Aethra — Sang Ibu Para Bintang Hujan

   
Aethra — Sang Ibu Para Bintang Hujan

Aethra — Sang Ibu Para Bintang Hujan

Di antara ribuan putri Oceanus dan Tethys, Aethra tumbuh sebagai salah satu Oceanid yang membawa nama dengan arti langit yang jernih dan terang.

Ia adalah putri dari air purba, tetapi namanya justru mengingatkan pada sesuatu yang berada jauh di atas air: cakrawala yang bersih setelah hujan, ketika awan menyingkir dan cahaya kembali memenuhi dunia.

Aethra tidak hidup dalam ketenangan untuk selamanya.

Takdir membawanya kepada Atlas.

Pada masa ketika Atlas masih dapat berjalan bebas di bumi, Titan itu mendekati Aethra dan menjadikannya pasangan. Mereka hidup di antara wilayah-wilayah yang masih liar, jauh dari kerajaan manusia dan sebelum beban langit berada di pundak Atlas.

Dari hubungan mereka lahirlah seorang putra bernama Hyas.

Kemudian lahirlah para putri yang kelak dikenal sebagai Hyades.

Mereka adalah anak-anak yang dekat dengan hujan dan perubahan langit, seolah warisan Aethra sebagai Oceanid berpadu dengan kekuatan Atlas yang luas dan tua. Dalam kisah yang diwariskan melalui nama-nama mereka, Hyades menjadi para nimfa yang kehadirannya berkaitan dengan datangnya hujan.

Aethra tidak pernah menyangka bahwa anak-anaknya kelak akan menjadi bagian dari langit yang jauh dari bumi.

Hyas, Putra yang Dicintai

Di antara anak-anak Aethra dan Atlas, Hyas adalah yang pertama.

Ia tumbuh sebagai pemuda yang mencintai alam liar. Ia berjalan di antara padang dan hutan, mengenal jejak binatang dan terbiasa menghadapi bahaya yang tidak pernah dapat dipisahkan dari kehidupan seorang pemburu.

Aethra sering mengkhawatirkannya.

Sebagai seorang ibu, ia mengetahui bahwa keberanian seorang anak dapat dengan mudah berubah menjadi kecerobohan. Tetapi Hyas selalu kembali dengan selamat, sampai suatu hari ia pergi terlalu jauh.

Di sebuah wilayah liar, Hyas menemukan jejak seekor singa betina.

Binatang itu memiliki anak-anak.

Hyas mendekati sarang tersebut.

Aethra tidak berada di sana untuk menghentikannya.

Sang singa menyerang.

Dalam sekejap, kehidupan putranya berakhir.

Kabar kematian Hyas menghantam Aethra seperti badai yang datang tanpa peringatan.

Ia memanggil namanya.

Tidak ada jawaban.

Ia menunggu langkah kaki yang tidak pernah terdengar lagi.

Atlas pun berduka. Saudari-saudari Hyas menangisinya, dan kesedihan mereka begitu dalam hingga tidak ada seorang pun yang mampu mengembalikan kehidupan yang telah hilang. Kisah kematian Hyas menjadi alasan duka yang kemudian mengikat keluarganya dengan gugusan bintang di langit.

Namun bagi Aethra, Hyas bukan sekadar nama di antara bintang.

Ia tetap anaknya.

Tangisan yang Menjadi Hujan

Kesedihan para putri Aethra tidak pernah berhenti.

Mereka menangisi Hyas siang dan malam.

Aethra sendiri ikut merasakan kehilangan itu, sementara Atlas yang biasanya begitu kuat juga tidak mampu menyembunyikan dukanya.

Langit melihat mereka.

Bumi melihat mereka.

Kemudian satu demi satu, para putri itu diangkat dari dunia dan ditempatkan di antara bintang-bintang.

Mereka menjadi Hyades.

Gugusan yang akan muncul di langit dan dikenal sebagai pertanda hujan.

Setiap kali mereka tampak, seakan langit mengingat kembali tangisan mereka untuk Hyas. Air mata yang dahulu jatuh dari wajah para saudari berubah menjadi hujan yang turun ke bumi.

Aethra menatap ke atas.

Anak-anaknya kini berada jauh di sana.

Ia kehilangan seorang putra dan memperoleh keluarga yang hidup di antara bintang.

Namun kehilangan itu belum selesai.

Ibu yang Menatap Langit

Waktu terus berjalan.

Atlas kemudian menerima beban besar yang mengubah hidupnya selamanya. Ia harus berdiri di batas dunia dan menyangga langit di pundaknya.

Aethra menyaksikan suaminya menjadi sosok yang tidak lagi bebas berjalan di bumi.

Di atasnya, anak-anak mereka bersinar.

Hyades.

Bintang-bintang yang membawa nama keluarga mereka ke seluruh penjuru dunia.

Setiap kali hujan turun, Aethra mengingat Hyas.

Ia membayangkan putranya masih berjalan di hutan, masih mengejar jejak binatang, masih kembali kepadanya ketika matahari mulai tenggelam.

Tetapi suara itu tidak pernah kembali.

Yang tersisa hanyalah suara hujan.

Tetes demi tetes jatuh ke tanah.

Aethra mulai memahami bahwa kesedihan anak-anaknya telah menjadi bagian dari dunia. Hujan yang membasahi ladang dan hutan bukan hanya air dari langit; bagi dirinya, setiap tetes membawa kenangan tentang seorang putra yang tidak pernah pulang.

Di Bawah Gugusan Hyades

Pada suatu malam, Aethra berdiri sendirian di sebuah dataran tinggi.

Langit cerah.

Atlas tampak jauh di cakrawala, masih memikul beban yang diberikan kepadanya. Di atas langit, gugusan Hyades mulai muncul.

Aethra mengenali mereka.

Anak-anaknya.

Ia mengangkat wajah dan membiarkan cahaya bintang menyentuh matanya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak menangis.

Ia hanya memandang.

Kemudian awan perlahan bergerak menutupi bintang-bintang itu.

Hujan mulai turun.

Aethra tetap berdiri di tempatnya.

Tetes pertama jatuh ke tangannya.

Lalu yang kedua.

Dan yang ketiga.

Ia menggenggam tangannya perlahan, seakan sedang menggenggam tangan seorang anak yang telah lama hilang.

Di atas sana, Hyades terus berjalan melintasi malam.

Dan di bawah mereka, Aethra tetap menunggu—seorang Oceanid yang pernah kehilangan putranya, tetapi menemukan bahwa cinta seorang ibu dapat bertahan bahkan setelah anaknya berubah menjadi cahaya di langit.

Hujan turun semakin deras.

Aethra menatap ke atas sekali lagi.

Untuk sesaat, di antara celah awan, ia melihat bintang-bintang itu kembali bersinar.

Dan malam pun menyimpan mereka semua.

Last update
Add Comment