Sebelum Olympus dipenuhi oleh para dewa yang kelak dikenal manusia, lahirlah seorang putri dari Cronus dan Rhea. Namanya Hestia.
Ia adalah anak pertama dalam keluarga yang kemudian melahirkan Demeter, Hera, Hades, Poseidon, dan Zeus. Sebagai putri sulung, Hestia datang ke dunia pada masa ketika Cronus masih memegang kekuasaan dan ketakutannya terhadap ramalan membuatnya tidak percaya kepada anak-anaknya sendiri.
Cronus telah mendengar bahwa salah satu keturunannya kelak akan menggulingkan dirinya. Karena takut kehilangan takhta, setiap kali Rhea melahirkan seorang anak, Cronus menelannya. Hestia menjadi anak pertama yang mengalami nasib itu. Setelahnya Demeter, Hera, Hades, dan Poseidon juga ditelan, sementara Rhea akhirnya menyembunyikan Zeus dan memberikan batu yang dibungkus kain kepada Cronus sebagai penggantinya.
Hestia tetap berada di dalam tubuh ayahnya sampai Zeus tumbuh dewasa dan datang untuk menantang Cronus. Dengan bantuan Gaia dan sebuah ramuan, Zeus membuat Cronus memuntahkan anak-anak yang selama ini ditelannya. Hestia pun kembali ke dunia bersama saudara-saudaranya.
Ia telah lahir sebagai yang pertama, tetapi ketika keluar dari tubuh Cronus, ia menjadi yang terakhir.
Sejak saat itu, Hestia berdiri di antara saudara-saudaranya sebagai sosok yang telah melihat dua sisi dunia: dunia lama para Titan dan dunia baru yang akan dibangun oleh anak-anak Rhea.
Ketika Olympus Berdiri
Perang melawan para Titan mengubah dunia. Zeus, Poseidon, dan Hades mengambil senjata mereka dan bersama saudara-saudaranya melawan generasi Cronus. Hestia tidak dikenal sebagai pejuang yang mengangkat senjata di medan perang. Kekuatannya berada di tempat lain.
Ketika perang berakhir dan para saudara laki-lakinya membagi wilayah dunia, Zeus memperoleh langit, Poseidon mendapatkan laut, dan Hades menguasai dunia bawah. Hestia memilih tempat yang tidak dapat dibatasi oleh kerajaan mana pun.
Ia memilih perapian.
Api telah dikenal manusia sejak lama, tetapi api di perapian memiliki arti yang berbeda. Api itu bukan api perang dan bukan api penghancuran. Ia adalah api yang menyala di tengah rumah, tempat makanan dimasak, keluarga berkumpul, dan orang asing dapat diterima sebagai tamu.
Hestia menjadi penjaga api suci tersebut.
Di Olympus, ia menjaga perapian para dewa. Di dunia manusia, setiap rumah yang memiliki perapian membawa sebagian kecil dari wilayahnya.
Karena itu, Hestia tidak membutuhkan kerajaan.
Rumah adalah kerajaannya.
Dewi yang Tidak Menginginkan Takhta
Di antara para dewa Olympus, Hestia memiliki sifat yang berbeda. Ia tidak mengejar kekuasaan, tidak mencari kemasyhuran, dan tidak tertarik pada peperangan yang sering melibatkan keluarganya.
Ia lebih suka tinggal di tengah tempat yang tenang.
Namun ketenangan Hestia bukan berarti kelemahan. Ia memiliki kedudukan yang sangat penting karena perapian merupakan pusat kehidupan rumah tangga dan tempat manusia menghormati para dewa. Ketika sebuah keluarga berkumpul di sekeliling api, ketika makanan pertama dipersembahkan, atau ketika seorang tamu diterima ke dalam rumah, Hestia hadir di sana.
Ia menjadi pengikat keluarga.
Karena itu, meskipun Hestia jarang muncul dalam kisah-kisah yang penuh peperangan dan perebutan kekuasaan, kehadirannya justru ada di hampir setiap tempat yang dihuni manusia.
Hestia dan Para Pelamar
Ketenangan Hestia tidak membuatnya luput dari perhatian para dewa. Dua dewa besar, Poseidon dan Apollo, pernah menginginkannya sebagai pasangan.
Namun Hestia tidak menginginkan pernikahan.
Ia telah melihat bagaimana cinta, perkawinan, dan keturunan sering membawa perselisihan ke dalam keluarga para dewa. Ia memilih jalan yang berbeda dan bersumpah untuk tetap menjaga keperawanannya, mengabdikan dirinya kepada tugas yang telah dipilihnya.
Zeus menghormati keputusan itu.
Sebagai gantinya, Hestia memperoleh kehormatan besar di antara para dewa: ia akan menerima bagian kehormatan dalam setiap rumah dan setiap persembahan. Dengan demikian, Hestia tidak menjadi istri seorang dewa atau ibu dari garis keturunan ilahi yang panjang.
Ia menjadi sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih luas.
Ia menjadi pusat rumah.
Api yang Menghubungkan Dunia
Di dunia manusia, sebuah kota tidak hanya memiliki rumah-rumah pribadi. Kota itu juga memiliki perapian umum yang dijaga sebagai api suci. Api tersebut menjadi lambang keberlangsungan komunitas, dan ketika sebuah koloni baru didirikan, api dari kota asal dapat dibawa untuk menyalakan perapian baru.
Dengan cara itu, Hestia ikut melakukan sesuatu yang tidak dilakukan kebanyakan dewa.
Ia menghubungkan tempat yang satu dengan tempat yang lain.
Sebuah kota yang jauh masih membawa api dari rumah lamanya. Sebuah keluarga yang meninggalkan tanah kelahiran dapat membawa ingatan tentang perapian yang pernah mereka tinggalkan. Selama api tetap menyala, hubungan dengan rumah belum sepenuhnya terputus.
Hestia menjaga makna itu.
Ia tidak perlu turun ke medan perang untuk memengaruhi manusia. Ia hanya perlu memastikan bahwa api tidak padam.
Ketika Para Dewa Bertengkar
Keluarga Olympus tidak pernah benar-benar tenang. Zeus dan Hera sering berselisih, Poseidon memiliki kehendaknya sendiri, Athena dan Ares berbeda dalam cara mereka memahami perang, sementara para dewa lainnya terus membawa urusan mereka ke hadapan penguasa Olympus.
Hestia sering berada di tengah semua itu tanpa ikut terseret.
Ketika para dewa bertengkar, ia tetap menjaga perapian.
Ketika seseorang pergi meninggalkan Olympus, api tetap menyala.
Ketika seseorang kembali, tempat di dekat perapian masih tersedia.
Ia menjadi sosok yang mengingatkan para dewa bahwa bahkan makhluk abadi membutuhkan tempat untuk kembali.
Namun suatu ketika, Hestia mengambil keputusan yang menunjukkan betapa sedikitnya ia peduli terhadap kedudukan dan kehormatan pribadi.
Takhta yang Diberikan kepada Dionysus
Dionysus akhirnya diterima sebagai salah satu dewa Olympus. Namun jumlah tempat di antara dua belas Olympian menjadi persoalan, dan Hestia memilih untuk menyerahkan tempatnya agar tidak terjadi perselisihan.
Ia tidak mempertahankan kedudukannya.
Ia tidak meminta Zeus membelanya.
Ia hanya turun dari tempatnya dan kembali kepada perapian.
Dionysus kemudian mengambil tempat di antara para Olympian, sementara Hestia tetap berada di pusat rumah mereka.
Keputusan itu sangat sesuai dengan dirinya. Hestia tidak pernah membutuhkan takhta untuk mengetahui siapa dirinya.
Baginya, menjaga rumah lebih penting daripada duduk di kursi kehormatan.
Api yang Menjaga Rumah
Pada malam yang sunyi, ketika para dewa telah meninggalkan ruang pertemuan Olympus, Hestia masih berada di dekat perapian.
Api menyala perlahan.
Tidak ada perang.
Tidak ada petir Zeus.
Tidak ada gelombang Poseidon.
Tidak ada bayangan dunia bawah yang dibawa Hades.
Hanya api kecil yang menerangi ruangan.
Hestia memandangnya dalam diam. Api itu mengingatkannya pada begitu banyak rumah di dunia manusia. Di tempat-tempat yang jauh, orang-orang berkumpul di sekeliling perapian mereka. Ada keluarga yang sedang makan, orang tua yang menunggu anaknya pulang, pengelana yang menemukan tempat untuk beristirahat, dan kota-kota yang menjaga api sucinya agar tidak pernah padam.
Hestia tidak perlu melihat semuanya dengan matanya sendiri.
Ia tahu bahwa selama api tetap menyala, tugasnya belum selesai.
Di luar, malam menyelimuti Olympus. Bintang-bintang memenuhi langit, sementara angin bergerak melewati pegunungan. Para dewa mungkin akan kembali bertengkar ketika pagi tiba, dan dunia manusia akan kembali dipenuhi masalahnya sendiri.
Namun di tengah semuanya, api Hestia tetap menyala.
Kecil, tenang, dan tidak menuntut perhatian.
Tetapi selama seseorang masih membutuhkan tempat untuk pulang, selama sebuah keluarga masih berkumpul di sekeliling api, dan selama sebuah rumah masih membuka pintunya bagi seorang tamu, Hestia akan tetap berada di sana.
Menjaga perapian.
Menjaga rumah.
Dan menjaga api yang membuat sebuah tempat terasa seperti rumah.
