Selene — Sang Titaness Bulan

   
Selene — Sang Titaness Bulan

Selene — Sang Titaness Bulan

Ketika malam turun dan cahaya matahari menghilang dari langit, dunia tidak sepenuhnya menjadi gelap. Dari kejauhan, sebuah cahaya pucat mulai naik di atas cakrawala, perlahan menerangi laut, gunung, dan jalan-jalan yang telah ditinggalkan manusia. Cahaya itu berasal dari Selene, putri Hyperion dan Theia, saudari Helios dan Eos.

Jika Helios membawa matahari melintasi langit pada siang hari, Selene membawa bulan pada malam hari. Ia mengendarai kereta peraknya melewati langit yang gelap, dan kehadirannya membuat malam memiliki wajah yang berbeda. Tidak seterang siang, tetapi cukup untuk membuat dunia terlihat kembali setelah matahari pergi.

Selene adalah salah satu Titaness yang tetap menjalankan tugasnya bahkan setelah para Olympian mengambil kekuasaan dari generasi lama. Ia tidak membutuhkan takhta Olympus untuk mempertahankan tempatnya di langit. Setiap malam, ketika waktunya tiba, ia muncul dan membawa cahaya bulan ke seluruh dunia.

Perjalanan Sang Bulan

Selene tidak pernah terburu-buru.

Kereta bulan bergerak melintasi langit dengan tenang, mengikuti jalur yang telah dikenalnya sejak zaman para Titan. Dari sana, Selene melihat dunia ketika manusia mulai beristirahat, para pelaut mencari arah di tengah laut, dan binatang-binatang malam mulai bergerak keluar dari tempat persembunyian.

Bulan menjadi saksi bagi dunia yang berbeda dari dunia yang dilihat Helios.

Pada siang hari, manusia bekerja di bawah cahaya matahari. Pada malam hari, mereka berbicara lebih pelan, menyalakan api, dan menatap langit untuk mencari tanda-tanda yang tidak mereka pahami.

Selene melihat semuanya dari atas.

Ia melihat laut berubah warna di bawah cahaya peraknya. Ia melihat bayangan gunung memanjang di tanah. Ia melihat jalan-jalan yang sepi dan rumah-rumah yang mulai memadamkan lampu. Malam tidak pernah benar-benar kosong selama Selene masih menjalankan perjalanannya.

Namun di antara semua hal yang dilihatnya dari langit, ada seorang manusia yang akhirnya menarik perhatian Selene.

Namanya Endymion.

Ketika Selene Melihat Endymion

Endymion adalah seorang pemuda dari Elis yang dikenal karena ketampanannya. Suatu malam, ketika Selene melewati langit, pandangannya jatuh kepada Endymion yang sedang tertidur.

Selene berhenti untuk memandangnya.

Ia telah melihat manusia selama bertahun-tahun, tetapi belum pernah merasakan ketertarikan seperti itu. Setiap malam, ketika keretanya melewati tempat yang sama, ia kembali mencari sosok Endymion.

Perasaan itu semakin dalam.

Namun Selene adalah seorang dewi, sementara Endymion hanyalah manusia. Waktu yang mereka miliki tidak sama. Selene akan terus berada di langit ketika kehidupan Endymion seharusnya berjalan menuju usia tua dan kematian.

Selene tidak dapat menerima hal itu.

Maka Endymion memilih tidur abadi.

Ia dibaringkan dalam sebuah gua di Gunung Latmos, dan sejak saat itu ia tidak lagi mengalami kehidupan manusia seperti sebelumnya. Tubuhnya tetap muda, sementara Selene dapat datang menemuinya setiap malam.

Selene turun dari langit ketika bulan berada tinggi di atas Gunung Latmos. Ia mendatangi Endymion yang masih tertidur dan memandang wajahnya dalam keheningan.

Tidak ada percakapan di antara mereka.

Hanya seorang dewi yang datang setiap malam kepada seseorang yang tidak pernah terbangun.

Seratus Anak di Bawah Cahaya Bulan

Dari hubungan Selene dan Endymion lahirlah banyak anak. Yang paling terkenal di antara mereka adalah lima puluh putri bernama Menae, yang dikaitkan dengan bulan-bulan dalam siklus lunar. Putri-putri itu seakan membawa sebagian dari ibunya ke dalam dunia manusia.

Namun bagi Selene, jumlah anak tidak mengubah satu hal: Endymion tetap tertidur.

Ia terus datang.

Malam demi malam.

Tahun demi tahun.

Dunia berubah di bawahnya, tetapi wajah Endymion tetap sama.

Selene menyaksikan generasi manusia lahir dan meninggal sementara manusia yang dicintainya tidak berubah sedikit pun. Ada keindahan dalam keabadian itu, tetapi juga kesedihan yang tidak dapat dihindari.

Ia dapat memiliki Endymion selamanya.

Namun ia tidak pernah dapat berbicara dengannya.

Selene dan Helios

Di langit, Selene tidak pernah benar-benar sendirian. Ia memiliki saudara laki-laki, Helios, yang membawa matahari pada siang hari, dan saudari, Eos, yang membuka jalan bagi fajar.

Mereka bertiga membentuk perjalanan cahaya yang terus berulang.

Eos datang lebih dahulu.

Helios mengikuti.

Kemudian Selene mengambil alih ketika malam tiba.

Tidak ada seorang pun dari mereka yang dapat berhenti terlalu lama, karena dunia bergantung pada pergantian mereka.

Selene terkadang melihat cahaya terakhir Helios menghilang di ufuk barat sebelum keretanya sendiri muncul dari sisi timur. Mereka tidak pernah benar-benar bertemu di langit untuk waktu lama, tetapi mereka selalu mengetahui bahwa yang satu akan menggantikan yang lain.

Namun zaman berubah.

Para Olympian semakin kuat, dan nama-nama baru mulai memenuhi kisah manusia. Artemis kemudian menjadi sangat dekat dengan bulan dalam pemujaan dan gambaran dunia Yunani, tetapi Selene tetap memiliki tempatnya sendiri sebagai dewi bulan.

Ia tidak membutuhkan siapa pun untuk mengambil cahaya darinya.

Bulan tetap menjadi miliknya.

Malam yang Tidak Pernah Berakhir

Suatu malam, Selene kembali melintasi langit.

Bumi berada di bawah cahaya pucatnya. Laut bergerak perlahan, dan pegunungan terlihat seperti bayangan hitam di kejauhan.

Selene memandang ke bawah.

Di suatu tempat, Endymion masih tertidur di dalam gua Gunung Latmos.

Ia tahu bahwa ketika perjalanannya selesai, ia akan kembali lagi ke sana.

Tidak peduli berapa banyak tahun berlalu.

Tidak peduli berapa banyak generasi manusia datang dan pergi.

Endymion akan tetap menunggunya dalam tidurnya.

Selene terus mengendalikan keretanya.

Bulan bergerak semakin tinggi.

Di bawahnya, dunia semakin sunyi.

Kemudian ia menoleh ke arah Gunung Latmos, tempat seseorang yang dicintainya masih tertidur dalam keheningan yang tidak berakhir.

Cahaya bulan jatuh ke lereng gunung.

Untuk sesaat, gua tempat Endymion berada terlihat dari kejauhan.

Selene memperlambat keretanya.

Malam masih panjang.

Dan selama malam belum berakhir, ia masih memiliki waktu untuk turun sekali lagi menemui manusia yang membuatnya rela meninggalkan langit.

Last update
Add Comment