sedang melakukan perjalanan melalui Boeotia.
Pandangan Orion tertuju kepada Pleione.
Ia mengejarnya.
Pleione berlari.
Tujuh putrinya ikut berlari bersamanya.
Mereka menyusuri hutan dan padang, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sementara langkah Orion terus mengikuti dari belakang. Ia tidak berhenti mengejar mereka.
Pleione tahu mereka tidak akan mampu terus berlari selamanya.
Maka ia memohon kepada Zeus.
Bukan untuk dirinya sendiri.
Untuk anak-anaknya.
Zeus melihat ketakutan yang menguasai ketujuh putri itu dan merasa iba kepada mereka. Ia mengangkat mereka dari bumi dan menempatkan mereka di langit.
Satu demi satu, tubuh mereka berubah menjadi cahaya.
Maia.
Electra.
Taygete.
Alcyone.
Celaeno.
Sterope.
Merope.
Tujuh cahaya muncul di antara bintang-bintang.
Pleione pun melihat anak-anaknya terangkat semakin jauh darinya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak dapat memeluk mereka.
Ketika Anak-Anaknya Menjadi Bintang
Malam tiba.
Pleione berdiri di bumi dan menatap ke atas.
Tujuh putrinya kini bersinar sebagai gugusan bintang yang kemudian dikenal sebagai Pleiades—nama yang juga mengingatkan dunia kepada ibu mereka, Pleione.
Mereka masih bersama.
Itulah satu-satunya hal yang membuat Pleione mampu menerima kehilangan itu.
Dahulu mereka berjalan di sampingnya.
Kini mereka berjalan melintasi langit.
Namun Orion juga mendapat tempat di antara bintang-bintang.
Sang pemburu masih berada di sana, mengejar mereka dalam perjalanan malam.
Pleione tidak mampu menghentikannya.
Tetapi setiap kali Pleiades muncul, ketujuh putrinya tetap bergerak bersama. Orion boleh mengejar, tetapi tidak pernah dapat menangkap mereka.
Dan Pleione tetap memandang.
Ia mulai memahami bahwa menjadi ibu berarti menerima bahwa anak-anaknya memiliki jalan yang tidak selalu dapat ia ikuti.
Ia kehilangan mereka dari bumi.
Namun ia tidak benar-benar kehilangan mereka.
Setiap malam mereka kembali.
Di Bawah Langit yang Dipikul Atlas
Ada satu hal lain yang membuat langit itu terasa semakin berat bagi Pleione.
Atlas, suaminya, telah menerima hukuman setelah perang para Titan. Ia berdiri di ujung dunia, memikul langit agar tetap terpisah dari bumi.
Pleione tidak lagi melihat suaminya berjalan bebas di antara hutan Kyllene.
Ia hanya dapat melihatnya sebagai sosok yang berdiri di batas dunia, memikul beban yang tidak dapat diturunkan.
Dan di atas beban itu, tujuh putri mereka kini bersinar.
Maia.
Electra.
Taygete.
Alcyone.
Celaeno.
Sterope.
Merope.
Pleione melihat suaminya di bawah langit.
Ia melihat anak-anaknya di atas langit.
Dan dirinya sendiri berada di antara keduanya.
Seorang ibu yang berasal dari laut, berdiri di bumi, sementara keluarganya tersebar di seluruh cakrawala.
Namun waktu terus berjalan.
Maia menjadi ibu Hermes setelah dicintai Zeus. Electra melahirkan keturunan yang kelak membawa nama Dardanos menuju tanah Troy. Saudari-saudarinya pun memasuki kisah para dewa dan manusia.
Nama Pleione semakin jarang terdengar di bumi.
Tetapi setiap kali seseorang mengangkat wajahnya pada malam yang cerah, tujuh putrinya masih ada di sana.
Ibu yang Tetap Menunggu
Musim berganti.
Hujan turun.
Laut bergerak mengikuti irama tua yang telah ada sejak zaman Oceanus dan Tethys.
Pleione tetap tinggal di dunia, sementara anak-anaknya mengitari langit.
Kadang-kadang ia berdiri di sebuah lereng tinggi di Kyllene dan menatap gugusan cahaya itu.
Ia mengenali mereka tanpa perlu menghitung.
Yang paling terang.
Yang paling dekat.
Yang sedikit tersembunyi.
Semuanya masih anak-anaknya.
Pada malam ketika angin berembus dari pegunungan, Pleione mendengar suara langkah di belakangnya. Ia menoleh, tetapi tidak ada siapa-siapa.
Hanya hutan.
Ia kembali melihat ke atas.
Tujuh bintang bergerak perlahan melewati langit.
Untuk sesaat, Pleione merasa seperti dahulu—ketika ketujuh putrinya masih berlari mengelilinginya di lereng gunung dan memanggilnya dari kejauhan.
Kemudian ia tersenyum.
Mereka mungkin telah meninggalkan bumi.
Tetapi selama bintang-bintang itu masih menyala, Pleione tahu ke mana harus melihat untuk menemukan anak-anaknya.
Di atas sana, tujuh putrinya terus bergerak bersama.
Dan jauh di belakang mereka, Orion masih mengejar.
Pleione tetap berdiri di bawah langit, menunggu malam berikutnya ketika cahaya ketujuh anaknya kembali muncul di atas dunia.
