Di antara ribuan putri yang lahir dari Oceanus dan Tethys, ada seorang Oceanid yang namanya kelak akan dikenang bersama cahaya paling terang di langit. Namanya Clymene.
Ia tumbuh di wilayah tempat air purba mengelilingi dunia, di antara saudari-saudarinya yang tersebar ke sungai, mata air, dan laut. Clymene membawa sifat khas para Oceanid: dekat dengan air, tetapi tidak terikat pada satu tempat. Ia dapat berada di antara gelombang dan pantai, di tempat cahaya matahari jatuh ke permukaan laut dan memecah menjadi kilauan keemasan.
Di sanalah Helios melihatnya.
Setiap hari sang Matahari melintasi langit dengan kereta apinya, kemudian turun ke batas barat dunia ketika tugasnya selesai. Namun suatu hari, ketika cahaya terakhirnya menyentuh perairan Oceanus, pandangannya tertuju kepada Clymene.
Untuk sesaat, Helios yang membawa cahaya ke seluruh dunia justru terpaku pada seorang putri air.
Clymene tidak mengejarnya.
Ia tidak membutuhkan cahaya Helios untuk bersinar.
Justru ketenangan Clymene di antara air membuat Helios kembali memandang ke arahnya setiap kali keretanya mendekati batas samudra.
Akhirnya, mereka menjadi pasangan.
Dari persatuan antara putri Oceanus dan dewa Matahari itu, lahirlah seorang anak laki-laki.
Namanya Phaethon.
Anak yang Ingin Mengenal Ayahnya
Sejak kecil, Phaethon memiliki sesuatu yang berbeda.
Cahaya Helios seakan tinggal di dalam dirinya. Ia tumbuh dengan perasaan bahwa ada bagian dari dirinya yang belum ia pahami, sebuah warisan yang membuatnya terus menatap ke arah langit.
Clymene membesarkannya dengan kasih seorang ibu, tetapi ada satu kebenaran yang tidak dapat ia sembunyikan selamanya.
Phaethon adalah putra Helios.
Suatu hari, Phaethon pergi ke hadapan ibunya dengan wajah penuh kemarahan. Seseorang telah meragukan darah ilahinya dan menertawakan pengakuannya bahwa Matahari adalah ayahnya.
Clymene melihat luka di mata anaknya.
Ia tidak membalas kemarahan itu dengan kemarahan. Ia hanya menunjuk ke arah timur, tempat cahaya Helios muncul setiap pagi.
"Jika kau ingin mendengar kebenaran dari mulutnya sendiri, pergilah kepadanya."
Phaethon berangkat.
Ia menempuh perjalanan hingga akhirnya tiba di kediaman Helios. Di sana, untuk pertama kalinya, ia berdiri di hadapan ayahnya.
Helios mengenalinya.
Ia memeluk putranya dan bersumpah bahwa Phaethon memang darahnya sendiri. Untuk membuktikannya, Helios bahkan bersumpah dengan sumpah suci para dewa bahwa ia akan memenuhi satu permintaan Phaethon.
Saat itulah keinginan yang selama ini tersembunyi di dalam hati pemuda itu muncul.
Ia ingin mengendarai kereta Matahari.
Helios langsung menyesal telah memberikan sumpahnya.
Ia tahu jalan yang dilalui keretanya bukan tempat bagi seorang pemuda yang belum mampu mengendalikan kuda-kuda api. Namun Phaethon tidak mengubah keinginannya.
Clymene pun ikut memohon.
Ia ingin putranya memperoleh bukti bahwa dirinya memang anak Helios.
Akhirnya, Helios menyerahkan kendali kereta kepadanya.
Dan dari saat itulah takdir mulai bergerak menuju kehancuran.
Kereta yang Keluar dari Jalurnya
Pagi itu, Phaethon naik ke kereta Matahari.
Helios berdiri di belakangnya, menyaksikan putranya memegang kendali. Untuk pertama kalinya, cahaya yang setiap hari melewati langit berada di tangan orang lain.
Kuda-kuda api bergerak.
Kereta melesat.
Namun Phaethon tidak memiliki kekuatan ayahnya.
Ia kehilangan kendali atas jalur kereta. Kereta Matahari naik terlalu tinggi, kemudian turun terlalu dekat dengan bumi. Panasnya membuat tanah mengering dan sungai-sungai menyusut. Wilayah-wilayah yang dilaluinya terbakar oleh cahaya yang terlalu dekat.
Dunia mulai menderita.
Di atas bumi, manusia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Di bawahnya, Clymene hanya dapat menunggu.
Ia tidak melihat anaknya kembali.
Ia tidak dapat mengejar kereta itu.
Ia hanya dapat menatap langit, berharap cahaya yang semakin liar itu berhenti sebelum terlambat.
Tetapi Zeus melihat kehancuran yang terjadi.
Petir dilemparkan.
Kereta itu terhenti.
Phaethon jatuh dari langit dan hidupnya berakhir di sungai Eridanus.
Untuk pertama kalinya sejak dunia mengenal cahaya Matahari, Clymene memandang ke langit dan berharap matahari tidak terbit.
Tangisan Para Heliades
Ketika kabar kematian Phaethon sampai kepada keluarganya, kesedihan tidak hanya jatuh kepada Clymene.
Putri-putri Phaethon, para Heliades, datang ke tempat saudaranya jatuh. Mereka menangisi Phaethon tanpa henti, memanggil namanya dan berharap ia akan bangun kembali.
Tetapi ia tidak menjawab.
Hari berganti.
Malam datang.
Matahari terbit kembali.
Namun tangisan mereka tidak berhenti.
Kesedihan itu akhirnya mengubah mereka. Tubuh para Heliades perlahan menjadi pohon-pohon poplar yang berdiri di tepi air. Air mata mereka terus mengalir dari dahan-dahan, dan menjadi butiran damar yang mengeras menjadi amber.
Clymene menyaksikan perubahan itu.
Satu per satu anak-anaknya tidak lagi berdiri sebagai gadis-gadis yang dahulu ia kenal.
Ia kehilangan Phaethon.
Ia melihat putri-putrinya berubah menjadi pepohonan.
Dan Helios tetap harus kembali menjalankan tugasnya.
Setiap pagi ia membawa Matahari melintasi langit, seolah dunia tidak pernah kehilangan apa pun.
Tetapi bagi Clymene, setiap matahari terbit menjadi pengingat.
Cahaya yang dahulu membuatnya jatuh cinta kepada Helios kini membawa bayangan putranya.
Di Tepi Sungai Eridanus
Clymene akhirnya pergi menuju tempat Phaethon jatuh.
Air sungai mengalir tenang, seakan tidak pernah menyaksikan tragedi yang terjadi di atasnya.
Di tepian sungai, pepohonan poplar berdiri rapat. Angin menggerakkan daun-daunnya dan dari dahan-dahan mereka jatuh butiran bening seperti air mata yang membeku.
Clymene berjalan di antara pepohonan itu.
Tidak ada Phaethon.
Tidak ada kereta api.
Tidak ada suara anaknya memanggil dari kejauhan.
Hanya sungai yang terus mengalir.
Ia berhenti di bawah salah satu pohon dan mengangkat wajahnya ke langit.
Matahari kembali bersinar.
Helios sedang menjalankan jalannya.
Clymene tahu ia tidak dapat membawa Phaethon kembali. Ia juga tahu dunia tidak akan berhenti hanya karena seorang ibu kehilangan anaknya.
Maka ia tetap berdiri di sana.
Seorang Oceanid yang lahir dari air purba, seorang ibu yang pernah melahirkan anak dari cahaya, kini menatap matahari dengan perasaan yang tidak lagi sama.
Di kejauhan, sinar keemasan jatuh ke permukaan Eridanus.
Air memantulkan cahaya itu, sementara pepohonan para Heliades bergoyang perlahan di tepi sungai.
Dan untuk sesaat, Clymene melihat kilatan cahaya di antara dahan-dahan itu.
Seperti seorang anak yang sedang berlari pulang.
Namun ketika ia mengulurkan tangan, yang disentuhnya hanyalah sebutir amber hangat yang jatuh dari daun.
Clymene menggenggamnya erat.
Lalu matahari terus bergerak menuju barat, membawa cahaya Phaethon bersamanya ke ujung dunia.
