Di antara anak-anak Iapetus dan Clymene, Epimetheus adalah sosok yang sangat berbeda dari saudaranya, Prometheus. Mereka tumbuh dalam keluarga Titan yang sama, bersama Atlas dan Menoetius, tetapi cara mereka memandang dunia tidak pernah benar-benar serupa. Prometheus selalu berpikir jauh ke depan dan memperhitungkan akibat sebelum bertindak, sementara Epimetheus lebih sering memahami sesuatu setelah semuanya terjadi.
Namun perbedaan itu tidak membuat mereka menjadi musuh. Mereka adalah saudara, dan pada masa ketika para Titan masih memegang kekuasaan, keduanya berdiri cukup dekat untuk menyaksikan perubahan besar yang sedang mendekat. Ketika Zeus memimpin para Olympian melawan Cronus dan generasi lama, Epimetheus tidak mengambil posisi yang sama seperti Atlas dan Menoetius. Ia dan Prometheus memilih untuk tidak mempertahankan kekuasaan Titan, sehingga setelah perang berakhir mereka tidak menerima nasib seburuk banyak anggota generasi mereka.
Epimetheus selamat.
Tetapi hidupnya kemudian membawa sebuah pilihan yang mengubah nasib manusia.
Saudara yang Berbeda
Prometheus selalu memperhatikan masa depan. Ia melihat kemungkinan sebelum kemungkinan itu terjadi dan sering kali mengambil keputusan berdasarkan apa yang menurutnya akan datang. Epimetheus justru lebih mudah percaya kepada apa yang ada di hadapannya.
Jika Prometheus bertanya apa yang akan terjadi besok, Epimetheus lebih sering bertanya apa yang dapat dilakukan hari ini.
Keduanya saling melengkapi, tetapi perbedaan mereka juga membuat hubungan mereka rumit. Prometheus sering memperingatkan saudaranya agar tidak terburu-buru menerima sesuatu yang diberikan para dewa. Epimetheus mendengarkan, tetapi tidak selalu memahami alasan di balik peringatan itu.
Setelah perang para Titan berakhir, para dewa baru mulai menata dunia. Manusia pun mendapatkan perhatian Zeus, terutama setelah Prometheus mengambil api dari para dewa dan memberikannya kepada mereka. Tindakan itu membuat Zeus murka, dan sang penguasa Olympus mulai mencari cara untuk membalas manusia sekaligus menghukum Prometheus.
Sementara itu, Epimetheus masih menjalani hidupnya tanpa mengetahui bahwa seseorang sedang dipersiapkan untuk masuk ke dalam kehidupannya.
Namanya Pandora.
Perempuan yang Dikirim Zeus
Zeus memerintahkan para dewa menciptakan seorang perempuan yang memiliki berbagai keistimewaan. Hephaestus membentuk tubuhnya dari tanah, sementara para dewa lain memberinya kecantikan, keterampilan, pesona, dan berbagai kemampuan. Hermes kemudian membawa Pandora menuju dunia manusia.
Pandora tidak datang sebagai ancaman yang terlihat.
Ia datang sebagai hadiah.
Ketika Pandora akhirnya bertemu Epimetheus, Prometheus telah memperingatkannya agar tidak menerima pemberian apa pun dari Zeus. Ia tahu bahwa penguasa Olympus tidak memberikan sesuatu tanpa alasan.
Namun Epimetheus tidak seperti saudaranya.
Ia melihat Pandora dan tidak melihat bahaya.
Ia melihat seseorang yang indah dan berbeda dari semua yang pernah dikenalnya.
Peringatan Prometheus perlahan tersisih dari pikirannya.
Epimetheus menerima Pandora sebagai istrinya.
Dan dengan keputusan itu, takdir manusia berubah.
Kotak yang Tidak Boleh Dibuka
Pandora datang membawa sebuah wadah yang telah dipercayakan kepadanya. Ia diperintahkan untuk tidak membukanya, tetapi rasa ingin tahu semakin kuat setiap kali ia melihatnya.
Epimetheus mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak biasa di rumah mereka, tetapi ia tidak memahami apa yang disembunyikan wadah tersebut. Ia tidak mampu membaca masa depan seperti Prometheus, dan ia tidak mengetahui bahwa Zeus telah menempatkan penderitaan manusia di balik penutupnya.
Suatu hari, Pandora akhirnya membuka wadah itu.
Seketika berbagai penderitaan yang sebelumnya belum dikenal manusia keluar ke dunia. Penyakit, kesedihan, kerja keras, dan berbagai kesulitan menyebar ke seluruh penjuru bumi. Pandora segera menutupnya kembali, tetapi semuanya telah terlambat.
Epimetheus melihat dunia berubah.
Ia menyadari bahwa peringatan Prometheus benar.
Tetapi seperti namanya sendiri, pemahaman itu datang setelah keputusan dibuat.
Di dasar wadah masih tersisa satu hal.
Harapan.
Harapan tidak ikut pergi bersama penderitaan. Ia tetap berada di dalam wadah, menjadi sesuatu yang dapat menemani manusia ketika kehidupan menjadi berat.
Bagi Epimetheus, itu mungkin satu-satunya penghiburan yang tersisa.
Suami Pandora
Setelah kejadian itu, Epimetheus tidak meninggalkan Pandora.
Ia tahu bahwa kesalahan tersebut telah mengubah dunia, tetapi Pandora bukan satu-satunya penyebabnya. Ia sendiri telah menerima pemberian yang telah diperingatkan oleh saudaranya untuk ditolak.
Kini keduanya harus hidup dalam dunia yang telah berubah.
Manusia tidak lagi mengenal kehidupan tanpa penyakit dan kesulitan. Namun mereka juga memiliki harapan, kemampuan untuk terus mencoba, dan keberanian untuk membangun kehidupan meskipun dunia tidak lagi mudah.
Epimetheus melihat semua itu dari dekat.
Ia belajar bahwa tidak semua kesalahan dapat diperbaiki dengan menghapus apa yang telah terjadi. Kadang-kadang seseorang hanya dapat menerima akibatnya dan berusaha menjalani kehidupan setelahnya.
Hubungannya dengan Pandora pun menjadi bagian dari dunia baru manusia.
Mereka hidup bersama, membawa kisah yang akan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Anak yang Melanjutkan Keturunan
Dari Epimetheus dan Pandora lahirlah seorang putri bernama Pyrrha.
Pyrrha tumbuh sebagai keturunan langsung para Titan, tetapi dunia yang ia kenal sudah jauh berbeda dari dunia tempat Epimetheus dan saudara-saudaranya dilahirkan. Para Olympian telah berkuasa, manusia telah berubah, dan penderitaan telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Namun Pyrrha kelak akan menghadapi bencana yang jauh lebih besar.
Ia menikah dengan Deucalion, putra Prometheus. Dengan demikian, dua garis keturunan dari keluarga Iapetus kembali bersatu melalui generasi berikutnya.
Epimetheus menjadi kakek dari generasi yang akan menyaksikan kehancuran besar dunia manusia.
Ketika Air Menutupi Dunia
Zeus kemudian memandang manusia dan melihat bahwa mereka telah semakin jauh dari jalan yang diharapkannya. Ia memutuskan untuk menghukum mereka dengan banjir besar.
Hujan turun tanpa henti.
Sungai meluap.
Laut naik.
Tanah yang selama ini menjadi tempat manusia hidup perlahan menghilang di bawah air.
Namun Prometheus telah mengetahui bahaya yang akan datang dan memperingatkan putranya, Deucalion. Ia meminta Deucalion membuat sebuah peti besar agar dirinya dan Pyrrha dapat bertahan.
Epimetheus tidak ikut berada di dalam peti itu.
Ia telah hidup jauh lebih lama daripada manusia biasa, tetapi banjir tersebut menutup zaman yang telah ia kenal. Dunia lama manusia menghilang di bawah air, sementara Deucalion dan Pyrrha menjadi dua orang yang berhasil bertahan.
Ketika air akhirnya surut, mereka keluar ke dunia yang hampir kosong.
Di sana, mereka menjadi awal dari generasi manusia yang baru.
Setelah Dunia Dilahirkan Kembali
Deucalion dan Pyrrha kemudian memohon kepada para dewa agar manusia kembali memenuhi bumi. Mereka memperoleh petunjuk untuk melemparkan batu-batu ke belakang tubuh mereka, dan dari batu-batu itu lahirlah manusia baru.
Dengan demikian, keturunan Epimetheus dan Pandora menjadi bagian dari awal baru umat manusia.
Epimetheus sendiri telah menghilang dari pusat kisah.
Namun jejaknya tetap ada.
Ia adalah ayah Pyrrha, suami Pandora, saudara Prometheus, dan salah satu Titan yang hidup melewati pergantian dunia. Kesalahannya telah membawa penderitaan ke dalam kehidupan manusia, tetapi keturunannya kemudian membantu manusia bangkit setelah banjir besar.
Takdir Epimetheus terasa seperti namanya sendiri.
Ia sering memahami sesuatu setelah semuanya terjadi.
Namun itu tidak berarti hidupnya hanya berisi kesalahan.
Ia juga belajar menerima akibat, menjaga keluarganya, dan tetap melangkah setelah dunia berubah.
Di Dunia yang Baru
Suatu hari, ketika banjir telah lama menjadi kenangan dan manusia kembali memenuhi bumi, kisah Epimetheus semakin jauh tertinggal. Anak-anak manusia yang baru tidak mengenal dunia sebelum banjir. Mereka hanya mengenal tanah yang telah kembali kering dan kehidupan yang perlahan tumbuh di atasnya.
Namun jauh di dalam garis keturunan mereka, darah Epimetheus masih mengalir.
Di suatu tempat, manusia menyalakan api untuk memasak dan menghangatkan diri. Mereka bekerja, membangun rumah, menanam tanaman, dan menghadapi kesulitan yang telah menjadi bagian dari kehidupan sejak Pandora membuka wadah itu.
Tetapi mereka juga memiliki harapan.
Epimetheus mungkin tidak pernah memiliki kemampuan Prometheus untuk melihat apa yang akan terjadi. Ia tidak mampu mencegah semua kesalahan yang datang kepadanya. Namun pada akhirnya, ia menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dunia telah berubah berkali-kali.
Para Titan telah jatuh.
Olympus telah berdiri.
Manusia telah mengalami penderitaan dan kehancuran.
Lalu mereka membangun kembali.
Dan ketika kehidupan baru mulai memenuhi bumi, kisah Epimetheus pun terus berjalan melalui keturunannya—seorang Titan yang mungkin terlambat memahami banyak hal, tetapi tetap menjadi bagian dari alasan mengapa manusia masih memiliki harapan untuk memulai kembali.
