Ares — Sang Dewa Perang

  •  
Ares — Sang Dewa Perang

Ares — Sang Dewa Perang

Di antara anak-anak Zeus dan Hera, Ares adalah salah satu yang paling dekat dengan sisi kasar Olympus. Ia lahir sebagai putra pasangan penguasa para dewa dan tumbuh di tengah dunia yang penuh persaingan, tetapi berbeda dari Athena yang melihat perang sebagai sesuatu yang membutuhkan strategi, Ares tertarik pada pertempuran itu sendiri.

Ia menyukai suara senjata beradu, teriakan pasukan, dan keberanian yang muncul ketika dua pihak saling berhadapan. Baginya, perang bukan sekadar cara untuk mencapai kemenangan. Perang adalah tempat amarah, keberanian, ketakutan, dan kekuatan manusia bertemu.

Ares kemudian menjadi dewa perang.

Namun kedudukannya di Olympus tidak selalu dihormati. Bahkan Zeus dan Hera tidak selalu bangga kepadanya. Ares sering bertindak berdasarkan kemarahan dan dorongan sesaat, sehingga ia dapat menjadi sekutu yang kuat sekaligus sumber masalah bagi mereka yang berada di dekatnya.

Ia memiliki keberanian.

Tetapi keberanian tanpa kendali sering membawa kehancuran.

Dewa di Tengah Pertempuran

Ketika pasukan manusia berperang, Ares dapat turun ke medan perang dengan perlengkapan lengkap. Ia membawa tombak dan perisai, mengenakan baju perang, dan bergerak bersama pasukan yang sedang bertempur.

Ia tidak peduli apakah suatu perang dimulai dengan alasan yang benar atau salah.

Yang menarik perhatiannya adalah pertempuran itu sendiri.

Karena itulah Ares sering digambarkan berbeda dari Athena. Athena mewakili kecerdikan dan strategi yang teratur, sementara Ares mewakili keganasan dan kekacauan pertempuran. Jika Athena menghitung setiap langkah sebelum menyerang, Ares lebih sering maju karena amarah telah menguasai dirinya.

Namun bukan berarti Ares pengecut.

Justru sebaliknya.

Ia adalah salah satu dewa yang paling berani ketika pertempuran dimulai.

Masalahnya adalah ia juga dapat kehilangan kendali ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginannya.

Ares dan Aphrodite

Di balik sifat kerasnya, Ares memiliki hubungan yang sangat terkenal dengan Aphrodite.

Aphrodite adalah istri Hephaestus, tetapi ia dan Ares menjalin hubungan secara diam-diam. Keduanya sering bertemu tanpa sepengetahuan Hephaestus.

Namun Helios, yang dapat melihat apa yang terjadi dari langit, mengetahui hubungan tersebut dan memberitahu Hephaestus.

Hephaestus kemudian membuat sebuah perangkap.

Ia memasang jaring yang sangat halus di tempat Ares dan Aphrodite biasa bertemu. Ketika keduanya datang dan berbaring bersama, jaring itu jatuh dan mengikat mereka.

Hephaestus kemudian memanggil para dewa untuk melihat keduanya dalam keadaan terperangkap.

Ares dipermalukan di hadapan para Olympian.

Setelah akhirnya dibebaskan, ia meninggalkan Olympus untuk sementara waktu dan kembali ke wilayahnya.

Namun hubungan Ares dan Aphrodite tidak berakhir begitu saja.

Dari hubungan mereka lahirlah beberapa anak, termasuk Phobos dan Deimos, yang kemudian mengikuti ayah mereka ke medan perang.

Phobos membawa rasa takut.

Deimos membawa rasa gentar.

Keduanya menjadi pendamping Ares ketika perang berkobar.

Ares dan Anak-Anaknya

Phobos dan Deimos bukan satu-satunya anak Ares.

Ia juga memiliki Harmonia, yang justru memiliki sifat sangat berbeda dari ayahnya. Harmonia menjadi simbol keharmonisan dan kemudian menikah dengan Cadmus, pendiri Thebes.

Dari hubungan itu lahir keturunan yang membawa darah Ares ke dalam salah satu keluarga paling penting dalam kisah Yunani.

Ares juga menjadi ayah beberapa tokoh yang berhubungan dengan para pahlawan dan kerajaan manusia.

Namun anak-anak Ares tidak semuanya mewarisi sifat ayahnya.

Ada yang membawa keberanian.

Ada yang membawa kekacauan.

Dan ada pula yang justru menjadi simbol kedamaian.

Ares dan Heracles

Salah satu manusia yang pernah membuat Ares marah adalah Heracles.

Ketika Heracles melakukan perjalanan dan berhadapan dengan berbagai musuh, ia akhirnya harus menghadapi Kyknos, putra Ares. Kyknos dikenal sebagai perampok yang menyerang para peziarah dan mengambil harta mereka.

Heracles melawan Kyknos.

Ares datang untuk membela putranya.

Pertarungan antara Heracles dan Ares pun terjadi.

Heracles bukan dewa, tetapi kekuatannya luar biasa. Dengan bantuan Athena, ia berhasil menghadapi Ares dan bahkan melukainya.

Ares terpaksa mundur.

Bagi seorang dewa perang, kekalahan seperti itu merupakan penghinaan.

Namun Ares tidak berhenti menjadi dewa perang hanya karena seorang manusia berhasil mengalahkannya.

Ia kembali ke Olympus.

Dan perang lain menunggunya di masa depan.

Ares dalam Perang Troya

Ketika Perang Troya dimulai, Ares memilih berpihak kepada Troy.

Ia turun ke medan perang dan membantu para pejuang Troy menghadapi pasukan Yunani.

Namun di pihak Yunani ada Athena.

Keduanya kembali berhadapan.

Athena dan Ares memiliki pandangan yang bertolak belakang tentang perang, dan perseteruan mereka menjadi salah satu bagian penting dari Perang Troya.

Dalam sebuah pertempuran, Ares membantu pihak Troy dan berusaha menghancurkan pasukan Yunani. Namun Athena turun tangan.

Dengan bantuan Diomedes, salah satu pahlawan Yunani, Athena membuat Ares terluka.

Ares berteriak keras karena rasa sakitnya dan meninggalkan medan perang.

Ia kembali kepada Zeus.

Namun Zeus tidak menyambutnya dengan belas kasihan.

Sang penguasa Olympus justru menegur Ares karena sifatnya yang mudah marah dan kecenderungannya menyukai pertempuran tanpa mempertimbangkan akibat.

Ares tetap menjadi putra Zeus.

Tetapi bahkan ayahnya sendiri tidak selalu menyukai sifatnya.

Ares dan Amazon

Ares juga memiliki hubungan dengan bangsa Amazon, para perempuan pejuang yang terkenal karena kemampuan mereka dalam perang.

Hippolyta, salah satu ratu Amazon, memiliki sabuk yang diberikan kepadanya oleh Ares. Sabuk itu kemudian menjadi bagian dari salah satu tugas Heracles.

Heracles datang untuk mengambil sabuk tersebut sebagai bagian dari tugasnya.

Awalnya pertemuan itu tidak harus berakhir dalam peperangan. Namun keadaan berubah karena kesalahpahaman dan campur tangan Hera.

Pertempuran pun pecah.

Pada akhirnya, Heracles berhasil memperoleh sabuk Hippolyta.

Bagi Ares, peristiwa itu menjadi satu lagi pengingat bahwa kekuatannya tidak selalu cukup untuk menentukan hasil sebuah konflik.

Dewa yang Sering Dikalahkan

Ares memiliki kekuatan besar, tetapi ia juga sering mengalami kekalahan.

Ia pernah dikalahkan Athena.

Ia pernah dilukai Heracles.

Ia bahkan pernah dipenjara oleh dua raksasa, Otus dan Ephialtes, yang menangkapnya dan mengurungnya dalam sebuah wadah perunggu selama berbulan-bulan sebelum Hermes menemukan dan membebaskannya.

Semua itu menunjukkan sesuatu yang jarang terlihat ketika orang hanya mendengar namanya.

Ares bukan dewa yang selalu menang.

Ia adalah dewa yang selalu bersedia bertarung.

Kemenangan dan kekalahan adalah bagian dari sifatnya.

Baginya, medan perang bukan tempat untuk mencari kepastian.

Ia adalah tempat di mana seseorang harus terus berdiri meskipun tidak tahu siapa yang akan menang.

Ares dan Kehormatan

Meskipun sering digambarkan sebagai dewa yang kasar dan mudah marah, Ares memiliki sisi lain. Ia dapat menghormati keberanian dan membela keluarganya ketika mereka berada dalam bahaya.

Ketika salah satu putranya terbunuh, Ares tidak selalu diam menerima kehilangan itu. Ia dapat turun ke bumi untuk menuntut balas, bahkan ketika tindakannya membawa dirinya berhadapan dengan hukum para dewa.

Salah satu contohnya adalah ketika putranya Halirrhothius terbunuh setelah mencoba menyerang Alcippe, putri Ares. Ares membunuh Halirrhothius untuk melindungi putrinya.

Namun pembunuhan itu kemudian membawa Ares ke hadapan para dewa.

Sebuah pengadilan diadakan di sebuah bukit di Athena.

Ares dinyatakan tidak bersalah.

Tempat itu kemudian dikenal sebagai Areopagus, yang namanya dikaitkan dengan Ares.

Dengan demikian, bahkan kemarahan Ares meninggalkan jejak dalam dunia manusia.

Di Antara Para Olympian

Ares tetap menjadi salah satu dewa Olympus.

Ia tidak selalu dihormati seperti Zeus, Athena, atau Apollo, tetapi tidak ada yang dapat mengabaikan kekuatannya. Selama manusia masih berperang, selama kerajaan masih saling menyerang, dan selama keberanian serta amarah masih membawa seseorang ke medan pertempuran, Ares akan selalu memiliki tempat di dunia.

Ia tidak mencari kedamaian.

Ia tidak mengajarkan manusia bagaimana menghindari perang.

Ia hadir ketika perang sudah dimulai.

Di sana, ia menjadi kekuatan yang mendorong manusia untuk maju meskipun ketakutan.

Suara Senjata di Kejauhan

Sore mulai turun di sebuah medan perang.

Pasukan telah berhenti bergerak. Senjata berserakan di tanah, dan para prajurit yang masih hidup mulai membawa rekan-rekan mereka menjauh dari medan pertempuran.

Di atas bukit, Ares berdiri.

Phobos dan Deimos berada di dekatnya.

Ares memandang ke arah pasukan yang perlahan mundur.

Ia tidak tersenyum.

Ia juga tidak kecewa.

Perang telah berakhir untuk hari itu.

Namun ia tahu bahwa manusia akan kembali berperang ketika matahari terbit.

Ares mengangkat tombaknya dan berbalik meninggalkan medan.

Di belakangnya, suara senjata masih terdengar dari kejauhan.

Besok, pertempuran lain akan dimulai.

Dan ketika manusia kembali mengangkat pedang, Ares akan berada di sana.

Last update
Add Comment