Leto — Ibu dari Cahaya dan Bulan

   
Leto — Ibu dari Cahaya dan Bulan

Leto — Ibu dari Cahaya dan Bulan

Jauh sebelum Apollo membawa cahaya ke dunia dan Artemis berjalan di bawah sinar bulan, Leto telah hidup di antara para Titan.

Ia adalah putri Coeus dan Phoebe, dan saudari Asteria. Dari garis keturunan tua itu, Leto mewarisi ketenangan yang tidak mudah diguncangkan. Ia bukan sosok yang mencari kekuasaan, bukan pula Titan yang berdiri di tengah peperangan. Leto lebih suka berjalan dalam keheningan, mengamati dunia yang berubah di sekelilingnya.

Namun ketenangan itu berubah ketika Zeus datang kepadanya.

Dari hubungan mereka lahirlah dua anak yang kelak menjadi kekuatan besar di dunia para dewa: Apollo dan Artemis.

Kelahiran mereka seharusnya menjadi kebahagiaan.

Tetapi Hera mengetahui kehamilan Leto.

Dan sejak saat itu, perjalanan seorang ibu menuju tempat kelahiran anak-anaknya berubah menjadi pelarian panjang.

Ketika Seluruh Dunia Menutup Pintu

Leto berjalan dari satu tempat ke tempat lain dengan kandungan yang semakin berat.

Ia membutuhkan tempat untuk melahirkan.

Tetapi ketakutan terhadap Hera telah menyebar lebih cepat darinya. Tanah-tanah yang sebelumnya terbuka kini seakan menutup diri. Tidak ada yang berani memberikan tempat kepada Leto.

Ia terus berjalan.

Tubuhnya lelah, tetapi ia tidak berhenti.

Di dalam dirinya, dua kehidupan terus tumbuh.

Leto akhirnya mencapai sebuah pulau yang tidak seperti daratan lainnya.

Delos.

Pulau itu belum memiliki kedudukan seperti yang kelak dikenalnya. Ia adalah tanah yang terpisah dari dunia, dan di sanalah Leto akhirnya menemukan tempat untuk melahirkan.

Leto berhenti di sana.

Untuk pertama kalinya setelah perjalanan panjang, ia dapat menarik napas tanpa harus kembali berjalan.

Namun penderitaannya belum selesai.

Di Bawah Pohon Palem

Hari kelahiran tiba.

Leto berpegangan pada pohon palem yang tumbuh di Delos ketika rasa sakit semakin kuat. Para dewa berada jauh, dan dunia seakan menahan napas.

Akhirnya, seorang anak perempuan lahir.

Artemis.

Putri yang kelak menjadi penguasa hutan, pemburu, dan pelindung banyak makhluk muda itu datang ke dunia terlebih dahulu.

Tetapi Leto belum dapat beristirahat.

Masih ada satu anak yang belum lahir.

Apollo.

Waktu berlalu, tetapi kelahiran Apollo tidak kunjung tiba. Kesulitan itu semakin berat ketika Hera menahan Eileithyia, dewi persalinan, sehingga Leto harus bertahan lebih lama dalam penderitaannya. Artemis kemudian membantu kelahiran saudara kembarnya.

Akhirnya, Apollo lahir.

Pada saat itu, Delos berubah.

Cahaya seakan memenuhi pulau.

Dua anak telah lahir.

Dua kekuatan baru telah memasuki dunia.

Leto memandang keduanya.

Artemis berada di sisinya.

Apollo berada dalam pelukannya.

Setelah perjalanan yang begitu panjang, akhirnya tidak ada lagi yang dapat mengambil mereka darinya.

Ibu yang Menjadi Kekuatan

Leto kemudian dikenal bukan hanya karena menjadi ibu dua dewa besar.

Ia menjadi sosok yang sangat dihormati karena ketenangannya, tetapi siapa pun yang merendahkannya akan segera mengetahui bahwa kesabaran seorang ibu memiliki batas.

Leto pernah mengembara di Lycia bersama kedua anaknya. Ketika ia mendatangi sebuah sumber air dan meminta sedikit air untuk diminum, para penduduk setempat menghalanginya. Mereka mengusik air hingga menjadi keruh dan menolak membiarkan Leto mengambilnya.

Leto tidak melupakan penghinaan itu.

Ia mengangkat tangannya.

Mereka yang telah menghalanginya berubah menjadi katak, dan sejak saat itu mereka hidup di dalam air yang dahulu mereka kotori sendiri.

Leto kemudian melanjutkan perjalanannya.

Ia tidak membutuhkan kekerasan untuk menunjukkan kekuatannya.

Satu keputusan sudah cukup.

Tityos

Namun ancaman yang lebih besar datang ketika Leto melakukan perjalanan menuju Delphi.

Di sana, raksasa Tityos melihatnya.

Ia mencoba menyerang Leto.

Tetapi sebelum bahaya itu benar-benar mencapai dirinya, Apollo dan Artemis datang.

Kedua anak Leto tidak membiarkan siapa pun menyentuh ibu mereka.

Tityos akhirnya dijatuhkan oleh mereka dan menerima hukuman di dunia bawah.

Leto menyaksikan anak-anaknya berdiri di sisinya.

Dahulu ia adalah ibu yang berlari dari satu tempat ke tempat lain untuk menyelamatkan mereka.

Kini mereka telah tumbuh menjadi pelindungnya.

Untuk pertama kalinya, dunia melihat bahwa anak-anak Leto tidak hanya mewarisi kekuatan para dewa.

Mereka juga mewarisi kasih kepada ibu mereka.

Ketika Niobe Menghina Sang Ibu

Namun kebanggaan seorang ibu tidak selalu dipahami oleh manusia.

Di Thebes tinggal Niobe, istri Amphion dan seorang perempuan yang memiliki banyak anak. Ia bangga terhadap keturunannya dan mulai membandingkan dirinya dengan Leto.

Leto hanya memiliki dua anak.

Niobe memiliki jauh lebih banyak.

Ia menganggap jumlah itu sebagai alasan untuk menempatkan dirinya di atas Leto. Ucapannya akhirnya berubah menjadi penghinaan terhadap sang dewi dan kedua anaknya.

Leto mendengar semuanya.

Ia tidak datang ke Thebes dengan pasukan.

Ia tidak perlu.

Ia hanya memandang kepada Apollo dan Artemis.

Kedua anaknya memahami apa yang harus dilakukan.

Apollo mengambil busurnya.

Artemis melakukan hal yang sama.

Tidak lama kemudian, rumah Niobe dipenuhi kesedihan. Anak-anaknya jatuh satu demi satu, dibunuh oleh Apollo dan Artemis sebagai hukuman atas kesombongan ibunya.

Niobe akhirnya kehilangan apa yang dahulu paling ia banggakan.

Ia pergi menuju Gunung Sipylus.

Di sana, tubuhnya berubah menjadi batu.

Namun kesedihannya tidak berhenti. Air terus mengalir dari batu itu seperti air mata yang tidak pernah selesai.

Leto tidak mengejarnya.

Ia membiarkan kesunyian mengambil alih tempat itu.

Karena bagi Leto, penghinaan terhadap seorang ibu bukan sesuatu yang dapat dilupakan begitu saja.

Di Pulau yang Menjadi Rumah

Tahun-tahun berlalu.

Apollo tumbuh menjadi dewa cahaya, musik, ramalan, dan banyak seni yang menghubungkan manusia dengan para dewa.

Artemis tumbuh menjadi dewi alam liar dan perburuan, berjalan bebas di antara hutan dan gunung.

Keduanya berbeda.

Namun ketika mereka kembali kepada Leto, mereka tetap menjadi dua anak yang dahulu lahir di Delos.

Pulau tempat ibu mereka pernah berjuang sendirian.

Pulau yang kemudian menjadi tempat suci Apollo.

Leto tidak lagi harus berlari.

Ia telah melewati masa ketika dunia menutup pintu untuknya. Ia telah melahirkan dua anak yang kelak akan membuat nama mereka dikenal di seluruh dunia.

Tetapi di dalam dirinya, Leto tetap menjadi ibu yang sama.

Ia masih mengingat hari ketika ia tiba di Delos dalam keadaan lelah.

Ia masih mengingat pohon palem tempat ia berpegangan.

Ia masih mengingat suara pertama Artemis.

Dan kemudian suara Apollo.

Dua suara yang membuat perjalanan panjangnya akhirnya memiliki tujuan.

Cahaya yang Tetap Menyala

Pada suatu senja, Leto berdiri di tepi laut Delos.

Matahari mulai turun.

Di kejauhan, permukaan laut memantulkan cahaya keemasan.

Apollo telah pergi menjalankan jalannya.

Artemis menunggu malam datang.

Leto berdiri sendirian di antara keduanya—di antara cahaya yang pergi dan malam yang akan tiba.

Ia memandang ke langit.

Satu hari lagi telah berlalu.

Tidak ada lagi langkah pengejaran.

Tidak ada lagi tanah yang menolak memberinya tempat.

Tidak ada lagi ketakutan bahwa anak-anaknya tidak akan lahir.

Hanya laut.

Angin.

Dan langit yang luas.

Leto kemudian berjalan meninggalkan pantai.

Di belakangnya, cahaya terakhir matahari menghilang dari permukaan laut.

Tak lama kemudian, bulan mulai naik.

Artemis telah datang.

Dan di bawah cahaya malam itu, Delos kembali sunyi—tempat seorang ibu pernah datang sebagai pelarian, lalu meninggalkannya sebagai ibu dari dua dewa yang akan menerangi dunia dengan cara mereka masing-masing.

Last update
Add Comment