Jauh sebelum kapal pertama menyentuh permukaan laut dan sebelum manusia mengenal nama-nama bintang yang menuntun mereka pulang, ada sebuah wilayah di mana laut dan langit seolah belum memiliki batas. Kabut menggantung rendah di atas air, ombak bergerak tanpa arah, dan di kejauhan cahaya aneh sering muncul lalu menghilang tanpa meninggalkan jejak. Di sanalah Thaumas tumbuh.
Ia adalah putra Pontus, laut purba yang lahir dari kekosongan awal dunia, dan Gaia, bumi yang menjadi ibu bagi begitu banyak kekuatan tua. Dari kedua darah itu mengalir sesuatu yang tidak biasa dalam diri Thaumas. Ia bukan penguasa badai seperti sebagian keturunannya kelak, bukan pula monster yang muncul dari kedalaman. Ia adalah sosok yang berdiri di antara laut dan langit, antara keindahan dan ketakutan, antara sesuatu yang dapat dilihat dan sesuatu yang hanya dapat dirasakan.
Sejak muda, Thaumas memiliki kebiasaan yang membuat saudara-saudaranya merasa asing kepadanya. Ia sering meninggalkan daratan dan berjalan sendirian di sepanjang tepian laut, memperhatikan perubahan warna air, gerak awan, dan cahaya yang muncul di kejauhan. Ia tidak takut pada sesuatu yang tidak dikenalnya. Justru ketidaktahuan itulah yang membuatnya terus mencari.
Suatu malam, ketika laut sedang tenang dan bulan tertutup awan, Thaumas melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Sebuah cahaya muncul di atas permukaan laut.
Bukan api. Bukan bintang. Cahaya itu membentang seperti tirai tipis, berkilau di antara langit dan air, lalu pecah menjadi warna-warna yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Thaumas berdiri diam.
Ia tidak tahu bahwa sepanjang zaman, manusia kelak akan melihat cahaya serupa setelah hujan turun dan menyebutnya sebagai pelangi.
Baginya, malam itu hanyalah awal dari sebuah rahasia panjang.
Di Antara Laut dan Langit
Thaumas semakin sering pergi ke tempat-tempat yang jarang didatangi makhluk lain. Ia menjelajahi pantai yang belum memiliki nama, menyusuri tebing yang hanya dihantam burung laut, dan berenang ke perairan yang bahkan makhluk-makhluk laut enggan dekati.
Ia menemukan bahwa dunia jauh lebih luas daripada yang tampak dari daratan.
Ada kabut yang menyembunyikan pulau-pulau. Ada angin yang membawa suara dari tempat yang sangat jauh. Ada badai yang muncul tanpa peringatan dan langit yang berubah warna beberapa saat sebelum hujan turun. Semuanya memiliki pola, tetapi pola itu tidak pernah benar-benar dapat ia kuasai.
Thaumas tidak berusaha menaklukkan semuanya.
Ia memilih mengamati.
Dari sanalah sifatnya terbentuk. Ia menjadi sosok yang tenang, tetapi bukan berarti lembut. Di dalam dirinya terdapat kekuatan tua yang sama dengan laut tempat ia dilahirkan. Ketika laut mengamuk, ia dapat merasakan perubahan itu lebih dahulu daripada makhluk lain. Ketika angin berubah, ia tahu sebelum layar pertama mengembang.
Namun ada satu hal yang paling menarik perhatiannya: batas antara laut dan langit.
Setiap kali matahari tenggelam, batas itu menghilang. Air berubah menjadi warna tembaga, langit berubah menjadi merah, lalu semuanya perlahan menjadi gelap. Thaumas menyukai saat-saat seperti itu karena dunia tampak tidak memiliki ujung.
Pada suatu petang, ia berdiri di sebuah tanjung tinggi ketika badai besar mendekat. Angin menghantam wajahnya, sementara ombak di bawah tebing pecah seperti gunung-gunung kecil. Thaumas tidak bergerak.
Ia menatap langit.
Di antara awan hitam, cahaya matahari tiba-tiba menembus celah sempit. Sinar itu jatuh ke hujan yang turun di kejauhan, dan untuk sesaat muncul lengkungan cahaya raksasa di atas laut.
Thaumas tersenyum.
Bukan karena ia telah memahami rahasia itu.
Justru karena ia sadar bahwa masih banyak hal yang tidak akan pernah bisa ia pahami sepenuhnya.
Pertemuan dengan Electra
Pada perjalanan-perjalanannya, Thaumas akhirnya bertemu dengan Electra, salah seorang Oceanid, putri Oceanus dan Tethys.
Electra tidak seperti siapa pun yang pernah ditemuinya.
Ia membawa ketenangan air yang berbeda dari laut purba tempat Thaumas biasa menghabiskan waktunya. Jika Thaumas tertarik pada cakrawala dan badai, Electra lebih dekat dengan aliran sungai, mata air, dan perairan yang bergerak menuju dunia jauh dari laut terbuka.
Mereka pertama kali bertemu ketika hujan turun begitu deras hingga sungai meluap ke laut. Electra berdiri di antara air yang bercampur, mencoba menenangkan arus yang mengamuk.
Thaumas memperhatikannya dari kejauhan sebelum akhirnya mendekat.
"Kau tidak bisa memaksa air berhenti," katanya.
Electra menoleh.
"Dan kau tidak bisa membuat laut diam."
Thaumas tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya, ia menemukan seseorang yang tidak mencoba memahami dirinya dengan tergesa-gesa.
Sejak saat itu mereka sering bertemu di tempat-tempat yang berada di antara dua dunia. Pantai saat senja, muara ketika air sungai bertemu laut, dan tebing ketika kabut dari laut naik menuju langit.
Dari hubungan mereka lahirlah putri-putri yang membawa sifat ayah dan ibunya ke dalam dunia.
Iris adalah yang paling dikenal.
Ia menjadi pembawa pesan para dewa, bergerak melintasi langit dengan kecepatan cahaya dan hujan. Dalam dirinya terdapat hubungan yang aneh antara laut, hujan, dan langit yang selama ini dipahami Thaumas tanpa pernah mampu dijelaskan dengan kata-kata.
Thaumas melihat putrinya terbang untuk pertama kalinya dan tahu bahwa sesuatu yang pernah ia amati sebagai rahasia kini telah menjadi bagian dari keluarganya.
Namun Iris bukan satu-satunya anaknya.
Dari Thaumas dan Electra juga lahir para Harpy, makhluk bersayap yang jauh lebih liar daripada saudari mereka. Mereka membawa sisi lain dari ayahnya—bukan keindahan langit setelah badai, melainkan keganasan angin yang datang tanpa peringatan.
Thaumas tidak pernah benar-benar menguasai anak-anaknya.
Ia membiarkan mereka menemukan sifat mereka sendiri.
Anak-Anak Angin
Iris memilih langit.
Ia terbang di antara dunia para dewa dan manusia, membawa pesan melewati awan dan hujan. Ketika para dewa membutuhkan seseorang untuk menyeberangi jarak yang tidak dapat ditempuh manusia, Iris menjadi jalannya.
Thaumas selalu mengamatinya dari kejauhan.
Ada kebanggaan di dalam dirinya, tetapi juga kesadaran bahwa putrinya telah melampaui tempat yang pernah menjadi batas bagi dirinya.
Para Harpy mengambil jalan yang berbeda.
Mereka membawa sayap dan kecepatan yang sama, tetapi tidak membawa ketenangan Iris. Mereka adalah angin yang berubah menjadi makhluk. Mereka datang tiba-tiba, merampas, mengacaukan, lalu menghilang ke tempat yang sulit dijangkau.
Thaumas mengetahui bahwa sifat itu juga berasal dari dirinya.
Laut yang tenang dan badai yang menghancurkan berasal dari air yang sama.
Ia tidak berusaha menyangkal bagian gelap dari anak-anaknya. Ia hanya berharap mereka tidak kehilangan kendali atas kekuatan yang mereka bawa.
Harapan itu tidak selalu terwujud.
Ketika para Harpy mulai dikenal karena gangguan dan kekacauan yang mereka bawa, nama Thaumas ikut disebut. Ia tidak muncul untuk membela mereka, tetapi juga tidak meninggalkan mereka sepenuhnya.
Ia hanya menunggu.
Seperti laut yang menunggu badai berlalu.
Rahasia yang Tidak Pernah Hilang
Waktu berjalan, dan dunia berubah.
Titan-titan bangkit. Para dewa baru mengambil tempat mereka. Perang besar mengguncang langit dan bumi, sementara generasi lama perlahan tersingkir dari pusat dunia.
Thaumas tidak mengejar kekuasaan.
Ia tidak memiliki takhta seperti Zeus, tidak memimpin pasukan seperti para Titan, dan tidak membutuhkan kuil tempat manusia menyebut namanya.
Ia tetap berada di wilayah yang sejak awal menjadi miliknya—tempat laut bertemu langit.
Kadang-kadang ia muncul di tengah badai, berdiri di atas tebing sambil memandangi awan yang bergerak. Kadang ia terlihat di kejauhan ketika hujan turun di atas laut dan cahaya matahari muncul dari balik awan.
Manusia yang melihatnya tidak selalu tahu siapa yang mereka lihat.
Mereka mungkin hanya melihat bayangan seorang sosok tinggi di antara kabut. Mereka mungkin mengira itu roh laut atau dewa yang tidak mereka kenal.
Thaumas tidak keberatan.
Ia tidak pernah benar-benar membutuhkan pengakuan.
Yang ia cari sejak awal adalah sesuatu yang lebih sederhana: memahami dunia yang terus berubah di hadapannya.
Namun semakin lama ia mengamati, semakin ia menyadari bahwa dunia tidak diciptakan untuk dipahami seluruhnya.
Ada rahasia yang hanya bisa dilihat sesaat.
Ada keindahan yang muncul karena badai.
Ada warna yang hanya tampak ketika cahaya bertemu hujan.
Dan ada makhluk yang hanya dapat menemukan jalannya setelah tersesat.
Di Ujung Pelangi
Suatu sore, setelah badai panjang mengguncang laut, Thaumas kembali berdiri di atas tebing yang pernah menjadi tempat kesukaannya.
Langit mulai cerah.
Hujan masih turun tipis di kejauhan, sementara cahaya matahari menembus awan yang pecah. Perlahan, sebuah lengkungan warna muncul di atas laut.
Thaumas memandanginya tanpa berkata apa-apa.
Di kejauhan, sesuatu bergerak melintasi langit.
Iris.
Putrinya terbang melewati pelangi, membawa pesan dari satu ujung dunia menuju ujung lainnya. Sesaat, bayangannya melintas di antara warna-warna cahaya sebelum menghilang di balik awan.
Thaumas mengikuti gerak itu dengan pandangan sampai tidak terlihat lagi.
Kemudian ia menoleh kembali ke laut.
Ombak mulai tenang.
Angin berubah arah.
Di bawah tebing, air memantulkan warna pelangi yang perlahan memudar, sementara cahaya terakhir matahari jatuh di atas permukaan laut.
Thaumas tetap berdiri di sana.
Ia tahu pelangi itu tidak akan bertahan lama.
Dan mungkin justru karena itulah ia terus memandanginya.
