Apollo lahir dari hubungan Zeus dan Leto, tetapi kelahirannya tidak berlangsung di tempat yang mudah ditemukan. Hera mengetahui kehamilan Leto dan diliputi kemarahan. Ia membuat Leto mengembara, mencari tempat yang bersedia menerima dirinya untuk melahirkan.
Akhirnya Leto menemukan Delos, pulau yang dahulu merupakan Asteria, saudari Leto yang telah mengubah dirinya menjadi pulau untuk melarikan diri dari Zeus. Di sanalah Leto menemukan tempat berlindung.
Namun kelahiran Apollo masih tidak mudah.
Leto telah menunggu begitu lama, dan rasa sakitnya semakin kuat. Artemis akhirnya lahir lebih dahulu. Setelah itu, ia membantu ibunya dalam kelahiran saudara kembarnya.
Apollo akhirnya lahir.
Ketika ia membuka matanya, pulau yang selama ini menjadi tempat persembunyian Leto berubah menjadi tempat suci yang akan dikenang sepanjang zaman.
Sejak saat itu, Delos menjadi salah satu tempat terpenting dalam kehidupan Apollo.
Anak Matahari yang Bukan Helios
Apollo kelak sangat erat dikaitkan dengan cahaya, tetapi ia bukanlah Helios, sang Titan yang membawa matahari melintasi langit. Helios tetap menjalankan perjalanan mataharinya, sementara Apollo memiliki hubungan dengan cahaya dalam makna yang lebih luas: kejernihan, pengetahuan, dan kemampuan melihat sesuatu yang tersembunyi.
Apollo tumbuh menjadi dewa yang memiliki banyak peran. Ia dikenal sebagai dewa musik, puisi, penyembuhan, ramalan, dan kemudian juga cahaya. Ia membawa busur dan anak panah, tetapi juga memainkan kecapi dengan keindahan yang membuat para dewa terdiam mendengarnya.
Tidak seperti Ares yang mencari keganasan dalam perang, Apollo memiliki ketenangan yang dapat berubah menjadi sangat berbahaya ketika seseorang membangkitkan kemarahannya.
Ia adalah dewa yang dapat menyembuhkan.
Tetapi ia juga dapat membawa penyakit.
Ia dapat memberikan petunjuk tentang masa depan.
Tetapi manusia tidak selalu mampu memahami apa yang dikatakannya.
Busur Sang Dewa
Ketika Apollo tumbuh dewasa, ia segera menunjukkan bahwa dirinya bukan lagi seorang anak yang harus dilindungi oleh ibunya.
Ia mengambil busurnya dan mulai menjalankan kehendaknya sendiri.
Salah satu musuh terbesarnya berada di Delphi.
Seekor ular raksasa bernama Python menjaga tempat tersebut. Makhluk itu telah lama menguasai wilayah di sekitar sumber ramalan dan menjadi ancaman bagi Leto pada masa lalu.
Apollo datang dengan busurnya.
Ia menghadapi Python dan melepaskan anak panahnya.
Pertarungan berakhir dengan kematian Python.
Setelah kemenangan itu, Apollo mengambil alih tempat suci tersebut dan menjadikannya pusat ramalannya. Delphi kemudian menjadi tempat manusia dari berbagai penjuru datang untuk mencari jawaban tentang masa depan.
Di sana, seorang pendeta perempuan bernama Pythia menyampaikan ramalan Apollo kepada mereka yang datang memohon petunjuk.
Namun ramalan Apollo tidak pernah sesederhana sebuah jawaban.
Ia sering berbicara melalui kata-kata yang harus dipahami oleh manusia sendiri.
Apollo dan Daphne
Tidak semua kisah cinta Apollo berakhir bahagia.
Suatu ketika, Apollo mengejek Eros dan meremehkan kekuatan busurnya. Eros kemudian menggunakan dua anak panah yang berbeda. Satu membuat Apollo jatuh cinta, sementara yang lain membuat Daphne menolak cinta tersebut.
Apollo mengejar Daphne.
Namun Daphne tidak menginginkannya.
Ia berlari sampai tidak lagi memiliki jalan untuk melarikan diri. Dalam keadaan terdesak, Daphne memohon kepada ayahnya, Peneus, agar menyelamatkannya.
Tubuhnya kemudian berubah menjadi pohon laurel.
Apollo berhenti di hadapan pohon itu.
Ia tidak dapat mengembalikan Daphne.
Maka ia menjadikan daun laurel sebagai bagian dari dirinya dan menggunakannya sebagai simbol kehormatan. Sejak saat itu, laurel menjadi sangat dekat dengan Apollo dan para pemenang yang memperoleh penghargaan dalam berbagai perlombaan.
Namun setiap kali melihat pohon laurel, Apollo akan selalu berhadapan dengan kenangan tentang seseorang yang tidak pernah dapat menjadi miliknya.
Apollo dan Hyacinthus
Kemudian Apollo bertemu seorang pemuda bernama Hyacinthus.
Keduanya menjadi sangat dekat. Apollo menikmati kebersamaan dengannya dan sering mengajaknya berlatih melempar cakram.
Namun suatu hari, permainan itu berubah menjadi tragedi.
Ketika Apollo melempar cakram, angin mengubah arahnya. Cakram tersebut mengenai Hyacinthus dan membuatnya jatuh.
Apollo berusaha menyelamatkannya.
Tetapi ia tidak mampu mengalahkan kematian.
Hyacinthus meninggal di hadapan sang dewa.
Apollo sangat berduka. Dari tempat darah Hyacinthus jatuh, tumbuhlah bunga yang kemudian membawa namanya.
Apollo tidak dapat mengembalikan orang yang telah pergi.
Namun ia memastikan bahwa nama Hyacinthus tidak hilang.
Sang Musisi Olympus
Apollo bukan hanya dewa yang membawa busur dan memberikan ramalan. Ia juga menjadi salah satu musisi terbesar di antara para dewa.
Ia memainkan kecapi dan memimpin musik dalam perayaan para Olympian. Musiknya mampu membawa ketenangan ke Olympus, tetapi ia juga memiliki kebanggaan besar terhadap kemampuannya.
Hal itu membawanya berhadapan dengan Marsyas, seorang satir yang menemukan alat musik aulos dan menantang Apollo untuk berkompetisi.
Pertandingan dimulai.
Marsyas memainkan musiknya dengan sangat terampil, tetapi Apollo akhirnya memenangkan perlombaan.
Kemenangan itu menunjukkan bahwa keahlian dan kebanggaan sang dewa tidak mudah ditandingi.
Namun kisah tersebut juga memperlihatkan sisi Apollo yang lebih keras. Ia tidak selalu menerima orang yang menantang keunggulannya dengan mudah.
Apollo dan Troya
Apollo kemudian memiliki hubungan erat dengan kota Troy.
Ia membantu membangun tembok kota bersama Poseidon ketika keduanya dihukum oleh Zeus untuk bekerja sebagai manusia. Mereka melayani Raja Laomedon dan membangun pertahanan Troy yang sangat kuat.
Namun Laomedon kemudian menolak membayar apa yang telah dijanjikannya.
Apollo tidak melupakan penghinaan itu.
Ketika Perang Troya berlangsung bertahun-tahun kemudian, Apollo berpihak kepada Troy.
Ia membantu para pejuang Troy dan menjadi salah satu dewa yang menentang pasukan Yunani. Dalam salah satu peristiwa penting perang tersebut, Apollo membantu Paris ketika pahlawan Troy itu berhadapan dengan Achilles.
Dengan campur tangan Apollo, serangan Paris mengenai Achilles.
Sang pahlawan terbesar Yunani akhirnya jatuh.
Kematian Achilles menjadi salah satu titik paling menentukan dalam perang.
Apollo dan Para Pahlawan
Apollo tidak selalu menjadi musuh para pahlawan.
Ia juga membantu mereka.
Ia memberikan petunjuk, menyembuhkan luka, dan terkadang menjadi pelindung ketika manusia menunjukkan rasa hormat kepadanya.
Asclepius, putra Apollo dan Coronis, bahkan tumbuh menjadi penyembuh yang begitu hebat hingga mampu mengembalikan orang mati ke kehidupan.
Namun kemampuan Asclepius mengganggu keseimbangan dunia.
Zeus akhirnya membunuhnya dengan petir.
Apollo sangat marah karena putranya dibunuh. Ia tidak dapat menyerang Zeus secara langsung, sehingga kemarahannya diarahkan kepada para Cyclopes yang membuat petir untuk penguasa Olympus.
Apollo membunuh mereka.
Zeus kemudian menghukum Apollo dan membuatnya menjalani masa sebagai manusia.
Ia harus melayani Raja Admetus.
Di sana, Apollo merasakan kehidupan tanpa kekuasaan ilahi yang biasanya dimilikinya.
Ia menjaga ternak, bekerja, dan hidup seperti seorang pelayan.
Namun bahkan sebagai manusia, kekuatan dan kecerdikannya tetap terlihat.
Ramalan yang Tidak Pernah Berhenti
Setelah kembali ke Olympus, Apollo kembali menjalankan tugasnya sebagai dewa ramalan.
Delphi menjadi tempat manusia datang membawa pertanyaan.
Raja datang sebelum perang.
Pahlawan datang sebelum perjalanan.
Orang biasa datang ketika tidak tahu jalan yang harus dipilih.
Apollo memberikan jawaban melalui Pythia.
Namun manusia sering menemukan bahwa mengetahui masa depan tidak selalu berarti mampu menghindarinya.
Oedipus adalah salah satu contohnya. Ramalan tentang dirinya justru menjadi bagian dari jalan yang membawanya menuju takdir tersebut.
Apollo tidak selalu menentukan apa yang akan terjadi.
Ia hanya membuka sedikit tirai yang menutupi masa depan.
Manusia kemudian harus memilih bagaimana berjalan setelah mengetahui apa yang ada di baliknya.
Putra Leto di Olympus
Apollo akhirnya menjadi salah satu dewa terpenting Olympus. Ia memiliki tempat di antara para Olympian dan hubungan dekat dengan banyak dewa, terutama saudara kembarnya Artemis.
Keduanya berbeda tetapi saling melengkapi.
Artemis membawa busur ke hutan dan menjaga wilayah liar, sementara Apollo membawa musik, ramalan, dan cahaya ke dunia para dewa serta manusia.
Leto tetap menjadi ibu yang mereka hormati.
Zeus adalah ayah mereka.
Dan Hera, yang dahulu berusaha menghalangi kelahiran mereka, tidak dapat mengubah kenyataan bahwa Apollo dan Artemis telah tumbuh menjadi dua kekuatan besar.
Cahaya di Atas Delphi
Suatu pagi, cahaya matahari mulai menyentuh lereng Gunung Parnassus. Di bawahnya, Delphi perlahan terbangun. Para peziarah mulai datang membawa pertanyaan yang telah mereka simpan selama berhari-hari atau bahkan bertahun-tahun.
Di dalam kuil, Pythia bersiap duduk di tempatnya.
Apollo tidak terlihat.
Namun kehadirannya terasa.
Di luar, suara kecapi terdengar dari tangan seorang pemusik yang datang memberikan penghormatan. Angin bergerak melewati daun-daun laurel yang tumbuh di sekitar tempat suci.
Apollo berdiri jauh di atas sana, memandang dunia.
Ia telah kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Ia pernah marah kepada para dewa.
Ia pernah menjalani kehidupan sebagai manusia.
Ia telah membunuh monster, menyembuhkan penyakit, memberikan ramalan, dan menghukum mereka yang menantangnya.
Namun hari baru selalu datang.
Apollo mengambil kecapinya.
Satu nada terdengar.
Kemudian nada berikutnya.
Musik mengalir melewati halaman kuil, bercampur dengan suara langkah para peziarah dan angin pagi.
Di atas Delphi, cahaya semakin terang.
Dan Apollo mulai memainkan lagunya, sementara manusia di bawahnya menunggu jawaban tentang masa depan.
