Sebelum manusia mengenal warna-warni pelangi sebagai tanda hujan akan berhenti, sebelum para pelaut melihat cahaya berkilau di antara awan setelah badai, Elektra telah lebih dahulu hidup di antara kekuatan-kekuatan tua yang membentuk dunia.
Ia adalah putri Oceanus dan Tethys, lahir dari pasangan purba yang menguasai aliran air yang mengelilingi bumi. Bersama saudara-saudarinya yang tak terhitung jumlahnya, Elektra menjadi salah satu Oceanid, para putri air yang tersebar di antara sungai, mata air, dan wilayah-wilayah laut yang belum disentuh manusia.
Namun Elektra tidak memilih tempat yang tenang.
Nasib membawanya kepada Thaumas, putra Pontus dan Gaia, penguasa keajaiban laut yang hidup di antara batas dunia yang dikenal dan yang belum dikenal. Thaumas memiliki sifat yang berbeda dari Elektra. Ia adalah kekuatan laut yang penuh keajaiban, sementara Elektra membawa ketenangan dan keluasan samudra dari garis keturunannya.
Ketika keduanya bersatu, lahirlah anak-anak yang membawa keajaiban mereka jauh melampaui laut.
Yang pertama adalah Iris.
Yang kedua adalah Arke.
Dan dari dua putri itulah nama Elektra akhirnya menjadi bagian dari langit.
Anak-Anak di Antara Laut dan Langit
Iris tumbuh dengan sifat yang tidak biasa.
Ia bukan makhluk laut seperti ibunya, tetapi juga bukan sekadar dewi yang berjalan di antara manusia. Ia memiliki kemampuan untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan kecepatan cahaya, menjadi pembawa pesan antara para dewa dan dunia fana.
Ketika hujan turun dan matahari kembali menembus awan, Iris akan membentangkan jalurnya di langit.
Pelangi menjadi jembatan yang menghubungkan bumi dengan kediaman para dewa.
Setiap kali Iris menjalankan tugasnya, Elektra dapat melihat jejak putrinya melintasi cakrawala. Dari laut, ia menyaksikan warna-warna yang membentang di langit, seolah dunia sedang mengingatkan dirinya bahwa seorang anak dari Thaumas dan Elektra sedang lewat di antara dua alam.
Namun Iris bukan satu-satunya anak yang lahir dari Elektra.
Ada Arke.
Ia juga memiliki sayap dan kemampuan bergerak cepat di antara langit, tetapi nasib kedua saudari itu tidak berjalan menuju tempat yang sama.
Arke memilih jalan yang berbeda.
Dua Saudari di Langit
Pada awalnya, Iris dan Arke memiliki tempat di antara para dewa.
Keduanya menjadi pembawa pesan dan pelayan bagi kekuatan-kekuatan yang berkuasa di langit. Mereka bergerak di antara dunia para dewa dengan sayap mereka, membawa perintah dari satu tempat ke tempat lain.
Namun kemudian datanglah perang yang akan mengubah dunia.
Para Titan bangkit melawan Zeus dan para dewa baru.
Langit dipenuhi suara pertempuran.
Di satu sisi berdiri Zeus bersama para Olympian. Di sisi lain, para Titan mempertahankan kekuasaan lama mereka.
Arke memilih pihak yang kalah.
Ia meninggalkan para Olympian dan memberikan dukungannya kepada para Titan.
Ketika perang berakhir dan Zeus menjadi penguasa baru, pengkhianatan Arke tidak dilupakan.
Zeus mencabut sayapnya.
Kemudian ia menghukumnya dengan cara yang membuat nama Arke tetap terikat pada kekalahan para Titan.
Iris tetap berada di pihak para Olympian.
Dan sejak saat itu, kedua saudari yang dahulu terbang bersama tidak lagi memiliki tempat yang sama.
Bagi Elektra, kemenangan Zeus tidak membawa kegembiraan sepenuhnya.
Ia masih memiliki Iris.
Tetapi Arke telah jatuh.
Ibu yang Kehilangan Seorang Putri
Tidak ada laut yang cukup luas untuk memisahkan seorang ibu dari kesedihan atas anaknya.
Elektra telah mengenal dunia jauh sebelum para Olympian menguasai langit. Ia telah melihat kekuatan-kekuatan purba bangkit dan berganti. Namun kehilangan Arke membuat masa lalu terasa dekat kembali.
Putrinya yang dahulu memiliki sayap kini telah kehilangan kebebasannya.
Sementara Iris terus menjalankan tugasnya di sisi Zeus.
Keduanya menjadi dua jalan yang berlawanan.
Satu menjadi utusan para dewa yang menang.
Satu lagi dikenang karena berdiri bersama mereka yang kalah.
Dan Elektra berdiri di antara keduanya sebagai ibu.
Ia tidak dapat mengubah pilihan Arke.
Ia tidak dapat menghapus hukuman Zeus.
Ia hanya dapat menyaksikan bagaimana kedua putrinya membawa warisan yang sama menuju takdir yang berbeda.
Dari Laut ke Langit
Namun nama Elektra tidak berakhir bersama kesedihan itu.
Darah Oceanus dan Tethys mengalir dalam dirinya, sementara keajaiban Thaumas mengalir melalui anak-anaknya. Dari pertemuan keduanya lahirlah makhluk-makhluk yang membuat batas antara laut dan langit menjadi semakin tipis.
Iris menjadi pelangi dan pembawa pesan.
Arke menjadi bayangan dari sebuah zaman yang telah kalah.
Dan Elektra tetap berada di belakang keduanya, sebagai ibu yang berasal dari air purba tetapi melahirkan anak-anak yang akhirnya menjadi bagian dari langit.
Ketika badai telah berlalu dan cahaya matahari muncul dari balik awan, sebuah lengkungan warna akan muncul di kejauhan.
Iris sedang melintas.
Di bawahnya, laut tetap bergerak seperti sejak zaman Oceanus dan Tethys.
Elektra masih ada di sana, tersembunyi di antara putri-putri air yang tak terhitung jumlahnya, menyaksikan putrinya membentangkan jalan berwarna di atas dunia.
Tetapi di balik pelangi itu, ada pula kisah tentang seorang saudari yang pernah terbang bersamanya.
Arke.
Dan untuk sesaat, ketika cahaya mulai memudar dari langit, Elektra seakan melihat dua bayangan sayap di balik warna-warna Iris—dua putri yang dahulu terbang bersama sebelum perang para dewa memisahkan mereka untuk selamanya.
