Steropes — Sang Penempa Petir

  •  
Steropes — Sang Penempa Petir

Steropes — Sang Penempa Petir

Di sebuah masa ketika dunia masih muda dan langit belum mengenal cahaya yang akan membelah malam, jauh di dalam perut bumi terdengar suara yang tidak pernah berhenti.

Bukan suara senjata yang beradu, bukan pula suara batu yang runtuh. Itu adalah suara tangan-tangan raksasa yang bekerja di dalam kegelapan, memukul logam panas dengan kekuatan yang belum pernah dimiliki makhluk mana pun.

Di sanalah Steropes tumbuh.

Ia adalah salah satu dari tiga Cyclops pertama, putra Gaia dan Uranus, lahir bersama saudara-saudaranya, Brontes dan Arges. Tubuh mereka besar dan kuat, tetapi yang membuat mereka berbeda bukan sekadar ukuran. Di tengah wajah mereka hanya ada satu mata, sebuah mata besar yang mampu melihat dengan tajam menembus kegelapan.

Namun bagi Steropes, dunia tidak pernah benar-benar gelap.

Ia dapat melihat percikan api yang terbang dari batu, garis merah logam yang baru ditempa, dan cahaya kecil yang muncul setiap kali palu menghantam landasan. Semakin lama ia bekerja, semakin ia merasa bahwa api memiliki bahasa sendiri.

Ia hanya perlu belajar mendengarnya.

Anak-Anak yang Dikurung

Pada awalnya, Steropes tidak mengenal kebebasan.

Uranus memandang anak-anaknya dengan ketakutan. Ia tidak menyukai makhluk-makhluk yang kekuatannya begitu besar, terutama mereka yang tidak dapat ia kendalikan. Karena itu, Cyclops dan saudara-saudara mereka yang lain dilemparkan ke dalam Tartarus, tempat jauh di bawah bumi yang menjadi penjara bagi mereka.

Steropes tidak tahu berapa lama ia berada di sana.

Waktu kehilangan maknanya.

Tidak ada matahari yang terbit. Tidak ada malam yang berakhir. Hanya batu, api, dan suara palu.

Brontes bekerja di sisinya dengan kekuatan seperti badai. Arges memiliki ketelitian yang hampir tidak tertandingi. Sementara Steropes selalu menjadi yang paling gelisah di antara mereka.

Ia tidak puas hanya memukul logam.

Ia ingin menciptakan sesuatu.

Suatu ketika, ketika api menyala lebih tinggi dari biasanya, Steropes menghentikan palunya.

"Apa yang kau lihat?" tanya Arges.

Steropes menatap logam merah di hadapannya.

"Sesuatu yang belum pernah ada."

Brontes tertawa pendek. "Kita bahkan tidak bisa keluar dari sini."

Steropes kembali mengangkat palu.

"Kalau begitu, kita buat sesuatu yang suatu hari nanti bisa membawa kita keluar."

Namun hari itu belum datang.

Bertahun-tahun berlalu dalam penjara yang sama, sampai akhirnya terdengar suara dari kejauhan.

Bukan suara palu.

Bukan suara rantai.

Melainkan suara perang.

Saat Dunia Berubah

Ketika Cronus menggulingkan Uranus dan para Titan mengambil alih dunia, penjara Tartarus tetap menjadi tempat gelap bagi mereka yang terlupakan.

Steropes masih berada di sana.

Begitu pula Brontes dan Arges.

Mereka tidak tahu bahwa dunia di atas mereka telah berubah. Mereka tidak tahu bahwa Cronus, putra Uranus, kini menjadi penguasa dan bahwa sebuah generasi baru kelak akan bangkit menentangnya.

Sampai suatu hari, langkah kaki terdengar di antara batu-batu Tartarus.

Seorang Titan datang.

Zeus.

Ia telah tumbuh menjadi kekuatan yang tidak dapat lagi diabaikan oleh Cronus. Bersamanya datang tujuan yang lebih besar daripada sekadar merebut takhta.

Zeus menemukan para Cyclops yang telah lama dikurung.

Ketika pintu penjara dibuka, cahaya menyentuh wajah Steropes untuk pertama kalinya setelah waktu yang begitu lama.

Ia menutup mata.

Bukan karena takut.

Karena cahaya itu terlalu terang.

Di belakang Zeus berdiri Hecatoncheires, yang juga dibebaskan dari belenggu mereka. Mereka semua telah menjadi korban ketakutan para penguasa terdahulu.

Zeus tidak datang untuk meminta mereka menjadi pelayan.

Ia datang menawarkan sesuatu yang belum pernah diberikan kepada mereka.

Kebebasan.

Steropes memandang Zeus lama sekali.

"Kau akan membebaskan kami?" tanyanya.

"Aku sudah melakukannya."

"Dan sebagai gantinya?"

Zeus tidak menjawab segera.

Ia hanya menatap tangan Steropes yang penuh bekas luka dari bertahun-tahun bekerja di dalam kegelapan.

"Kita akan menghadapi para Titan."

Steropes tersenyum.

Untuk pertama kalinya, ia menggenggam palunya bukan sebagai alat untuk bertahan hidup.

Melainkan sebagai senjata.

Api yang Menjadi Petir

Para Cyclops dibawa keluar dari Tartarus.

Tetapi kebebasan saja tidak cukup.

Zeus tahu perang melawan para Titan tidak akan dimenangkan dengan kekuatan biasa. Cronus dan para saudaranya telah menguasai dunia selama begitu lama sehingga pasukan para dewa muda membutuhkan sesuatu yang mampu mengubah keseimbangan perang.

Saat itulah Steropes kembali ke tempat yang paling ia kenal.

Ke perapian.

Brontes dan Arges berdiri di sisinya.

Mereka menyalakan tungku yang apinya begitu panas hingga batu di sekeliling mereka mulai memerah. Steropes memilih logam terbaik yang mereka miliki, lalu memasukkannya ke dalam api.

Pekerjaan itu tidak berlangsung sehari.

Tidak pula semalam.

Mereka bekerja tanpa henti.

Brontes memberikan kekuatan.

Arges memberikan ketelitian.

Steropes memberikan sesuatu yang hanya ia miliki: kemampuan untuk menemukan bentuk dari kekacauan.

Mereka menempa sebuah senjata untuk Zeus.

Bukan pedang.

Bukan tombak.

Sebuah kekuatan yang menyerupai badai yang dipadatkan menjadi senjata.

Petir.

Ketika Steropes mengangkat hasil tempaannya, udara di sekeliling mereka bergetar. Cahaya putih menyambar dari logam itu, menerangi wajah ketiga Cyclops.

Zeus mengambilnya.

Untuk sesaat, dunia seakan menahan napas.

Kemudian petir pertama meledak.

Cahaya itu membelah langit.

Suara gemuruhnya terdengar hingga jauh di medan perang.

Steropes hanya berdiri diam menyaksikan hasil ciptaannya.

Brontes memandang ke arahnya.

"Kau berhasil."

Steropes mengangguk.

"Bukan aku."

Ia menatap kedua saudaranya.

"Kita."

Perang Para Dewa

Titanomachia pun berkobar.

Gunung-gunung berguncang. Langit dan bumi seolah bertabrakan. Para Titan mengerahkan kekuatan mereka, sementara Zeus dan saudara-saudaranya bertempur untuk merebut masa depan dunia.

Dan setiap kali Zeus mengangkat tangannya, petir menyambar.

Steropes dan kedua saudaranya terus bekerja.

Mereka menempa senjata.

Mereka memperbaiki senjata yang rusak.

Mereka menyalakan api yang tidak boleh padam.

Namun bagi Steropes, perang bukan sekadar pertempuran antara dua generasi dewa. Ia adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka yang pernah dianggap terlalu berbahaya untuk hidup bebas kini dapat menentukan nasib dunia.

Pada suatu malam, setelah pertempuran yang panjang, Zeus kembali ke tempat mereka bekerja.

Tubuhnya dipenuhi debu dan luka perang.

Steropes sedang memeriksa sebuah senjata yang retak.

"Berapa lama lagi?" tanya Zeus.

Steropes menatapnya.

"Sampai perang ini selesai."

Zeus tersenyum tipis.

"Lalu?"

Steropes kembali menatap api.

"Lalu aku akan membuat sesuatu yang tidak digunakan untuk perang."

Zeus tidak bertanya apa.

Mungkin karena ia tahu Steropes sendiri belum menemukan jawabannya.

Akhirnya para Titan kalah.

Cronus jatuh.

Para pemenang membagi dunia di antara mereka, dan Zeus menjadi penguasa langit.

Tetapi bagi Steropes, kemenangan tidak berarti bahwa pekerjaannya telah selesai.

Petir yang ia tempa masih berada di tangan Zeus.

Dan dunia baru membutuhkan lebih banyak senjata daripada sebelumnya.

Sang Penempa dari Langit

Setelah perang, nama Steropes tidak selalu disebut di antara para penguasa Olympus.

Ia tidak duduk di singgasana.

Ia tidak memerintah lautan.

Ia tidak menguasai dunia bawah.

Namun setiap kali langit bergemuruh, jejak pekerjaannya terasa.

Ia menjadi bagian dari kekuatan Zeus, sang penguasa langit, melalui senjata yang ditempa bersama saudara-saudaranya. Di dalam api dan logam, Steropes menemukan tempatnya sendiri di antara para dewa.

Ia bukan raja.

Ia bukan pahlawan yang berdiri di depan pasukan.

Ia adalah pembuat kekuatan yang membuat para raja mampu bertempur.

Dan ketika suatu hari ia kembali berdiri di depan tungku, jauh dari keributan Olympus, Steropes memandang api yang menari di hadapannya.

Ia teringat masa ketika api itu adalah satu-satunya cahaya yang ia miliki.

Kini api yang sama menerangi dunia yang jauh lebih luas.

Steropes mengambil palunya.

Mengangkatnya perlahan.

Lalu menghantam logam panas itu.

Dentang.

Satu percikan melesat ke udara.

Dentang.

Percikan lain menyusul.

Dan ketika palu ketiga jatuh, dari kejauhan terdengar suara gemuruh dari langit.

Steropes berhenti sejenak.

Ia menatap ke atas.

Petir menyala di antara awan.

Kemudian ia tersenyum dan kembali bekerja.

Karena bagi sang Cyclops bermata satu, perang mungkin telah berakhir.

Tetapi selama langit masih membutuhkan petir, api belum pernah benar-benar padam.

Last update
Add Comment