Uranus: Ketika Langit Menjadi Penguasa

   
Uranus: Ketika Langit Menjadi Penguasa

Uranus: Ketika Langit Menjadi Penguasa

Sebelum Olympus berdiri, sebelum para dewa memiliki istana dan manusia mengenal nama-nama mereka, dunia masih muda. Gaia telah muncul dari kekosongan purba, bumi yang luas dan kokoh tempat segala sesuatu kelak bertumbuh. Namun Gaia tidak ingin menjadi satu-satunya kekuatan yang mengisi dunia. Dari dirinya sendiri, ia melahirkan Uranus, langit yang membentang tanpa batas di atas tubuhnya.

Uranus turun dari ketinggian dan menyelimuti Gaia. Dari pertemuan keduanya lahirlah generasi pertama makhluk yang akan mengubah dunia. Anak-anak mereka bukan makhluk kecil yang mudah dikendalikan. Mereka adalah kekuatan purba yang membawa sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya: gunung, lautan, badai, cahaya, dan kekuasaan yang kelak akan berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Uranus memandang semua itu sebagai miliknya. Ia bukan sekadar langit yang menaungi dunia. Ia ingin menjadi penguasa atas segala sesuatu yang berada di bawahnya.

Gaia melahirkan para Titan, dua belas anak yang masing-masing memiliki kekuatan besar. Oceanus dan Tethys, pasangan yang kelak menguasai aliran air dunia. Hyperion dan Theia, yang darinya lahir cahaya-cahaya besar di langit. Coeus dan Phoebe, yang membawa pengetahuan dan misteri. Cronus, yang termuda di antara para Titan laki-laki. Bersama mereka lahir pula tiga Cyclops—Brontes, Steropes, dan Arges—serta tiga Hecatoncheires, makhluk raksasa dengan seratus tangan dan kekuatan yang mengerikan.

Namun ketika Uranus melihat anak-anak terakhir itu, wajahnya berubah.

Ia takut.

Bukan karena mereka telah melakukan sesuatu kepadanya, melainkan karena Uranus melihat sesuatu dalam diri mereka yang tidak bisa ia kuasai. Kekuatan mereka terlalu besar. Bentuk mereka terlalu asing. Ia membayangkan suatu hari mereka akan bangkit dan merebut kekuasaan yang selama ini berada di tangannya.

Maka Uranus melakukan sesuatu yang kejam.

Ia mendorong anak-anak itu kembali ke dalam tubuh Gaia, jauh di kedalaman bumi.

Gaia merasakan penderitaan mereka. Setiap kali Uranus datang, bumi seakan menanggung beban baru. Anak-anaknya terperangkap di dalam dirinya sendiri, tidak mampu melihat dunia yang telah mereka lahirkan. Gaia semakin lelah, semakin marah, dan akhirnya kemarahannya berubah menjadi tekad.

Ia tidak akan membiarkan Uranus terus berkuasa.

Senjata yang Menunggu dalam Kegelapan

Gaia mengumpulkan anak-anaknya dan berbicara kepada mereka tentang penderitaannya. Uranus telah menjadi tiran, dan tidak seorang pun berani melawannya. Para Titan mendengar perkataan ibunya dalam diam. Mereka tahu bahwa Uranus adalah ayah mereka, tetapi mereka juga tahu bahwa ketakutan ayah mereka telah berubah menjadi kekejaman.

Gaia membuat sebuah senjata dari batu yang keras dan tajam. Ia membawanya kepada anak-anaknya dan meminta seseorang berdiri melawannya.

Tidak ada yang bergerak.

Para Titan mengetahui kekuatan Uranus. Mereka telah melihat bagaimana langit menutupi bumi dan bagaimana tidak ada tempat untuk bersembunyi dari kekuasaannya.

Hanya Cronus yang maju.

Ia adalah yang termuda, tetapi di dalam dirinya terdapat sesuatu yang tidak dimiliki saudara-saudaranya. Cronus tidak hanya mendengar kemarahan Gaia. Ia melihat kesempatan. Jika Uranus dapat digulingkan, maka kekuasaan akan jatuh ke tangan generasi mereka.

Gaia menyerahkan senjata itu kepadanya.

Malam berikutnya, Uranus kembali mendekati Gaia tanpa menyadari bahwa sesuatu telah berubah. Ia tidak mengetahui bahwa anak yang selama ini ia tekan telah menunggunya.

Ketika waktunya tiba, Cronus menyerang.

Uranus terkejut. Untuk pertama kalinya, langit yang selama ini tidak tersentuh merasakan bahwa kekuasaannya dapat dilukai. Serangan Cronus memisahkan Uranus dari Gaia, dan hubungan yang selama ini menyatukan langit dan bumi terputus.

Darah Uranus jatuh ke bumi.

Dari darah itu lahirlah makhluk-makhluk baru: para Erinyes, yang membawa pembalasan; para Gigantes, raksasa yang kelak akan menantang para dewa; serta para Meliae, nimfa pohon yang tumbuh dari tanah yang telah terkena darah langit.

Namun kisah Uranus belum berakhir.

Bagian tubuhnya yang terputus dilemparkan jauh ke laut. Ombak membawanya melintasi air hingga dari buih laut muncul seorang sosok yang kelak dikenal sebagai Aphrodite.

Sementara itu, Uranus mundur.

Langit tetap berada di atas bumi, tetapi ia tidak lagi memerintah seperti sebelumnya.

Kutukan Sang Ayah

Cronus kini mengambil tempat Uranus.

Para Titan terbebas dari ketakutan lama mereka, dan dunia memasuki zaman baru. Namun sebelum Uranus pergi sepenuhnya, ia menatap anak yang telah menggulingkannya.

Ia mengenal wajah Cronus dengan baik.

Ia juga mengenal ambisi yang ada di baliknya.

Uranus tahu bahwa kekuasaan tidak pernah berhenti berpindah hanya karena seorang penguasa telah jatuh. Maka dari kejauhan, ia memberikan sebuah ramalan yang kelak akan menghantui Cronus.

Suatu hari, katanya, anak Cronus sendiri akan menggulingkannya.

Cronus mungkin telah merebut takhta dari ayahnya, tetapi ia tidak pernah melupakan kata-kata itu.

Ramalan tersebut menjadi bayangan yang mengikuti pemerintahan barunya. Ketakutan yang dahulu menguasai Uranus kini tumbuh di dalam diri Cronus. Ia mulai melihat anak-anaknya sendiri bukan sebagai keluarga, melainkan sebagai ancaman terhadap takhtanya.

Begitulah kekuasaan diwariskan dari ayah kepada anak, bersama ketakutan yang tidak pernah benar-benar mati.

Uranus telah jatuh, tetapi sesuatu dari dirinya tetap tinggal di dalam Cronus.

Langit yang Tetap di Atas Dunia

Setelah kekuasaannya direbut, Uranus tidak lagi menjadi tokoh utama dalam kisah para dewa. Ia tidak mendirikan kerajaan baru dan tidak kembali untuk merebut takhtanya. Ia menjadi langit itu sendiri—tetap membentang di atas dunia yang telah berubah.

Di bawahnya, Cronus memerintah para Titan.

Generasi baru mulai tumbuh.

Kelak, Zeus akan lahir dari Rhea dan Cronus. Kelak pula Zeus akan bangkit melawan ayahnya, membebaskan saudara-saudaranya, dan memulai perang besar yang akan menentukan siapa yang berhak menguasai dunia.

Namun jauh sebelum Zeus menggenggam petir, semua itu telah dimulai oleh sebuah pemberontakan di antara langit dan bumi.

Uranus pernah percaya bahwa dengan mengurung anak-anaknya, ia dapat mengurung masa depan.

Ia salah.

Di kejauhan, langit tetap membentang luas di atas bumi. Tidak ada takhta di sana, tidak ada mahkota, dan tidak ada pasukan. Hanya hamparan biru yang tidak berujung, menjadi saksi bahwa bahkan penguasa pertama pun pada akhirnya harus menyerahkan dunia kepada generasi yang datang setelahnya.

Last update
Add Comment