Jauh di bawah dunia yang baru saja mengenal langit, di tempat yang bahkan cahaya Uranus tidak pernah menyentuh, Gaia melahirkan anak-anak yang bentuknya membuat bumi sendiri terasa sempit.
Mereka adalah para Hekatonkheires, makhluk-makhluk dengan seratus tangan dan kekuatan yang sulit dibayangkan. Briareus, Cottus, dan Gyges lahir sebagai saudara, masing-masing membawa tenaga yang seolah berasal langsung dari kedalaman bumi. Namun di antara ketiganya, Cottus memiliki sifat yang paling sulit ditahan.
Ia tidak pernah benar-benar diam.
Seratus tangannya selalu bergerak. Ketika tangannya tidak mengepal, ia menggenggam batu. Ketika tidak mengangkat batu, ia memukul dinding-dinding batu di Tartarus hanya untuk mendengar gema yang menjawab. Ia memiliki kekuatan besar, tetapi yang membuatnya berbeda bukan sekadar tenaga. Cottus memiliki amarah yang cepat menyala dan keberanian yang hampir tidak mengenal batas.
Gaia mencintai ketiga putranya, tetapi ia tahu sejak awal bahwa anak-anak itu akan membuat dunia berguncang.
Dan Uranus takut pada mereka.
Ketika melihat wujud anak-anak Gaia yang dianggapnya mengerikan, Uranus tidak melihat masa depan. Ia hanya melihat ancaman. Maka ia menyembunyikan para Hekatonkheires jauh di dalam tubuh Gaia, memaksa mereka hidup dalam kegelapan yang tidak berujung.
Bagi Cottus, penjara itu lebih menyakitkan daripada luka apa pun.
Ia tidak memahami mengapa kekuatan yang diberikan kepadanya oleh bumi harus menjadi alasan untuk dikurung. Ia hanya tahu bahwa setiap kali ia mengingat langit yang tidak pernah bisa disentuhnya, seratus tangannya mengepal bersamaan.
Seratus Tangan yang Menunggu
Waktu berlalu di dalam kegelapan.
Di sana, Cottus tumbuh bersama Briareus dan Gyges. Mereka tidak memiliki dunia untuk dijelajahi, tidak memiliki medan untuk menguji kekuatan, dan tidak memiliki musuh untuk dilawan. Hanya batu, kegelapan, dan suara-suara jauh dari dunia yang terus berubah di atas mereka.
Namun Cottus tidak pernah berhenti menunggu.
Kadang-kadang ia mendengar getaran aneh dari jauh. Ia mendengar raungan pertempuran yang belum dapat ia lihat. Ia merasakan tubuh Gaia bergetar ketika anak-anak Titan mulai bangkit melawan Uranus.
Lalu suatu hari, sesuatu berubah.
Cronus mengangkat senjatanya melawan Uranus dan merebut kekuasaan atas langit. Gaia akhirnya terbebas dari tekanan yang selama ini menindihnya, dan untuk pertama kalinya Cottus merasakan dunia bergerak.
Tetapi kebebasan itu belum menjadi miliknya.
Cronus, yang kini menjadi penguasa, tidak lebih berani daripada ayahnya ketika berhadapan dengan para Hekatonkheires. Ia mengetahui kekuatan mereka dan memahami bahwa makhluk dengan seratus tangan dapat menjadi senjata yang terlalu berbahaya untuk dibiarkan bebas.
Maka Cottus dan kedua saudaranya kembali dilempar ke kedalaman Tartarus.
Kali ini kemarahannya benar-benar meledak.
Cottus menghantam dinding penjara dengan puluhan tangan sekaligus. Batu retak, bumi berguncang, dan gema pukulannya menjalar jauh ke atas. Tetapi penjara itu tetap berdiri.
Ia memukul lagi.
Dan lagi.
Sampai tangannya sendiri lelah.
Briareus akhirnya menahannya. Gyges berdiri di samping mereka dalam diam. Mereka tahu bahwa kekuatan saja tidak cukup untuk membuka penjara yang telah dibuat khusus untuk menahan mereka.
Cottus tidak menerima kenyataan itu dengan mudah.
Ia hanya berhenti ketika mendengar suara Gaia dari kejauhan, suara seorang ibu yang masih mengingat anak-anaknya.
"Belum waktunya."
Cottus menundukkan kepalanya.
Untuk pertama kalinya, ia belajar bahwa menunggu juga bisa menjadi bentuk kekuatan.
Ketika Para Dewa Datang
Bertahun-tahun kemudian, dunia kembali berguncang.
Zeus telah bangkit melawan Cronus. Para Titan bertempur melawan generasi dewa yang lebih muda, dan perang besar pecah antara dua kekuatan yang menginginkan kekuasaan atas dunia.
Namun Zeus segera menyadari bahwa ia membutuhkan kekuatan yang tidak dimiliki para saudaranya.
Ia membutuhkan mereka yang memiliki seratus tangan.
Zeus turun menuju Tartarus dan menemukan para Hekatonkheires masih terbelenggu di sana. Ketika rantai mereka dilepaskan, Cottus tidak langsung bergerak.
Ia berdiri diam di hadapan Zeus.
Untuk pertama kalinya setelah waktu yang tidak terhitung, ia melihat langit.
Tidak ada rasa takut di wajahnya. Yang ada hanya kemarahan yang telah menunggu terlalu lama.
Zeus menawarkan kebebasan.
Cottus menerima.
Bukan karena ia tunduk kepada Zeus, melainkan karena untuk pertama kalinya ia menemukan sesuatu yang layak diperjuangkan.
Perang melawan para Titan pun memasuki babak baru.
Cottus menjadi salah satu kekuatan paling mengerikan di medan perang. Seratus tangannya membuatnya mampu melakukan apa yang tidak dapat dilakukan makhluk lain. Ia dapat melempar batu-batu besar bertubi-tubi, merobek pertahanan musuh, dan menyerang dari begitu banyak arah hingga lawan tidak tahu dari mana serangan berikutnya datang.
Tetapi bagi Cottus, perang itu bukan sekadar pertempuran antara Zeus dan para Titan.
Itu adalah pembalasan terhadap tahun-tahun ketika ia dikurung.
Setiap batu yang dilemparkannya seakan membawa seluruh kemarahan yang telah disimpannya sejak kelahirannya.
Bersama Briareus dan Gyges, ia berdiri di garis depan ketika para dewa Olympus menggempur para Titan. Langit dipenuhi petir Zeus, bumi bergetar oleh benturan kekuatan, dan gunung-gunung seakan ikut runtuh di tengah peperangan.
Cottus tidak mundur.
Ia justru maju.
Semakin lama perang berlangsung, semakin jelas bahwa para Hekatonkheires menjadi salah satu alasan kemenangan Zeus akhirnya mungkin terjadi.
Ketika para Titan akhirnya dikalahkan, Cottus tidak bersorak.
Ia hanya berdiri di tengah medan perang, memandang dunia yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dari balik kegelapan.
Untuk pertama kalinya, dunia itu benar-benar berada di hadapannya.
Penjaga di Ujung Dunia
Setelah kemenangan Zeus, nasib para Titan yang kalah ditentukan. Banyak dari mereka dikurung kembali di Tartarus, kali ini di tempat yang jauh lebih dalam dan sulit ditembus.
Dan Zeus tidak melupakan siapa yang telah membantunya memenangkan perang.
Cottus dan kedua saudaranya diberi tugas menjaga para Titan yang dipenjarakan di sana.
Bagi Cottus, tugas itu terasa aneh.
Dahulu ia adalah tahanan Tartarus.
Kini ia menjadi penjaganya.
Ia berdiri di gerbang penjara bersama Briareus dan Gyges, mengawasi para Titan yang dahulu menguasai langit. Tidak ada lagi rantai yang membelenggu tangannya. Tidak ada lagi dinding yang memisahkannya dari dunia.
Ia bebas.
Namun Cottus tidak meninggalkan Tartarus.
Ia memilih tetap berada di sana karena ia tahu seperti apa rasanya terkurung tanpa ada yang mendengar suara seseorang dari dalam kegelapan.
Ia tidak menjadi penjaga yang lembut. Jika para Titan mencoba melarikan diri, Cottus akan menjadi tembok pertama yang mereka hadapi.
Tetapi ia juga tidak menjadi seperti Uranus atau Cronus.
Ia tidak mengurung karena takut pada kekuatan orang lain.
Ia menjaga karena dunia membutuhkan seseorang yang cukup kuat untuk memastikan perang itu tidak kembali pecah.
Malam-malam panjang kembali datang di Tartarus. Kali ini Cottus tidak berada di balik pintu.
Ia berdiri di depannya.
Seratus tangannya bersilang, sementara matanya mengarah ke lorong gelap tempat para Titan berada. Dari jauh terdengar suara rantai dan batu yang bergeser.
Cottus tidak bergerak.
Salah satu tangannya perlahan mengepal.
Kemudian tangan yang lain.
Dan satu demi satu, seratus tangannya bersiap.
Di tempat yang dahulu menjadi penjaranya, Cottus akhirnya menemukan perannya sendiri—bukan sebagai monster yang harus disembunyikan, melainkan sebagai kekuatan yang berdiri di antara dunia dan kekacauan yang pernah menguasainya.
