Di antara anak-anak Iapetus dan Clymene, Prometheus memiliki sesuatu yang tidak dimiliki saudara-saudaranya. Ia tidak hanya kuat seperti Atlas, tidak hanya memiliki keinginan untuk mempertahankan kekuasaan lama seperti Menoetius, dan tidak pula seperti Epimetheus yang sering bertindak setelah semuanya terlambat. Prometheus memiliki pikiran yang selalu bergerak lebih cepat daripada peristiwa yang sedang terjadi.
Ia dikenal karena kecerdasannya dan kemampuannya melihat sesuatu yang belum dilihat oleh makhluk lain. Bahkan namanya membawa makna tentang kemampuan berpikir sebelum bertindak. Ia adalah Titan yang tidak mudah menerima bahwa dunia harus selalu berjalan menurut kehendak para penguasa.
Ketika perang antara para Titan dan Zeus semakin dekat, Prometheus memahami bahwa generasinya sedang menghadapi perubahan besar. Ia tidak berdiri di sisi Cronus seperti sebagian besar keluarganya. Bersama saudaranya Epimetheus, ia memilih jalan yang berbeda, dan keputusan itu menyelamatkan mereka dari hukuman yang menimpa banyak Titan setelah perang berakhir.
Namun bagi Prometheus, perang itu hanyalah awal.
Perjuangan sebenarnya dimulai ketika manusia hadir di dunia.
Ketika Manusia Masih Lemah
Setelah para Olympian mengambil kekuasaan, dunia manusia masih jauh dari seperti yang dikenal kemudian. Manusia hidup dalam ketakutan terhadap malam, dingin, binatang liar, dan kekuatan alam yang tidak mereka pahami. Mereka dapat melihat langit, tetapi tidak mengetahui rahasianya. Mereka dapat menemukan makanan, tetapi belum memiliki cara untuk membuat kehidupan mereka lebih mudah.
Prometheus melihat keadaan itu dan merasa iba.
Ia telah menyaksikan para dewa memperoleh kekuatan yang begitu besar, sementara manusia hidup tanpa perlindungan. Ia kemudian mulai mengajari manusia berbagai keterampilan yang dapat membuat mereka bertahan hidup. Pengetahuan tentang berburu, membangun tempat tinggal, bekerja dengan logam, dan berbagai keahlian lainnya perlahan berpindah kepada manusia melalui bimbingannya.
Namun ada satu hal yang masih belum mereka miliki.
Api.
Tanpa api, manusia tidak dapat memasak makanan, menghangatkan tubuh, atau mengolah berbagai bahan yang mereka temukan di bumi. Api adalah kekuatan yang selama ini berada di tangan para dewa, dan Zeus tidak berniat memberikannya begitu saja kepada manusia.
Prometheus memandang cahaya api dari kejauhan.
Kemudian ia mengambil keputusan.
Api dari Olympus
Prometheus menyelinap menuju tempat para dewa menyimpan api. Ia mengetahui bahwa jika Zeus mengetahui rencananya, hukuman berat akan menantinya. Namun ia juga mengetahui bahwa tanpa api, manusia akan tetap hidup dalam kelemahan.
Ia mengambil api dan membawanya turun ke bumi.
Manusia menerimanya.
Untuk pertama kalinya, mereka dapat menyalakan api sendiri. Mereka dapat memasak makanan, menghangatkan diri ketika malam datang, dan mulai mengembangkan keterampilan yang sebelumnya mustahil dilakukan. Api mengubah kehidupan mereka.
Namun Zeus segera mengetahui apa yang telah dilakukan Prometheus.
Ia sangat marah.
Bagi Zeus, tindakan Prometheus bukan sekadar pencurian. Itu adalah penghinaan terhadap kekuasaannya. Prometheus telah mengambil sesuatu yang menjadi milik para dewa dan memberikannya kepada manusia tanpa izin.
Hukuman pun disiapkan.
Tetapi sebelum Zeus menghukum Prometheus, sang Titan melakukan satu tindakan lagi yang membuat perseteruan mereka semakin dalam.
Trik Pembagian Kurban
Suatu hari, Prometheus harus menentukan bagaimana manusia akan membagi bagian kurban untuk para dewa. Ia ingin memastikan manusia mendapatkan bagian yang terbaik, tetapi ia tahu bahwa Zeus tidak akan menerima hal itu jika melihatnya secara langsung.
Maka Prometheus menyiapkan dua bagian. Dalam satu bagian, ia menyembunyikan daging yang baik di balik kulit dan bagian yang tampak tidak menarik. Dalam bagian lainnya, ia menempatkan tulang yang dibungkus lemak sehingga terlihat lebih menggiurkan.
Zeus mengetahui bahwa ada tipu daya di balik pembagian itu, tetapi ia tetap memilih bagian yang tampak lebih besar dan lebih menarik. Ketika mengetahui bahwa bagian tersebut hanya berisi tulang, kemarahannya kepada Prometheus semakin besar.
Hubungan antara keduanya tidak lagi dapat diperbaiki.
Zeus kemudian mengambil api dari manusia.
Namun Prometheus tidak menyerah.
Ia mencuri api sekali lagi.
Kali ini, ia menyembunyikannya dalam batang tanaman adas dan membawanya kembali kepada manusia.
Zeus tidak akan memaafkan penghinaan kedua itu.
Hukuman di Gunung Kaukasus
Zeus memerintahkan agar Prometheus dirantai di Gunung Kaukasus.
Tubuh sang Titan diikat pada batu, jauh dari tempat manusia yang dahulu ia lindungi. Setiap hari, seekor elang datang untuk memakan hatinya. Karena Prometheus adalah makhluk abadi, luka itu pulih kembali, dan keesokan harinya penderitaan yang sama terulang.
Hari demi hari.
Tahun demi tahun.
Prometheus tidak dapat membebaskan dirinya.
Namun bahkan dalam penderitaan, ia tidak memohon kepada Zeus untuk mengembalikan keadaannya seperti semula. Ia telah memilih manusia, dan ia menerima akibat dari pilihannya.
Di gunung itu, Prometheus masih memiliki satu hal yang tidak dapat diambil Zeus.
Pengetahuannya.
Ia mengetahui bahwa kekuasaan Zeus sendiri tidak akan bertahan selamanya jika ia tidak berhati-hati. Ada rahasia tentang masa depan yang hanya diketahui oleh Prometheus, dan rahasia itu membuat Zeus tidak dapat sepenuhnya menghancurkannya.
Pandora dan Hukuman bagi Manusia
Zeus juga ingin memberikan hukuman kepada manusia yang telah menerima api dari Prometheus. Maka ia memerintahkan para dewa menciptakan seorang perempuan bernama Pandora.
Pandora diberi berbagai anugerah dan kemudian dikirim kepada manusia dengan sebuah wadah yang tidak boleh dibuka. Namun rasa ingin tahunya akhirnya membuat wadah itu terbuka, dan berbagai penderitaan keluar ke dunia manusia.
Sejak saat itu, manusia harus hidup bersama penyakit, kesusahan, dan berbagai bentuk penderitaan yang sebelumnya tidak mereka kenal.
Prometheus mengetahui bahwa hukuman Zeus tidak hanya ditujukan kepadanya.
Manusia yang ia lindungi juga ikut menanggung akibatnya.
Namun api telah diberikan.
Pengetahuan telah diberikan.
Dan tidak ada yang dapat membuat manusia kembali menjadi makhluk yang sama seperti sebelumnya.
Rahasia yang Dipegang Prometheus
Zeus masih memiliki alasan untuk mempertahankan Prometheus hidup.
Prometheus mengetahui sebuah ramalan tentang masa depan Zeus. Ia mengetahui bahwa suatu hubungan tertentu dapat menghasilkan seorang anak yang kekuatannya akan lebih besar daripada ayahnya. Jika Zeus tidak mengetahui siapa yang terlibat dalam takdir itu, ia sendiri dapat mengalami nasib seperti Cronus.
Zeus membutuhkan jawaban dari Prometheus.
Tetapi Prometheus tidak segera memberikannya.
Selama bertahun-tahun ia tetap terikat di Gunung Kaukasus, memegang pengetahuan yang dapat menyelamatkan atau menghancurkan penguasa Olympus.
Akhirnya, pahlawan datang kepadanya.
Heracles.
Heracles Membebaskan Sang Titan
Dalam salah satu perjalanannya, Heracles mencapai tempat Prometheus dirantai. Ia melihat penderitaan sang Titan dan mengetahui bahwa Prometheus telah menanggung hukuman itu selama waktu yang sangat panjang.
Heracles kemudian membunuh elang yang datang setiap hari dan memutuskan rantai yang mengikat Prometheus.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Prometheus bebas.
Namun Zeus tidak benar-benar melupakan hukumannya. Prometheus tetap harus membawa tanda dari hukuman itu sebagai bagian dari kesepakatan dengan penguasa Olympus. Ia telah melawan Zeus, tetapi pada akhirnya hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit daripada sekadar permusuhan.
Prometheus memiliki sesuatu yang dibutuhkan Zeus.
Pengetahuan tentang masa depan.
Dan Zeus akhirnya harus mendengarkannya.
Api yang Tidak Pernah Padam
Prometheus kembali memandang manusia setelah bebas.
Dunia telah berubah.
Manusia tidak lagi hidup seperti sebelumnya. Mereka memiliki api, keterampilan, tempat tinggal, dan kemampuan untuk mengubah lingkungan di sekitar mereka. Mereka juga harus menghadapi penderitaan yang dilepaskan Pandora, tetapi mereka tidak kembali menjadi makhluk lemah yang dahulu ia temui.
Prometheus mengetahui bahwa pilihannya telah mengubah dunia.
Ia tidak memberikan manusia keabadian.
Ia memberikan sesuatu yang berbeda.
Kemampuan untuk membangun kehidupan mereka sendiri.
Pada suatu malam, sang Titan berdiri di sebuah tempat tinggi dan melihat cahaya api menyala di kejauhan. Api itu kecil jika dibandingkan dengan cahaya matahari atau petir Zeus, tetapi jumlahnya semakin banyak. Di rumah-rumah manusia, di tempat-tempat mereka bekerja, dan di perapian yang menjaga mereka tetap hangat, api terus menyala.
Prometheus memandang cahaya-cahaya itu dalam diam.
Ia pernah dirantai demi api tersebut.
Ia pernah menerima hukuman karena memberikannya kepada manusia.
Namun sekarang api itu telah menjadi milik mereka.
Dan ketika malam semakin gelap, cahaya kecil itu tidak menghilang. Ia terus menyala dari satu tempat ke tempat lain, seolah membawa pesan yang dahulu ingin disampaikan Prometheus kepada dunia: bahwa pengetahuan yang telah diberikan tidak dapat dengan mudah diambil kembali.
