Arges — Sang Pembawa Cahaya

   
Arges — Sang Pembawa Cahaya

Arges — Sang Pembawa Cahaya

Jauh sebelum Olympus berdiri sebagai pusat kekuasaan para dewa, ketika dunia masih berada dalam kekacauan dan generasi para penguasa silih berganti, lahirlah tiga anak Gaia dan Uranus yang berbeda dari makhluk mana pun yang pernah ada. Mereka adalah Brontes, Steropes, dan Arges, para Cyclops pertama. Tubuh mereka besar, kekuatan mereka luar biasa, dan di tengah wajah masing-masing hanya terdapat satu mata. Namun Arges memiliki sesuatu yang membuatnya berbeda. Mata tunggalnya memancarkan cahaya tajam, dan tangannya memiliki ketelitian yang hampir tidak dimiliki oleh makhluk lain.

Gaia menyambut kelahiran ketiga anaknya dengan kasih, tetapi Uranus melihat mereka dengan ketakutan. Bagi penguasa langit itu, anak-anak yang memiliki kekuatan sebesar mereka adalah ancaman yang tidak boleh dibiarkan tumbuh bebas. Maka Arges dan kedua saudaranya dilemparkan ke Tartarus, jauh di bawah bumi, bersama makhluk-makhluk lain yang dianggap terlalu berbahaya oleh Uranus. Di tempat tanpa matahari dan tanpa fajar itu, Arges belajar mengenal kegelapan lebih baik daripada siapa pun.

Anak yang Belajar dari Kegelapan

Di Tartarus, rantai menjadi teman mereka dan dinding batu menjadi satu-satunya pemandangan. Brontes sering mengamuk, menghantam belenggu dengan kekuatan yang membuat seluruh ruang berguncang. Steropes lebih gelisah, terus mencari celah pada batu dan besi yang mengurung mereka. Arges berbeda. Ia lebih banyak diam. Ia menyentuh dinding, mendengarkan gema, mengamati retakan, dan mengingat setiap suara yang muncul dari kedalaman.

Ia tidak menyerah pada kegelapan. Ia mempelajarinya.

Arges tahu bahwa batu memiliki kelemahan, bahwa besi memiliki batas, dan bahwa bahkan penjara yang dibuat oleh penguasa langit tidak mungkin sempurna. Namun sebelum ia menemukan jalan keluar, dunia di atas berubah. Uranus jatuh, Cronus merebut kekuasaan, dan para Titan menguasai langit. Arges tetap berada di Tartarus, seolah pergantian penguasa di atas sana tidak pernah mengubah nasibnya.

Kemudian datanglah Zeus.

Ketika Zeus dan saudara-saudaranya memulai perang melawan para Titan, ia mengetahui bahwa para Cyclops masih terkurung di Tartarus. Zeus membebaskan mereka, dan untuk pertama kalinya setelah masa yang begitu panjang, Arges kembali melihat langit. Ia mengangkat wajahnya dan memandang awan yang bergerak di atas pegunungan. Petir menyala di kejauhan. Mata tunggalnya mengikuti cahaya itu tanpa berkedip.

Untuk pertama kalinya, Arges melihat sesuatu yang terasa seperti miliknya.

Bengkel di Tengah Perang

Arges dan kedua saudaranya tidak meminta kerajaan setelah dibebaskan. Mereka tidak menginginkan takhta. Mereka memilih memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga kepada Zeus: kemampuan mereka.

Ketiganya mendirikan bengkel dan mulai bekerja. Brontes membawa tenaga yang dahsyat, Steropes menguasai api dan panas, sementara Arges menjadi tangan yang membentuk hasil akhirnya. Ia dapat melihat perubahan sekecil apa pun pada logam yang sedang ditempa. Ia tahu kapan besi harus dipukul, kapan harus dipanaskan, dan kapan harus dibiarkan mendingin. Setiap gerakannya penuh perhitungan.

Namun mereka tidak sedang membuat pedang biasa.

Zeus membutuhkan senjata untuk menghadapi para Titan.

Maka para Cyclops mengambil kekuatan dari langit itu sendiri. Api membakar tungku, batu pijakan bergetar, dan suara palu menggema sepanjang malam. Brontes menghantam logam dengan kekuatan yang mengguncang gunung. Steropes menjaga api tetap menyala. Arges berdiri di tengah panas, membentuk cahaya yang mereka tangkap dari petir.

Berhari-hari mereka bekerja.

Arges tidak banyak bicara. Ia hanya terus menempa.

Sampai akhirnya sebuah senjata lahir dari api dan kilat.

Petir Zeus.

Senjata itu bukan sekadar cahaya yang menyambar dari langit. Ia menjadi kekuatan yang dapat menghantam musuh dengan dahsyat dan membuat seluruh dunia bergetar. Zeus menerima senjata tersebut, dan ketika perang melawan para Titan kembali berkobar, petir mulai memenuhi langit.

Arges menyaksikannya dari kejauhan.

Setiap kilatan mengingatkannya pada malam pertama ketika ia melihat langit setelah keluar dari Tartarus. Namun kali ini cahaya itu bukan sesuatu yang hanya dapat ia lihat. Cahaya itu lahir dari tangannya sendiri.

Cahaya di Tangan Zeus

Perang akhirnya berakhir. Para Titan jatuh dan kekuasaan berpindah kepada generasi baru para dewa. Zeus naik sebagai penguasa langit, sementara Olympus menjadi tempat kediaman para dewa yang baru.

Arges tidak mengambil tempat di antara para penguasa. Ia tetap berada di bengkel bersama Brontes dan Steropes. Ketika para dewa membutuhkan senjata, perlengkapan, atau kekuatan baru, para Cyclops kembali menyalakan tungku mereka.

Arges tetap menjadi yang paling tenang di antara mereka. Ia tidak mengejar kemuliaan dan tidak membutuhkan pujian. Baginya, pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan dengan sempurna. Ia telah menghabiskan masa yang sangat panjang di dalam kegelapan, sehingga sekarang ia menghargai setiap percikan api yang muncul dari tungkunya.

Tetapi ia tidak pernah melupakan Tartarus.

Kadang-kadang, ketika malam telah turun dan bengkel menjadi sunyi, Arges berdiri di luar dan memandang ke arah langit. Ia teringat pada rantai yang pernah mengikatnya, pada dinding yang dahulu tidak memiliki ujung, dan pada ketakutan yang membuat Uranus mengurung anak-anaknya sendiri.

Lalu petir menyala di atas Olympus.

Arges menatapnya tanpa berkata-kata.

Dahulu ia adalah makhluk yang dikubur dalam kegelapan karena dianggap terlalu kuat untuk dibiarkan bebas. Kini kekuatannya sendiri menjadi salah satu alasan mengapa Zeus mampu menguasai langit.

Ia berbalik menuju bengkel.

Brontes sudah menunggu di depan tungku, sementara Steropes menyiapkan logam berikutnya. Arges mengambil palunya dan berdiri di tempatnya. Api kembali menyala, memantulkan cahaya ke mata tunggalnya.

Kemudian palu itu turun.

Dentangnya menggema di antara gunung-gunung, sementara jauh di atas sana, petir kembali membelah langit Olympus.

Last update
Add Comment