Sebelum Artemis menjadi salah satu dewi besar Olympus, ia lahir dalam keadaan yang hampir membuat ibunya kehilangan harapan. Leto, putri Coeus dan Phoebe serta saudari Asteria, mengandung anak-anak Zeus ketika Hera mengetahui hubungan mereka. Karena marah, Hera membuat Leto mengembara dan mencari tempat yang berani menerimanya untuk melahirkan.
Akhirnya Leto tiba di Delos, pulau yang dahulu merupakan Asteria. Di sanalah ia menemukan tempat untuk berlindung. Ketika waktunya tiba, Leto melahirkan seorang putri.
Artemis lahir lebih dahulu.
Ia kemudian membantu ibunya ketika saudara kembarnya akan lahir. Tidak lama kemudian, Apollo menyusul.
Sejak kelahirannya, Artemis seakan telah menunjukkan sifat yang berbeda dari saudara kembarnya. Apollo kelak menjadi dewa musik, ramalan, dan cahaya, sementara Artemis merasa lebih dekat dengan hutan, gunung, dan makhluk-makhluk liar yang hidup jauh dari kota.
Ia memilih alam sebagai tempatnya.
Busur di Tangan Artemis
Ketika Artemis masih muda, ia datang kepada Zeus dan meminta beberapa hal yang menjadi bagian dari hidupnya. Ia ingin tetap bebas, tidak menikah, memiliki busur dan anak panah, serta dapat hidup di pegunungan bersama para pengikutnya.
Zeus mengabulkan permintaannya.
Sejak saat itu, Artemis menjadi pemburu yang tidak mudah ditandingi. Ia membawa busur perak dan berjalan melewati hutan bersama para nimfa. Ia tidak mencari kerajaan seperti para dewa penguasa, tetapi memiliki wilayah sendiri yang luas dan liar.
Hutan menjadi tempat ia merasa paling bebas.
Di sana ia mengawasi hewan-hewan, menjaga keseimbangan alam, dan melindungi mereka yang hidup di luar batas kota. Namun kebebasan Artemis juga memiliki aturan yang tidak boleh dilanggar.
Mereka yang memasuki wilayahnya tanpa menghormatinya akan mengetahui betapa cepat kemarahannya dapat berubah menjadi hukuman.
Actaeon dan Rusa
Suatu hari, seorang pemburu bernama Actaeon sedang berada di hutan bersama anjing-anjing pemburunya. Secara tidak sengaja, ia melihat Artemis ketika sang dewi sedang mandi bersama para nimfa.
Artemis menyadari bahwa ia telah dilihat.
Ia tidak membiarkan penghinaan itu berlalu.
Dengan kekuatan ilahinya, Artemis mengubah Actaeon menjadi seekor rusa.
Para anjing pemburu yang sebelumnya mengenal Actaeon sebagai tuannya kini melihat seekor rusa dan mengejarnya. Actaeon berusaha melarikan diri, tetapi ia tidak dapat memberitahu mereka siapa dirinya.
Akhirnya ia jatuh menjadi korban dari kawanan anjingnya sendiri.
Artemis kembali ke hutan.
Tidak ada yang boleh mengambil kebebasannya darinya.
Niobe yang Terlalu Sombong
Artemis juga berdiri bersama Apollo ketika seorang perempuan bernama Niobe menghina ibu mereka, Leto.
Niobe memiliki banyak anak dan merasa bahwa jumlah anaknya membuat dirinya lebih pantas dihormati daripada Leto yang hanya memiliki dua anak.
Ia membanggakan dirinya di hadapan orang-orang Thebes dan meremehkan Leto.
Apollo dan Artemis mendengar penghinaan itu.
Keduanya datang untuk membela ibu mereka.
Apollo menggunakan busurnya untuk membunuh putra-putra Niobe, sementara Artemis membunuh putri-putrinya. Hanya satu anak Niobe yang berhasil bertahan.
Kesedihan Niobe menjadi begitu besar hingga ia memohon kepada para dewa untuk menghentikan air matanya.
Tubuhnya kemudian berubah menjadi batu.
Namun bahkan setelah berubah menjadi batu, air mata Niobe terus mengalir.
Artemis kembali ke sisinya.
Ia tidak meminta pujian.
Ia hanya ingin ibunya dihormati.
Dewi yang Melindungi Perempuan
Artemis memiliki hubungan kuat dengan perempuan dan kehidupan liar. Ia sering dipanggil untuk membantu perempuan dalam masa-masa sulit, terutama dalam perjalanan menuju kedewasaan dan persalinan.
Hubungan itu terlihat jelas dalam kisah kelahirannya sendiri.
Leto telah mengalami penderitaan panjang sebelum Artemis lahir. Karena itu, Artemis menjadi dewi yang dipanggil oleh perempuan ketika mereka membutuhkan perlindungan.
Ia juga menjaga gadis-gadis muda yang belum menikah dan para nimfa yang mengikutinya di hutan.
Artemis sendiri tetap tidak menikah.
Ia memilih kebebasan.
Tidak ada suami yang mengatur jalannya, tidak ada istana yang menahannya, dan tidak ada kehidupan rumah tangga yang mengharuskannya meninggalkan hutan.
Orion Sang Pemburu
Di antara manusia yang pernah dekat dengan Artemis, Orion adalah salah satu yang paling terkenal.
Orion adalah pemburu raksasa yang mampu berjalan melintasi laut dan mengejar binatang-binatang besar. Ia memiliki kemampuan berburu yang luar biasa, dan Artemis menghargai kemampuannya.
Keduanya menjadi teman berburu.
Namun hubungan itu berakhir tragis.
Dalam salah satu kisah tentang kematian Orion, Apollo khawatir bahwa Artemis terlalu dekat dengan sang pemburu. Ia kemudian menantang saudara kembarnya untuk mengenai sebuah titik kecil yang terlihat jauh di laut.
Artemis tidak mengetahui bahwa titik itu adalah Orion.
Ia mengangkat busurnya.
Anak panahnya mengenai sasaran.
Barulah setelah itu Artemis mengetahui bahwa ia telah membunuh sahabatnya sendiri.
Kesedihan memenuhi dirinya.
Ia meminta agar Orion tidak dilupakan.
Zeus kemudian menempatkan Orion di langit sebagai rasi bintang.
Kini Artemis dapat melihatnya setiap malam.
Namun ia tidak dapat mengembalikannya.
Kalydonian Boar
Artemis juga pernah menunjukkan kemarahannya kepada Raja Oineus dari Kalydon.
Ketika Oineus melakukan persembahan kepada para dewa, ia melupakan Artemis.
Sang dewi merasa tersinggung.
Ia mengirim seekor babi hutan raksasa yang menghancurkan ladang dan wilayah Kalydon.
Raja kemudian meminta para pahlawan datang untuk memburu makhluk itu. Banyak tokoh terkenal ikut serta, termasuk Atalanta, perempuan pemburu yang sangat terampil.
Perburuan itu menjadi salah satu peristiwa terbesar dalam kisah para pahlawan Yunani.
Pada akhirnya, babi hutan tersebut berhasil dibunuh.
Namun konflik yang muncul di antara para pemburu setelahnya menjadi sumber tragedi baru.
Bagi Artemis, semuanya dimulai dari sebuah hal sederhana: penghormatan yang diabaikan.
Iphigenia dan Kemarahan Artemis
Suatu ketika, pasukan Yunani berkumpul di Aulis untuk berlayar menuju Troy. Namun angin tidak bertiup dan kapal-kapal mereka tidak dapat berangkat.
Artemis telah murka kepada Agamemnon.
Sang raja telah melakukan sesuatu yang membuat sang dewi tersinggung, dan sebagai akibatnya perjalanan pasukan Yunani terhenti.
Akhirnya Agamemnon mengetahui bahwa Artemis menuntut pengorbanan putrinya, Iphigenia.
Iphigenia dibawa ke tempat upacara.
Namun ketika saatnya tiba, Artemis merasa iba.
Ia mengambil Iphigenia dari altar dan menggantinya dengan seekor rusa.
Iphigenia diselamatkan dan kemudian dibawa ke Tauris untuk melayani Artemis sebagai penjaga kuilnya.
Bagi Agamemnon dan pasukan Yunani, kisah itu menjadi salah satu harga yang harus dibayar sebelum mereka dapat berlayar menuju Troy.
Artemis dan Actaeon, Batas yang Tidak Boleh Dilewati
Artemis tidak seperti dewi yang mencari perhatian manusia.
Ia lebih sering memilih untuk tidak terlihat.
Namun ia memiliki batas yang sangat jelas.
Actaeon melanggarnya ketika memasuki ruang pribadi sang dewi.
Niobe melanggarnya ketika menghina Leto.
Oineus melanggarnya ketika melupakan Artemis dalam persembahan.
Agamemnon melanggarnya ketika melakukan tindakan yang membuat sang dewi murka.
Dalam setiap kisah itu, Artemis menunjukkan bahwa alam memiliki hukum sendiri.
Manusia boleh memasuki hutan.
Mereka boleh berburu.
Mereka boleh menikmati hasil bumi.
Tetapi mereka tidak boleh menganggap alam sebagai sesuatu yang dapat diperlakukan sesuka hati.
Saudari Apollo
Di antara semua dewa Olympus, Artemis memiliki hubungan paling dekat dengan Apollo.
Mereka lahir sebagai saudara kembar dan sering bertindak bersama ketika seseorang mengancam Leto atau menghina keluarga mereka.
Namun mereka tidak memiliki jalan yang sama.
Apollo memilih kota, kuil, musik, ramalan, dan tempat-tempat suci.
Artemis memilih hutan, gunung, sungai, dan tempat-tempat yang belum dijinakkan manusia.
Apollo membawa kecapi.
Artemis membawa busur.
Apollo memberikan ramalan.
Artemis menjaga alam liar.
Keduanya berbeda, tetapi berasal dari keluarga yang sama.
Dan ketika mereka berdiri berdampingan, tidak banyak makhluk yang berani menantang keduanya.
Bulan di Atas Hutan
Malam turun di atas pegunungan.
Artemis berjalan sendirian di antara pepohonan, ditemani beberapa nimfa dan anjing pemburunya. Tidak ada suara kota di sana. Hanya angin, daun yang bergerak, dan langkah kaki hewan yang bersembunyi di balik semak.
Ia berhenti di sebuah tempat terbuka.
Di atasnya, bulan bersinar.
Artemis memandang langit dan melihat bintang-bintang yang memenuhi kegelapan. Jauh di sana, Orion masih berada di antara bintang-bintang, sementara cahaya Apollo suatu hari nanti akan kembali muncul ketika fajar tiba.
Artemis mengangkat busurnya.
Seekor rusa bergerak di antara pepohonan.
Ia tidak menembaknya.
Ia hanya memperhatikannya berjalan menjauh.
Kemudian sang dewi melanjutkan perjalanan.
Malam adalah wilayahnya.
Hutan adalah rumahnya.
Dan selama gunung masih dipenuhi pepohonan, sungai masih mengalir bebas, dan hewan-hewan masih berlari tanpa mengenal batas kota, Artemis akan tetap berjalan di sana dengan busurnya di tangan, menjaga dunia liar yang tidak pernah benar-benar tunduk kepada siapa pun.
