Di kedalaman Tartarus, waktu tidak berjalan seperti di dunia atas.
Tidak ada matahari yang terbit. Tidak ada malam yang datang untuk menggantikannya. Hanya batu hitam, udara yang berat, dan suara rantai yang sesekali bergema jauh di dalam kegelapan. Di tempat itulah Gyges telah menghabiskan masa yang begitu panjang hingga ia sendiri tak lagi tahu apakah ia masih mengingat dunia di luar sana, atau hanya mengingat bayangannya.
Ia bukan makhluk yang mudah dilupakan.
Tubuhnya adalah tubuh seorang raksasa, jauh melampaui ukuran manusia maupun para dewa yang kemudian menguasai Olympus. Dari tubuhnya tumbuh seratus tangan, begitu banyak hingga dalam kegelapan Tartarus kadang terdengar gerakan mereka seperti suara hujan yang jatuh di atas batu. Lima puluh kepala berada di atas tubuhnya, dan masing-masing membawa tatapan, pikiran, serta kemarahan yang sama.
Gyges adalah salah satu dari Hecatoncheires, anak-anak Gaia dan Uranus, bersama Briareus dan Cottus.
Namun bagi Uranus, mereka bukan anak-anak yang patut dibanggakan.
Mereka adalah sesuatu yang membuatnya takut.
Anak-Anak yang Dikubur oleh Langit
Ketika Gaia melahirkan para Hecatoncheires, bumi sendiri seakan menanggung beban baru. Gyges tumbuh bersama kedua saudaranya sebagai makhluk yang tidak dapat disamakan dengan para Titan. Tubuh mereka terlalu besar, kekuatan mereka terlalu liar, dan seratus tangan mereka membuat keberadaan mereka terasa seperti ancaman bagi siapa pun yang berdiri di hadapan mereka.
Uranus melihat ketiga anak itu dan tidak melihat keluarga.
Ia melihat kemungkinan bahwa suatu hari mereka akan menjadi kekuatan yang bahkan tidak dapat dikendalikannya.
Maka mereka disingkirkan.
Tanpa pertarungan. Tanpa kesempatan untuk membela diri.
Ketiga bersaudara itu dilemparkan ke Tartarus dan dikurung jauh di bawah dunia. Pintu-pintu kegelapan menutup di belakang mereka, meninggalkan Gaia di dunia atas sementara anak-anaknya terperangkap dalam tempat yang hampir tidak mengenal cahaya.
Gyges tidak menerima nasib itu dengan tenang.
Setiap kali rantai mengikat tubuhnya, tangannya menariknya. Ketika satu tangan gagal, tangan lain mencoba. Ketika kekuatan tidak cukup, puluhan tangan bergerak bersama. Batu-batu di sekitar mereka retak, tetapi penjara itu tetap berdiri.
Cottus mengamuk.
Briareus melawan.
Gyges terus mencoba.
Bukan karena ia percaya pintu itu akan terbuka hari itu. Bahkan bukan karena ia yakin akan pernah keluar. Ia hanya tidak tahu bagaimana caranya menyerah.
Bertahun-tahun berlalu. Lalu berabad-abad.
Dan di dunia atas, kekuasaan berganti tangan.
Uranus jatuh. Para Titan bangkit. Cronus mengambil takhta dan kemudian mendengar ramalan bahwa anaknya sendiri akan menjatuhkannya. Ia menelan ketakutannya bersama anak-anaknya, sementara perang antara generasi tua dan generasi baru perlahan mendekat.
Namun jauh di bawah mereka, Gyges dan saudara-saudaranya masih menunggu.
Mereka tidak tahu bahwa suatu hari suara langkah akan datang ke Tartarus.
Pintu yang Terbuka
Ketika Zeus bangkit melawan Cronus dan para Titan, ia segera memahami bahwa kekuatan para dewa muda saja belum cukup untuk memenangkan perang.
Maka ia turun ke tempat yang bahkan para Titan enggan datangi.
Tartarus.
Kegelapan menyambutnya seperti jurang yang hidup. Di sanalah Zeus menemukan para Hecatoncheires, masih terkurung sebagaimana mereka telah dikurung sejak masa Uranus.
Gyges memandang sang dewa muda dari balik kegelapan.
Zeus tidak datang membawa rantai.
Ia datang membawa pembebasan.
Untuk pertama kalinya setelah waktu yang tak terhitung, pintu penjara terbuka.
Gyges tidak langsung bergerak.
Ia hanya berdiri.
Seratus tangannya menggantung di sisinya, sementara lima puluh kepalanya menatap Zeus dari berbagai arah. Ia telah mendengar begitu banyak janji selama hidupnya, meskipun sebagian besar hanya datang dari gema dan kenangan. Tetapi kali ini rantai-rantai itu benar-benar jatuh.
Cottus melangkah keluar lebih dahulu. Briareus menyusul.
Kemudian Gyges mengangkat tangannya.
Satu demi satu.
Puluhan.
Lalu seluruhnya.
Ia merasakan udara dunia atas menyentuh kulitnya lagi.
Untuk pertama kalinya, Gyges bebas.
Tetapi kebebasan itu datang bersama sebuah pilihan.
Zeus membutuhkan mereka untuk berperang.
Gyges tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab.
Seratus Tangan di Medan Perang
Titanomachy berlangsung seperti bencana yang melampaui kekuatan manusia untuk membayangkannya.
Gunung-gunung berguncang. Laut bergolak. Langit dipenuhi petir dan api. Para Titan berdiri dengan kekuatan yang telah mereka miliki sejak dunia masih muda, sementara Zeus dan para dewa muda bertarung untuk merebut masa depan.
Lalu Hecatoncheires memasuki perang.
Gyges menemukan bahwa kekuatan yang dahulu membuat Uranus takut ternyata memiliki tempatnya sendiri.
Seratus tangannya bergerak tanpa henti.
Ia dapat mengangkat batu-batu besar sekaligus. Ia dapat meraih senjata yang jatuh sebelum menyentuh tanah. Ketika sebuah celah terbuka di barisan para Titan, tangannya yang tak terhitung jumlahnya mengisinya. Ketika satu serangan datang dari satu arah, tubuhnya dapat menghadapi banyak arah sekaligus.
Namun bukan sekadar jumlah tangan yang membuat Gyges mengerikan di medan perang.
Ia telah menghabiskan masa yang panjang di dalam penjara.
Ia tahu bagaimana rasanya terdesak.
Ia tahu bagaimana rasanya melawan sesuatu yang jauh lebih kuat darinya.
Dan ia tidak takut lagi.
Batu-batu besar beterbangan dari tangannya menuju barisan para Titan. Di sampingnya, Briareus dan Cottus bertarung dengan kekuatan mereka sendiri. Bersama-sama mereka menjadi gelombang kehancuran yang sulit dihentikan.
Untuk pertama kalinya, para Titan yang selama bertahun-tahun memerintah dunia menghadapi makhluk-makhluk yang tidak dapat mereka takuti hanya dengan kekuasaan.
Gyges bertarung bukan demi takhta.
Ia bertarung demi hak untuk tetap berdiri.
Setiap batu yang dilemparkannya terasa seperti jawaban terhadap tahun-tahun yang pernah dihabiskannya dalam kegelapan. Setiap langkahnya adalah penolakan terhadap nasib yang dahulu dipaksakan kepadanya.
Dan perang akhirnya berbalik.
Para Titan dikalahkan.
Cronus jatuh.
Kekuasaan dunia berpindah kepada Zeus dan generasi para dewa baru.
Namun bagi Gyges, perang belum sepenuhnya berakhir.
Penjaga di Ujung Dunia
Setelah kemenangan Zeus, para Titan yang kalah dikurung di Tartarus.
Tempat yang dahulu menjadi penjara Gyges kembali menjadi tempat penahanan.
Tetapi kali ini ia tidak masuk ke sana sebagai tawanan.
Ia masuk sebagai penjaga.
Nasib memiliki cara yang aneh untuk mengubah sebuah tempat tanpa mengubah bentuknya. Batu-batu yang dahulu mengurung Gyges kini berdiri di belakangnya. Pintu yang pernah menutup dirinya kini menjadi pintu yang harus ia jaga agar tidak terbuka bagi mereka yang dikalahkan.
Ia tahu jalan-jalan gelap Tartarus lebih baik daripada hampir semua makhluk lain.
Ia tahu bagaimana suara rantai terdengar dari kejauhan. Ia tahu bagaimana kegelapan menyembunyikan celah-celah kecil. Ia tahu bahwa penjara bukan hanya soal dinding dan pintu, tetapi juga tentang kesabaran.
Maka Gyges berdiri di sana.
Bukan sebagai tawanan.
Sebagai penjaga.
Seratus tangannya yang dahulu menarik rantai kini siap menahan siapa pun yang mencoba melarikan diri. Lima puluh kepalanya mengawasi kegelapan dari berbagai arah. Tidak banyak yang dapat bergerak di Tartarus tanpa diketahui olehnya.
Dan mungkin itulah kemenangan Gyges yang sebenarnya.
Uranus pernah melihatnya sebagai makhluk yang harus disembunyikan.
Tartarus pernah menjadi tempat yang dimaksudkan untuk menghapus kebebasannya.
Tetapi ketika dunia berubah, Gyges kembali ke tempat itu dengan kehendaknya sendiri.
Di kejauhan, suara rantai para Titan terdengar di antara jurang.
Gyges berdiri diam di depan pintu-pintu Tartarus.
Satu tangannya menggenggam senjata.
Yang lain bertumpu pada batu.
Puluhan tangan lainnya siap bergerak kapan saja.
Dan di dalam kegelapan yang dahulu menjadi penjaranya, sang raksasa tetap berjaga—bukan lagi menunggu seseorang datang untuk membebaskannya, melainkan memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat melarikan diri.
