Briareus — Penjaga yang Tak Terkalahkan

  •  
Briareus — Penjaga yang Tak Terkalahkan

Briareus — Penjaga yang Tak Terkalahkan

Jauh sebelum para dewa Olympus berdiri di puncak langit, ketika dunia masih berada dalam kekuasaan para Titan, Gaia melahirkan anak-anak yang tidak menyerupai makhluk mana pun yang pernah berjalan di bumi. Salah satunya adalah Briareus.

Ia lahir bersama dua saudaranya, Cottus dan Gyges, sebagai Hecatoncheires—raksasa yang memiliki seratus tangan dan lima puluh kepala. Tubuh mereka begitu besar hingga keberadaan mereka sendiri terasa seperti ancaman bagi dunia yang masih muda. Seratus tangan tumbuh dari tubuh Briareus, masing-masing kuat seperti batang pohon tua, sementara banyak kepalanya membuatnya mampu melihat ke segala arah.

Namun yang paling menakutkan dari Briareus bukanlah bentuk tubuhnya.

Ia memiliki kekuatan yang sulit dibayangkan.

Ketika masih muda, Briareus tidak memahami mengapa ayahnya, Uranus, memandangnya dengan ketakutan. Ia hanya tahu bahwa setiap kali ia dan kedua saudaranya bergerak di kedalaman bumi, dinding-dinding Tartarus bergetar. Mereka tidak pernah bermaksud menghancurkan apa pun. Mereka hanya belum tahu bagaimana menggunakan kekuatan yang diberikan kepada mereka sejak lahir.

Tetapi Uranus tidak memberi mereka kesempatan untuk belajar.

Ia takut kepada anak-anaknya sendiri.

Maka Briareus, Cottus, dan Gyges dilemparkan ke dalam Tartarus, tempat yang gelap dan jauh dari cahaya dunia. Di sana mereka dikurung bersama para Cyclopes, jauh di bawah tanah, sementara Uranus kembali menguasai langit seolah ketiga putranya tidak pernah dilahirkan.

Briareus tidak melupakan hal itu.

Ia juga tidak melupakan suara Gaia ketika bumi bergetar karena kesedihan.

Di Dalam Kegelapan Tartarus

Waktu berjalan berbeda di dalam Tartarus.

Tidak ada matahari yang terbit. Tidak ada malam yang berakhir. Hanya batu-batu hitam, udara yang berat, dan gema suara yang datang dari tempat-tempat yang bahkan tidak dapat dijangkau oleh cahaya.

Briareus tumbuh di sana.

Ia menjadi lebih besar, lebih kuat, dan lebih tenang. Sementara Cottus sering dikuasai amarah dan Gyges membawa kesunyian yang dalam, Briareus belajar menahan kekuatannya. Seratus tangannya tidak lagi bergerak sembarangan. Ia belajar bahwa kekuatan tanpa kendali hanya akan membuat penjara mereka semakin kokoh.

Ketika akhirnya Cronus menggulingkan Uranus, Briareus mengira pintu Tartarus akan terbuka.

Namun tidak.

Para Titan yang mengambil alih dunia tidak datang untuk membebaskan mereka. Cronus mengetahui keberadaan Hecatoncheires dan Cyclopes, tetapi ia lebih memilih membiarkan mereka tetap terkunci. Ia takut jika makhluk sekuat mereka dibebaskan, kekuasaan para Titan tidak akan pernah aman.

Maka Briareus tetap berada dalam kegelapan.

Tahun demi tahun berlalu, dan dunia di atas mereka berubah. Cronus berkuasa. Para Titan menguasai langit, bumi, dan lautan. Generasi baru para dewa mulai lahir.

Briareus hanya mendengar gema perubahan itu dari jauh.

Sampai suatu hari, suara perang akhirnya mencapai Tartarus.

Suara itu berbeda dari semua suara yang pernah ia dengar.

Langit berguncang.

Gunung-gunung runtuh.

Bumi bergetar tanpa henti.

Para Titan telah berperang melawan anak-anak Cronus.

Dan perang itu tidak kunjung berakhir.

Seruan dari Olympus

Ketika Zeus dan saudara-saudaranya mulai melawan para Titan, mereka segera menyadari bahwa kekuatan para dewa muda belum cukup untuk memenangkan perang.

Zeus mengetahui siapa yang selama ini dikurung di Tartarus.

Para Cyclopes memiliki keterampilan yang dapat mengubah jalannya peperangan. Namun Hecatoncheires memiliki sesuatu yang bahkan lebih menakutkan—kekuatan yang mampu menghancurkan barisan musuh dalam jumlah yang tak terbayangkan.

Maka Zeus turun menuju Tartarus.

Ketika pintu penjara akhirnya terbuka, Briareus mengangkat kepalanya.

Untuk pertama kalinya setelah begitu lama, cahaya masuk ke tempat itu.

Di hadapannya berdiri Zeus.

Tidak seperti Uranus yang memandangnya dengan ketakutan, Zeus datang bukan untuk mengurungnya.

Ia datang untuk meminta bantuan.

Briareus menatap dewa muda itu lama sekali. Ia bisa saja membiarkan Zeus pergi. Ia bisa saja menolak membantu mereka yang berasal dari garis keturunan para Titan.

Namun di belakang Zeus, ia melihat sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.

Kesempatan.

Kesempatan untuk keluar dari kegelapan.

Kesempatan untuk menentukan sendiri apa yang akan dilakukan dengan kekuatannya.

Briareus akhirnya berdiri.

Tartarus berguncang.

Seratus tangannya mengepal.

"Aku akan ikut."

Dan bersama Cottus serta Gyges, ia keluar dari penjara yang selama berabad-abad menjadi rumah mereka.

Seratus Tangan dalam Perang Titan

Perang berubah ketika Briareus dan kedua saudaranya tiba.

Para Titan telah terbiasa menghadapi dewa-dewa yang bertarung dengan petir, senjata, dan kekuatan alam. Mereka tidak siap menghadapi makhluk yang memiliki seratus tangan.

Briareus berdiri di antara gunung-gunung yang telah dihancurkan perang. Dari tubuhnya, seratus lengan bergerak sekaligus. Ia mengangkat batu-batu besar, meraih senjata, menghantam tanah, dan melemparkan bongkahan gunung ke arah barisan Titan.

Tidak ada gerakan yang sia-sia.

Setiap tangan memiliki kekuatan sendiri, namun semuanya bergerak seolah dikendalikan oleh satu kehendak.

Batu demi batu melesat ke medan perang.

Gunung-gunung beterbangan.

Tanah pecah di bawah kaki para Titan.

Untuk pertama kalinya, kekuatan para penguasa lama mulai terdesak.

Briareus tidak bertarung karena kebencian kepada para Titan. Ia bertarung karena ia tahu seperti apa rasanya dikurung oleh penguasa yang takut kepada kekuatan anak-anaknya sendiri.

Dan ia tidak ingin kembali ke dalam kegelapan itu.

Pertempuran berlangsung dahsyat sampai akhirnya para Titan dikalahkan.

Cronus jatuh.

Kekuasaan lama runtuh.

Zeus dan saudara-saudaranya mengambil alih langit dan dunia.

Namun bagi Briareus, kemenangan itu bukan akhir dari perang.

Itu adalah awal dari kehidupan yang belum pernah ia miliki.

Penjaga di Gerbang Kegelapan

Setelah para Titan dikalahkan, Zeus tidak melupakan mereka yang telah membantunya.

Briareus, Cottus, dan Gyges dipercaya untuk menjaga para Titan yang dipenjarakan kembali di Tartarus.

Bagi makhluk lain, tugas itu mungkin terdengar seperti hukuman.

Bagi Briareus, itu berbeda.

Dulu ia pernah menjadi tahanan di tempat itu.

Sekarang ia berdiri di luar jeruji sebagai penjaga.

Ia mengetahui setiap lorong gelap di Tartarus, setiap celah batu, dan setiap jalan yang dapat digunakan untuk melarikan diri. Tidak ada Titan yang mampu melewati tempat yang dijaganya.

Di sanalah Briareus akhirnya menemukan perannya.

Bukan sebagai monster.

Bukan sebagai anak yang ditakuti ayahnya.

Bukan pula sebagai senjata perang.

Ia menjadi penjaga.

Namun kisah Briareus tidak berhenti di Tartarus.

Jauh setelah perang para Titan berakhir, namanya kembali terdengar ketika para dewa Olympus menghadapi masa-masa sulit. Poseidon pernah berselisih dengan Zeus, dan ketika keadaan menjadi genting, Briareus berdiri sebagai pengingat bahwa bahkan para dewa pun tidak selalu mampu menjaga kekuasaan mereka tanpa bantuan.

Ia bukan penguasa Olympus.

Ia tidak duduk di singgasana.

Ia tidak membutuhkan mahkota.

Kekuatan Briareus justru terletak pada kenyataan bahwa ia memilih untuk menjaga daripada memerintah.

Seratus tangannya yang dahulu dianggap sebagai alasan untuk mengurungnya kini menjadi alasan mengapa tidak ada seorang pun yang dapat melewati gerbang yang ia jaga.

Dan jauh di bawah dunia para dewa, di tempat cahaya hampir tidak pernah mencapai batu-batu hitam, Briareus masih berdiri.

Seratus tangannya terdiam di sisi tubuhnya.

Kelima puluh kepalanya mengawasi kegelapan.

Di balik gerbang Tartarus, para Titan masih menunggu.

Di depan gerbang itu, Briareus tidak bergerak.

Ia pernah menjadi tahanan di sana.

Kini seluruh kegelapan itu berada di bawah penjagaannya.

Last update
Add Comment