Sebelum laut mengenal namanya, Poseidon adalah salah satu anak Cronus dan Rhea yang hidup di bawah ketakutan ayahnya sendiri. Ia adalah saudara Hestia, Demeter, Hera, Hades, dan Zeus. Seperti saudara-saudaranya, Poseidon ditelan oleh Cronus segera setelah lahir karena sang Titan takut ramalan tentang kejatuhannya menjadi kenyataan.
Bertahun-tahun kemudian, Zeus tumbuh dan memaksa Cronus memuntahkan anak-anaknya. Poseidon kembali melihat dunia bersama saudara-saudaranya, tetapi kebebasan itu tidak berlangsung lama. Zeus kemudian memimpin mereka dalam perang melawan Cronus dan para Titan.
Poseidon berdiri di pihak Zeus.
Ia bukan sekadar mengikuti saudaranya. Poseidon membawa kekuatan besar dan kemarahan yang mudah meledak, seperti laut yang tenang di permukaan tetapi menyimpan badai jauh di bawahnya. Ketika perang berlangsung, ia bertarung bersama Zeus dan Hades untuk menjatuhkan generasi lama.
Setelah kemenangan mereka, dunia harus dibagi.
Dan bagi Poseidon, takdir membawanya menuju laut.
Penguasa Tiga Alam
Zeus memperoleh langit, Hades memperoleh dunia bawah, sementara Poseidon memperoleh laut melalui undian. Bumi tetap menjadi wilayah yang dapat mereka datangi bersama, tetapi lautan menjadi kerajaan Poseidon.
Di sana, kekuatannya tidak terbatas.
Ia dapat mengangkat ombak, mengirim badai, mengguncang bumi, dan membuat laut tenang kembali. Senjata utamanya adalah trisula, senjata yang menjadi lambang kekuasaannya. Dengan satu hentakan, ia dapat membuat air bergolak atau bumi bergetar.
Karena itu manusia memberinya banyak nama dan julukan. Ia adalah penguasa laut, pelindung para pelaut, tetapi juga dewa gempa yang dapat mengguncang daratan ketika murkanya bangkit.
Poseidon tidak selalu tinggal di Olympus. Ia memiliki istana di kedalaman laut, tempat ia memerintah bersama Amphitrite, seorang Nereid yang kemudian menjadi istrinya.
Namun sebelum Amphitrite menjadi ratunya, Poseidon telah mengalami banyak perselisihan dengan para dewa dan manusia.
Amphitrite dan Kerajaan Laut
Amphitrite adalah putri Nereus dan Doris, salah satu Nereid yang hidup bersama saudari-saudarinya di laut. Ketika Poseidon melihatnya, ia menginginkannya menjadi istrinya.
Namun Amphitrite tidak langsung menerima.
Ia melarikan diri ke Atlas dan bersembunyi di tempat yang jauh dari jangkauan Poseidon. Poseidon kemudian mengirim Delphinus, seekor lumba-lumba, untuk mencarinya. Delphinus menemukan Amphitrite dan membujuknya agar kembali.
Amphitrite akhirnya menjadi istri Poseidon dan ratu laut.
Dari hubungan mereka lahirlah Triton, dewa laut yang memiliki tubuh manusia dan ekor ikan. Triton kelak menjadi pembawa pesan ayahnya dan mampu menggunakan suara kerang untuk menenangkan atau membangkitkan gelombang.
Bersama Amphitrite, Poseidon memiliki pusat kekuasaan di bawah laut.
Namun Poseidon tetap sering terlibat dengan dunia di atas permukaan air.
Kota yang Diperebutkan
Suatu ketika, Poseidon menginginkan sebuah kota di Attika sebagai wilayah yang berada di bawah perlindungannya. Athena juga menginginkan kota yang sama.
Keduanya datang untuk menunjukkan apa yang dapat mereka berikan kepada penduduknya.
Poseidon memukul tanah dengan trisulanya.
Dari tempat itu muncul sumber air. Namun air yang keluar ternyata asin dan tidak banyak membantu kehidupan manusia.
Athena kemudian menanam sebuah pohon zaitun.
Pohon itu memberikan kayu, buah, minyak, dan berbagai manfaat bagi manusia.
Penduduk memilih Athena sebagai pelindung kota.
Poseidon sangat marah.
Ia merasa telah dipermalukan oleh keputusan tersebut dan mengirim banjir sebagai hukuman. Namun pada akhirnya, kota itu tetap menjadi milik Athena dan dikenal sebagai Athena.
Poseidon tidak melupakan penghinaan itu.
Hubungan antara dirinya dan Athena kemudian tetap dipenuhi persaingan.
Odysseus dan Kemarahan Laut
Salah satu manusia yang paling merasakan kemarahan Poseidon adalah Odysseus.
Setelah perang Troy berakhir, Odysseus memulai perjalanan pulang menuju Ithaca. Namun ia telah membuat Poseidon murka setelah membutakan Polyphemus, seorang Cyclops yang merupakan putra sang dewa.
Ketika mengetahui apa yang telah dilakukan Odysseus, Poseidon bersumpah membuat perjalanan pulangnya menjadi panjang dan menyakitkan.
Laut yang seharusnya menjadi jalan pulang berubah menjadi penghalang.
Badai membawa kapal Odysseus menjauh.
Ia kehilangan banyak anak buah.
Ia terdampar di pulau-pulau asing dan bertahun-tahun tidak dapat kembali kepada istrinya, Penelope, dan putranya, Telemachus.
Setiap kali Odysseus hampir mencapai rumah, kekuatan Poseidon kembali menghadangnya.
Namun Poseidon tidak dapat selamanya mencegah manusia yang telah ditakdirkan pulang.
Akhirnya Odysseus mencapai Ithaca.
Tetapi perjalanan panjang itu menjadi salah satu contoh paling terkenal tentang betapa berbahayanya membuat penguasa laut menjadi musuh.
Poseidon dan Minotaur
Poseidon juga memiliki hubungan dengan kisah Minotaur.
Suatu ketika, Raja Minos dari Kreta meminta tanda dari Poseidon untuk membuktikan bahwa ia memang layak menjadi raja. Poseidon mengirim seekor banteng putih yang sangat indah dari laut dan meminta Minos mempersembahkannya kembali.
Namun Minos terpesona oleh keindahan banteng itu.
Ia menyimpannya dan mengorbankan hewan lain sebagai gantinya.
Poseidon mengetahui tipu daya tersebut dan menjadi murka. Ia membuat Pasiphae, istri Minos dan putri Helios, jatuh cinta kepada banteng itu. Dari hubungan yang mengerikan tersebut lahirlah Minotaur, makhluk bertubuh manusia dan berkepala banteng yang kemudian dikurung di dalam Labirin.
Dengan demikian, kemarahan Poseidon kembali menghasilkan akibat yang jauh lebih besar daripada penghinaan awalnya.
Anak-Anak Sang Penguasa Laut
Poseidon memiliki banyak keturunan, baik dari Amphitrite maupun dari hubungan lainnya. Triton adalah putranya yang paling terkenal dari Amphitrite, tetapi garis keturunan Poseidon menyebar jauh ke dunia para dewa dan manusia.
Pegasus dan Chrysaor lahir dari Medusa setelah Perseus memenggal kepalanya, dan darah Poseidon mengalir dalam diri mereka karena Medusa pernah menjadi kekasih sang dewa. Orion juga dikaitkan dengan Poseidon sebagai putranya, dan ia tumbuh menjadi pemburu raksasa yang kelak dikenal di antara bintang-bintang.
Tidak semua keturunan Poseidon membawa kedamaian.
Beberapa justru mewarisi sifat ayah mereka: kekuatan besar, kebebasan, dan kecenderungan untuk tidak tunduk kepada siapa pun.
Penguasa yang Tidak Mudah Dilupakan
Poseidon bukan dewa yang mudah dipahami.
Ia dapat menjadi pelindung para pelaut, tetapi juga dapat menghancurkan kapal mereka dengan badai. Ia dapat memberikan air kepada manusia, tetapi juga mampu mengirim banjir. Ia dapat menjadi sekutu, tetapi penghinaan terhadapnya dapat membuat seseorang dikejar selama bertahun-tahun.
Seperti laut yang menjadi wilayahnya, Poseidon memiliki dua wajah.
Tenang ketika tidak diganggu.
Menghancurkan ketika kemarahannya bangkit.
Karena itu, para pelaut selalu memberikan penghormatan kepadanya sebelum berlayar. Mereka mengetahui bahwa perjalanan di laut bukan hanya soal keberanian manusia. Mereka juga harus mendapat izin dari kekuatan yang jauh lebih besar.
Trisula di Atas Ombak
Pada suatu malam, Poseidon berdiri di depan istananya di dasar laut. Di sekelilingnya, makhluk-makhluk laut bergerak melewati pilar-pilar kerajaan, sementara Amphitrite duduk tidak jauh darinya.
Poseidon mengangkat trisulanya.
Laut berubah.
Gelombang yang sebelumnya tenang mulai bergerak semakin tinggi. Dari kejauhan terdengar suara badai, dan permukaan laut mulai bergolak.
Kemudian Poseidon menurunkan trisulanya.
Semuanya kembali tenang.
Di atas permukaan, para pelaut yang tidak mengetahui apa yang terjadi terus menjalankan perjalanan mereka.
Mereka tidak melihat sang dewa.
Namun mereka merasakan kekuasaannya.
Poseidon kembali memandang kerajaan lautnya. Di sana, tidak ada takhta Olympus yang dapat mengambil wilayahnya. Laut adalah miliknya, dari pantai hingga kedalaman yang tidak pernah dapat dijangkau manusia.
Dan selama ombak masih bergerak, badai masih datang, dan bumi masih dapat berguncang di bawah kaki manusia, nama Poseidon akan tetap hidup sebagai penguasa yang tidak pernah benar-benar dapat ditundukkan.
