Asteria — Dewi yang Menjadi Pulau

   
Asteria — Dewi yang Menjadi Pulau

Asteria — Dewi yang Menjadi Pulau

Sebelum malam memiliki tempatnya sendiri di langit, Asteria telah berjalan di antara para Titan.

Ia adalah putri Coeus dan Phoebe, adik Leto, dan bagian dari generasi yang lahir dari kekuatan-kekuatan tua yang membentuk dunia. Dari keluarganya, Asteria mewarisi hubungan dengan langit dan cahaya malam, tetapi ia tidak pernah mencari tempat di antara para penguasa.

Ia lebih dekat kepada malam.

Bukan malam yang menakutkan, melainkan malam yang membuat dunia menjadi tenang. Malam ketika manusia melihat bintang-bintang, menyalakan lampu, dan mulai mempercayai firasat yang tidak dapat mereka jelaskan.

Asteria dikenal sebagai dewi bintang-bintang dan mimpi yang datang pada malam hari.

Namun kehidupan Asteria tidak selamanya berada dalam kesunyian malam.

Pada suatu masa, ia bertemu dengan Perses, putra Crius dan Eurybia. Perses adalah seorang Titan yang membawa kekuatan besar dalam dirinya, tetapi berbeda dari para Titan yang mengejar takhta dan kekuasaan. Hubungan mereka kemudian melahirkan seorang putri.

Namanya Hekate.

Hekate tumbuh sebagai anak yang berbeda dari kebanyakan keturunan para Titan. Ia dekat dengan malam, tempat-tempat sunyi, persimpangan, dan batas-batas yang memisahkan satu dunia dari dunia lainnya. Dari ibunya, ia mewarisi hubungan dengan kegelapan malam dan rahasia yang tersembunyi di dalamnya.

Asteria menyaksikan putrinya tumbuh.

Untuk sementara, hidupnya terasa cukup.

Ia memiliki keluarga.

Ia memiliki malam.

Dan ia memiliki kebebasan.

Namun kemudian Zeus melihatnya.

Ketika Zeus Mengejar

Zeus telah menjadi penguasa Olympus.

Kekuasaannya semakin besar, dan kehendaknya sulit ditolak oleh siapa pun. Ketika matanya tertuju kepada Asteria, sang dewi mengetahui bahwa ia tidak ingin menjadi bagian dari istana Zeus.

Ia tidak ingin hidup di bawah kehendak penguasa langit.

Maka Asteria melarikan diri.

Ia meninggalkan tempat-tempat yang dikenalnya dan terus mencari jalan untuk menghilangkan jejak. Zeus mengejarnya tanpa berhenti, sementara Asteria menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk melarikan diri.

Ia mengubah dirinya menjadi seekor burung puyuh.

Dengan tubuh kecil itu, ia mencoba meloloskan diri melewati laut.

Tetapi Zeus tetap mengejarnya.

Asteria akhirnya menyadari bahwa tidak ada tempat di bumi yang cukup jauh untuk menyembunyikannya.

Maka ia memilih jalan terakhir.

Ia menjatuhkan dirinya ke laut.

Ketika tubuhnya menyentuh air, dunia berubah.

Tanah muncul dari kedalaman.

Sebuah pulau terbentuk di tengah laut.

Asteria tidak lagi menjadi perempuan yang dapat dikejar.

Ia menjadi tanah.

Pulau itu kemudian dikenal dengan namanya.

Asteria.

Di sana, untuk pertama kalinya, pengejaran Zeus berakhir.

Namun Asteria belum tahu bahwa pulau yang lahir dari pelariannya kelak akan menjadi salah satu tempat paling penting dalam kisah para dewa.

Pulau yang Menunggu Leto

Waktu berlalu.

Asteria telah menjadi pulau, tetapi dunia para dewa terus bergerak.

Kemudian datanglah Leto.

Saudari Asteria sedang mengandung anak-anak Zeus dan diburu oleh Hera. Tidak ada tanah yang berani memberinya tempat untuk melahirkan karena takut kepada ratu Olympus.

Leto berjalan semakin jauh.

Tubuhnya semakin berat.

Kekuatan yang tersisa dalam dirinya semakin sedikit.

Sampai akhirnya ia tiba di pulau milik saudarinya.

Asteria tidak dapat berbicara.

Ia tidak dapat menyambut Leto seperti seorang saudari yang masih memiliki tubuh.

Namun ia dapat memberikan apa yang tidak diberikan oleh tempat-tempat lain.

Tempat berlindung.

Leto berhenti di sana.

Untuk pertama kalinya setelah perjalanan panjang, ia menemukan tanah yang bersedia menerimanya.

Di bawah sebuah pohon palem, kelahiran dimulai.

Artemis lahir terlebih dahulu.

Kemudian Apollo.

Dua anak yang kelak akan menjadi salah satu pasangan dewa paling terkenal di Olympus akhirnya membuka mata mereka di atas tubuh Asteria.

Pulau yang dahulu lahir dari pelarian kini menjadi tempat kelahiran.

Dan tanpa pernah memilihnya, Asteria telah menjadi bagian dari kelahiran dua kekuatan besar dunia para dewa.

Delos, Pulau yang Bersinar

Setelah kelahiran Apollo, pulau itu tidak lagi menjadi tempat terpencil seperti sebelumnya.

Nama Asteria perlahan digantikan oleh nama Delos.

Pulau yang bersinar.

Apollo kemudian menjadikan Delos sebagai salah satu tempat sucinya. Para pemuja datang melalui laut untuk menghormati dewa yang lahir di sana, sementara nama pulau itu semakin dikenal di antara manusia dan para dewa.

Namun di balik kuil-kuil yang kelak berdiri di atasnya, masih ada kisah yang jauh lebih tua.

Tanah itu pernah menjadi Asteria.

Ia pernah menjadi seorang dewi yang melarikan diri dari Zeus.

Ia pernah memiliki seorang putri bernama Hekate.

Dan ia pernah menjadi tempat yang menyelamatkan saudarinya sendiri.

Asteria telah kehilangan tubuhnya, tetapi tidak kehilangan keluarganya.

Jauh di dunia para dewa, Hekate terus menjalani jalannya sendiri. Ia tumbuh menjadi dewi yang menguasai malam, sihir, persimpangan jalan, dan batas antara dunia. Setiap kali Hekate berdiri di antara dua jalan atau muncul ketika malam semakin dalam, ada sesuatu dari ibunya yang terasa masih hidup dalam dirinya.

Asteria mungkin telah menjadi pulau.

Tetapi darah dan warisannya tetap berjalan melalui Hekate.

Malam di Atas Delos

Suatu malam, ketika Delos telah menjadi tempat suci Apollo, ombak bergerak perlahan di sekitar pantainya.

Bintang-bintang memenuhi langit.

Di antara cahaya mereka, Asteria seakan masih mengingat kehidupan lamanya.

Dahulu ia adalah putri Coeus dan Phoebe.

Ia adalah saudari Leto.

Ia adalah ibu Hekate.

Kemudian ia menjadi burung yang melarikan diri dari Zeus.

Dan akhirnya menjadi pulau.

Angin malam melewati pepohonan yang tumbuh di atas tanahnya. Cahaya bulan jatuh di antara batu-batu kuil, sementara suara laut terdengar dari kejauhan.

Asteria tidak lagi takut.

Pengejaran telah lama berakhir.

Zeus tidak lagi mengejarnya.

Leto telah menemukan tempat untuk melahirkan.

Apollo telah tumbuh menjadi dewa besar.

Artemis telah menemukan jalannya sendiri.

Dan Hekate, putrinya, terus berjalan di bawah langit malam yang dahulu menjadi tempat Asteria merasa paling dekat dengan dirinya sendiri.

Di kejauhan, cahaya bintang jatuh ke permukaan laut.

Untuk sesaat, Delos tampak bercahaya dari dalam.

Seolah Asteria masih ada di sana.

Bukan sebagai perempuan yang berlari dari seorang dewa.

Bukan sebagai seorang ibu yang kehilangan dirinya.

Melainkan sebagai pulau yang memilih untuk tetap bertahan.

Dan ketika malam semakin dalam, bintang-bintang terus bersinar di atas Delos, sementara laut menjaga rahasia tentang seorang dewi yang pernah melarikan diri dari langit—lalu berubah menjadi tanah agar tidak pernah ditemukan lagi.

Last update
Add Comment