Jauh sebelum Poseidon mengangkat trisulanya dan mengaku sebagai penguasa samudra, laut telah mengenal kekuatan-kekuatan yang jauh lebih tua.
Dari pertemuan Gaia, bumi yang melahirkan banyak kehidupan, dan Pontus, laut purba yang membentang tanpa batas, lahirlah Eurybia.
Ia tumbuh di antara ombak dan batu karang, tetapi Eurybia bukanlah sosok yang mudah ditundukkan oleh laut. Ia mengenal sifat samudra dengan cara yang berbeda dari saudara-saudaranya. Jika Ceto memahami kehidupan yang bersembunyi di kedalaman dan Phorcys menjaga rahasia yang terkubur di bawah air, Eurybia memahami kekuatan yang menggerakkan laut itu sendiri.
Ia mengenal angin yang tiba-tiba berubah arah, gelombang yang meninggi tanpa peringatan, dan arus yang mampu membawa kapal jauh dari jalurnya. Baginya, laut bukan sekadar air.
Laut adalah kekuatan.
Dan kekuatan itu tidak pernah benar-benar diam.
Eurybia juga tidak memiliki sifat lembut seperti yang mungkin diharapkan dari seorang putri Gaia. Ia tenang, tetapi ketenangannya bukan kelemahan. Ia dapat berdiri di tepi tebing selama berjam-jam sambil menyaksikan badai datang dari cakrawala, seolah sedang menunggu seseorang yang sudah lama dikenalnya.
Ketika badai akhirnya pecah, ia tidak melarikan diri.
Ia justru berdiri semakin dekat dengan ombak.
Perempuan yang Dipilih Crius
Pada masa ketika para Titan mulai memenuhi dunia, Eurybia bertemu dengan Crius, salah satu putra Uranus dan Gaia.
Crius bukan penguasa laut. Ia adalah Titan yang kekuatannya lebih dekat dengan langit dan arah-arah dunia yang luas. Namun justru karena itulah keduanya saling melengkapi.
Crius memahami langit.
Eurybia memahami laut.
Di antara mereka terbentuk sebuah keluarga yang kelak memiliki hubungan dengan bintang-bintang dan kekuatan langit.
Anak pertama mereka adalah Astraeus.
Sejak kecil, Astraeus sering memandang ke atas, seolah langit memanggilnya. Eurybia memperhatikan itu dengan tenang. Ia tahu anaknya tidak akan menjadi penghuni laut seperti dirinya.
Ia membiarkannya pergi.
Kemudian lahirlah Pallas, yang membawa kekuatan peperangan dan strategi. Setelah itu Perses, yang kelak akan dikenal karena kekuatannya yang dahsyat.
Ketiga anak itu berbeda.
Namun ada sesuatu yang sama dalam diri mereka: mereka membawa sebagian kekuatan kedua orang tua mereka.
Dari Crius mereka mewarisi hubungan dengan langit dan kekuatan Titan.
Dari Eurybia, mereka membawa sesuatu yang lebih sulit dijelaskan—keteguhan, keluasan, dan kekuatan alam yang tidak mudah dikendalikan.
Eurybia melihat anak-anaknya tumbuh tanpa pernah berusaha menjadikan mereka seperti dirinya.
Ia tahu seorang ibu tidak selalu harus menahan anaknya agar tetap dekat.
Kadang-kadang, tugas seorang ibu adalah mengetahui kapan harus membiarkan mereka pergi.
Ketika Langit Bertemu Laut
Astraeus akhirnya memilih jalannya sendiri.
Ia mendekati Eos, sang dewi fajar, dan dari hubungan mereka lahirlah generasi yang akan menguasai berbagai kekuatan langit: angin-angin besar dan bintang-bintang yang memenuhi malam.
Ketika Eurybia melihat cucu-cucunya muncul di langit, ia tidak perlu memanggil mereka.
Ia hanya berdiri di tepi laut dan memandang ke atas.
Setiap malam, bintang-bintang semakin memenuhi kegelapan.
Angin pun mulai memiliki nama.
Bagi Eurybia, itu terasa seperti melihat bagian dirinya bergerak jauh meninggalkan laut.
Namun hubungan itu tidak pernah benar-benar terputus.
Ia tahu angin berasal dari tempat yang berbeda, tetapi angin selalu kembali menyentuh laut.
Dan setiap kali angin berubah, permukaan air ikut bergerak.
Gelombang meninggi.
Awan berkumpul.
Badai lahir.
Langit dan laut terus berbicara dalam bahasa yang hanya mereka pahami.
Eurybia menjadi salah satu penghubung di antara keduanya.
Saat Para Titan Berperang
Kemudian datanglah masa ketika dunia berubah.
Anak-anak Uranus bangkit melawan ayah mereka. Setelah itu, para Titan memegang kekuasaan atas dunia.
Eurybia tidak berdiri di tengah perebutan takhta.
Ia bukan sosok yang mengejar mahkota.
Laut tidak membutuhkan singgasana untuk menjadi kuat.
Namun ketika kekuasaan para Titan mulai terancam oleh generasi baru para dewa, Eurybia menyaksikan keluarganya menghadapi masa yang semakin gelap.
Crius berdiri bersama para Titan.
Pallas dan Perses telah tumbuh menjadi kekuatan mereka sendiri.
Astraeus telah memilih jalannya di langit.
Eurybia sendiri tetap berada di wilayah yang selalu dikenalnya.
Laut.
Tetapi untuk pertama kalinya, laut terasa berbeda.
Badai datang lebih sering. Angin membawa suara peperangan dari daratan. Gunung-gunung berguncang dan langit dipenuhi tanda-tanda bahwa sebuah kekuasaan sedang runtuh.
Eurybia mengetahui sesuatu yang tidak ingin diakui oleh para Titan.
Tidak ada pemerintahan yang bertahan selamanya.
Bahkan kekuatan sebesar milik Cronus pun pada akhirnya akan menghadapi sesuatu yang lebih muda dan lebih keras kepala.
Jatuhnya Generasi Lama
Perang antara Titan dan para dewa muda akhirnya pecah.
Langit bergemuruh.
Bumi bergetar.
Laut menjadi liar.
Eurybia tidak berada di medan perang seperti Crius. Ia tidak mengangkat senjata untuk menghadapi Zeus. Namun setiap dentuman dari daratan terasa sampai ke tempatnya berdiri.
Ia melihat kilatan petir dari kejauhan.
Ia merasakan gelombang besar menghantam tebing.
Dan pada akhirnya, ia mengetahui bahwa para Titan telah kalah.
Crius jatuh bersama saudara-saudaranya.
Dunia yang pernah menjadi milik mereka beralih kepada generasi baru.
Eurybia tidak berteriak ketika mendengar kabar itu.
Ia hanya berjalan menuju pantai.
Air laut menyentuh kakinya.
Untuk sesaat, ia berdiri tanpa bergerak, menatap cakrawala tempat langit dan laut bertemu.
Ia telah kehilangan suaminya.
Namun yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa anak-anaknya kini berada di dunia yang tidak lagi menjadi milik keluarga mereka.
Pallas akan menemui nasibnya sendiri.
Perses akan memiliki keturunan yang kelak menghasilkan sosok-sosok yang bahkan para dewa Olympus takuti.
Astraeus tetap berada di langit.
Keluarga Eurybia telah tersebar ke seluruh penjuru dunia.
Dan ia tidak dapat mengumpulkan mereka kembali.
Warisan yang Bergerak Bersama Angin
Setelah perang berakhir, Eurybia tidak menghilang.
Ia tetap ada di laut.
Dunia baru kini memiliki penguasa baru, dan Poseidon menjadi nama yang lebih sering disebut ketika manusia berbicara tentang samudra. Namun Eurybia tidak membutuhkan manusia untuk mengingat namanya.
Kekuatannya tidak tinggal di altar.
Ia tinggal dalam perubahan laut.
Ketika angin dari cakrawala datang dan permukaan air mulai bergerak, ketika badai terbentuk di kejauhan dan kapal-kapal mulai mencari tempat berlindung, kekuatan tua itu masih terasa.
Eurybia menyaksikan generasi baru para dewa membangun dunia mereka.
Ia melihat bintang-bintang yang menjadi warisan Astraeus.
Ia melihat angin turun dari langit dan menyentuh permukaan laut.
Ia melihat kapal-kapal manusia semakin jauh berlayar.
Dan semakin jauh manusia pergi, semakin mereka menyadari bahwa laut tidak pernah benar-benar dapat ditaklukkan.
Suatu malam, Eurybia berdiri sendirian di atas tebing.
Di atasnya, bintang-bintang memenuhi langit. Di bawahnya, ombak bergerak perlahan.
Ia mengenali beberapa bintang itu.
Anak dari anaknya.
Warisan keluarga yang tidak pernah benar-benar hilang.
Angin kemudian datang dari utara.
Rambut Eurybia bergerak tertiup udara asin. Ia menatap laut yang mulai berubah, sementara jauh di cakrawala awan gelap perlahan berkumpul.
Badai akan datang.
Eurybia tersenyum tipis.
Ia tidak memanggilnya.
Ia tidak perlu.
Laut sudah mengenalnya sejak awal dunia.
Dan ketika gelombang pertama mulai menghantam tebing, Eurybia tetap berdiri di sana, menghadap badai yang semakin dekat, seolah sedang menyambut sesuatu yang sejak dahulu memang menjadi bagian dari dirinya.
