Setelah para Titan jatuh dan para penguasa baru mengambil tempat mereka di langit, dunia akhirnya mengenal sebuah masa yang tampak lebih tenang. Zeus duduk di atas takhta Olympus. Laut berada dalam kekuasaan Poseidon, dunia bawah menjadi wilayah Hades, dan para dewa muda mulai menata tatanan yang baru.
Namun jauh di bawah gunung dan lembah yang belum mengenal jejak manusia, Gaia belum melupakan anak-anaknya yang telah dikalahkan.
Ada amarah yang tidak dapat dipadamkan oleh waktu.
Dari kedalaman bumi, Gaia melahirkan seorang anak yang berbeda dari apa pun yang pernah berjalan di dunia. Namanya Typhon.
Ia tumbuh bukan seperti dewa yang lain. Tubuhnya menjulang begitu tinggi hingga kepalanya seolah mampu menyentuh langit. Dari bahunya tumbuh kekuatan yang membuat gunung-gunung terasa kecil, sementara dari tubuhnya muncul ular-ular yang bergerak seperti hidupnya sendiri. Suara Typhon bukan sekadar suara seorang makhluk. Ketika ia meraung, lembah-lembah bergetar dan laut bergelora jauh dari tempat ia berdiri.
Api keluar dari matanya.
Badai mengikuti langkahnya.
Dan di dalam dirinya tinggal satu tujuan yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar amarah: menggulingkan Zeus dan merebut kekuasaan atas dunia.
Gaia tidak mengirimnya untuk meminta tempat di antara para dewa. Ia mengirim Typhon sebagai jawaban terhadap Olympus.
Ketika Typhon akhirnya bangkit dari tanah, langit berubah.
Awan hitam berkumpul di atas pegunungan. Angin berputar tanpa arah, membawa debu dan batu ke udara. Burung-burung melarikan diri dari lembah, sementara binatang-binatang bersembunyi di celah-celah batu.
Untuk pertama kalinya sejak kemenangan para dewa muda, Olympus merasakan sesuatu yang tidak dapat mereka kendalikan.
Sesuatu sedang datang.
Bayangan di Atas Olympus
Para dewa melihatnya dari kejauhan.
Typhon berdiri di antara gunung-gunung, begitu besar sehingga puncak-puncak di sekelilingnya tampak seperti batu-batu kecil. Setiap langkahnya membuat bumi berguncang.
Zeus segera memahami ancaman itu.
Ini bukan Titan yang tersisa. Bukan pula monster biasa yang dapat dihancurkan oleh seorang dewa dengan mudah. Typhon membawa kekuatan purba bumi, kekuatan yang belum pernah tunduk kepada hukum Olympus.
Para dewa mulai gentar.
Beberapa meninggalkan Olympus dan melarikan diri menuju Mesir. Mereka mengubah wujud untuk menyembunyikan diri dari kejaran Typhon. Dunia yang biasanya dipenuhi suara para dewa mendadak terasa kosong.
Zeus tetap tinggal.
Ia berdiri di hadapan badai yang semakin mendekat dengan petir di tangannya.
Typhon melihat kilatan cahaya itu dan tertawa.
Suara tawanya mengguncang awan.
Kemudian ia bergerak.
Gunung-gunung bergetar ketika dua kekuatan besar bertemu. Zeus melemparkan petir demi petir, dan cahaya putih membelah langit yang gelap. Namun Typhon menahan serangan itu dengan kekuatannya. Api menyembur dari tubuhnya, menyelimuti lereng-lereng gunung.
Untuk sesaat, bahkan Zeus terdorong mundur.
Pertempuran mereka bukan lagi sekadar pertarungan antara dua makhluk.
Langit melawan bumi.
Petir melawan api.
Tatanan baru melawan kekuatan purba yang menolak ditundukkan.
Zeus dan Monster dari Bumi
Zeus terus menyerang.
Petir-petirnya menghantam Typhon dengan suara yang terdengar hingga jauh di seberang laut. Batu-batu terlempar dari pegunungan. Hutan terbakar dan udara dipenuhi asap.
Tetapi Typhon tidak jatuh.
Ia membalas dengan badai yang lebih besar. Angin berputar mengelilingi tubuhnya, membawa api dan debu. Laut naik dan menghantam daratan. Pulau-pulau diguncang gelombang besar.
Zeus akhirnya menyadari bahwa kekuatan biasa tidak akan cukup.
Ia mengambil petir terkuatnya.
Langit menjadi putih.
Satu sambaran menghantam Typhon.
Makhluk itu terhuyung.
Untuk pertama kalinya, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Zeus tidak memberi kesempatan. Ia terus menyerang hingga Typhon terdorong mundur dan akhirnya melarikan diri menuju wilayah pegunungan.
Namun Typhon belum menyerah.
Ia berbalik dan kembali menyerang.
Pertempuran itu membawa mereka jauh ke berbagai penjuru dunia, hingga akhirnya mencapai wilayah Sisilia. Di sana, Zeus menghadapi Typhon untuk terakhir kalinya dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya.
Petir jatuh tanpa henti.
Batu-batu gunung pecah.
Typhon meraung dan mencoba bangkit, tetapi tubuhnya telah kehilangan kekuatan. Zeus mengangkat petirnya sekali lagi dan menghantamkan serangan terakhir kepada raksasa itu.
Typhon jatuh.
Tubuhnya tertimbun di bawah Gunung Etna.
Dan di sanalah Zeus menguncinya.
Api yang Tidak Pernah Benar-Benar Padam
Dunia kembali sunyi.
Laut perlahan tenang. Angin kembali bergerak mengikuti musim. Para dewa yang sebelumnya bersembunyi kembali ke Olympus, dan Zeus mempertahankan takhtanya.
Tetapi kemenangan itu tidak membuat Typhon lenyap.
Jauh di bawah Gunung Etna, sesuatu masih bergerak.
Kadang-kadang bumi bergetar tanpa peringatan. Kadang-kadang suara gemuruh keluar dari kedalaman gunung, diikuti oleh api yang menyala dari puncaknya. Orang-orang yang tinggal di sekitar Sisilia memandang gunung itu dengan ketakutan, sebab mereka tahu bahwa jauh di bawah batu dan tanah, sang monster masih hidup.
Typhon telah dikalahkan.
Tetapi ia tidak mati.
Amarahnya masih bergerak di dalam bumi, seperti badai yang terperangkap dan menunggu jalan keluar.
Dan setiap kali Gunung Etna menghembuskan api ke langit, seolah-olah dunia sedang diingatkan pada satu hal yang tidak pernah benar-benar dilupakan oleh para dewa:
bahwa bahkan setelah Olympus berdiri kokoh, kekuatan-kekuatan purba masih berdenyut jauh di bawah kaki mereka.
Di kedalaman gunung, Typhon membuka matanya.
Api menyala di dalam kegelapan.
Lalu bumi kembali bergemuruh.
