Sebelum para dewa muda mengenal nama Olympus, ketika dunia masih dikuasai oleh anak-anak pertama Gaia dan Uranus, Tethys tumbuh di antara kekuatan-kekuatan purba yang belum mengenal batas.
Ia adalah salah satu dari dua belas Titan, lahir dari Gaia, bumi yang luas, dan Uranus, langit yang membentang tanpa ujung. Saudara-saudaranya adalah makhluk-makhluk yang membawa kekuatan besar: Oceanus yang mengelilingi dunia dengan arusnya, Hyperion yang kelak berdiri bersama cahaya, Coeus yang menatap ke arah rahasia langit, Crius, Iapetus, Cronus, dan para saudari mereka yang masing-masing membawa bagian dari dunia yang belum selesai dibentuk.
Namun Tethys tidak seperti saudara-saudaranya.
Ia tidak mengejar takhta. Ia tidak mengangkat senjata ketika kemarahan mulai tumbuh di antara anak-anak Uranus. Ia tidak ingin menguasai langit atau bumi.
Ia memilih air.
Bukan air laut yang liar dan asin, melainkan air yang mengalir diam-diam melalui dunia—mata air yang muncul dari batu, sungai yang membelah lembah, aliran yang membawa kehidupan ke tanah yang kering.
Di sanalah Tethys menemukan tempatnya.
Ketika Oceanus tumbuh menjadi sungai raksasa yang mengitari seluruh dunia, Tethys berjalan bersamanya. Mereka tidak seperti pasangan yang saling menaklukkan. Oceanus adalah gerak yang tidak pernah berhenti, sedangkan Tethys adalah kedalaman yang memberi arah pada aliran itu.
Mereka menikah, dan dari pertemuan keduanya lahirlah generasi baru yang memenuhi dunia dengan air.
Anak-anak mereka bukan sekadar keturunan. Mereka menjadi sungai-sungai yang mengalir di bumi dan para Oceanid, nimfa air yang tersebar ke berbagai penjuru dunia.
Setiap kali sebuah sungai muncul dari pegunungan, setiap kali mata air keluar dari tanah dan membentuk aliran baru, kekuatan Tethys terasa di dalamnya.
Ia tidak membutuhkan kuil sebesar milik Zeus.
Air akan selalu mengingat jalannya sendiri.
Ibu dari Sungai-Sungai
Tethys menjadi ibu bagi dunia yang perlahan dipenuhi kehidupan.
Di istananya yang tersembunyi jauh dari hiruk-pikuk para Titan, suara air tidak pernah berhenti. Para putrinya datang dan pergi seperti cahaya yang bergerak di permukaan sungai. Mereka adalah para Oceanid, nimfa yang membawa sifat air ke berbagai tempat.
Ada yang menjaga mata air.
Ada yang mengikuti sungai.
Ada yang tinggal di tempat-tempat tersembunyi, jauh dari pandangan para dewa.
Tethys mengenal mereka satu per satu.
Ia juga menjadi ibu dari sungai-sungai besar yang kelak akan dikenal oleh manusia dan para dewa. Mereka bukan anak-anak yang bisa ia panggil kembali ke rumah ketika mereka pergi. Begitu lahir, mereka mengalir menuju dunia, mencari jalannya sendiri.
Tethys memahami hal itu.
Seorang ibu yang menguasai air tidak mungkin mengurung air.
Maka ia membiarkan anak-anaknya pergi.
Sungai-sungai turun dari gunung, memotong batu, melewati padang, memberi minum kepada binatang, menyuburkan tanah, dan akhirnya membawa air mereka kembali menuju lautan besar yang dijaga oleh Oceanus.
Setiap perjalanan selalu berakhir di tempat asalnya.
Dan Tethys menunggu.
Namun dunia para Titan tidak pernah benar-benar damai.
Di dalam keluarga Uranus, kekuasaan selalu menjadi sumber ketakutan. Uranus takut kepada anak-anaknya sendiri. Gaia murka karena anak-anaknya dipenjarakan. Lalu datanglah pemberontakan Cronus.
Ketika sabit Cronus mengakhiri kekuasaan Uranus, dunia berubah.
Tethys melihat saudara-saudaranya memilih jalan masing-masing.
Cronus naik ke takhta.
Rhea berdiri di sisinya.
Oceanus tetap menjaga aliran dunia, jauh dari perebutan kekuasaan.
Dan Tethys tetap bersamanya.
Ia tidak ikut membangun kerajaan Cronus. Tetapi ia mengetahui sesuatu yang tidak disadari oleh para penguasa: kekuasaan dapat berpindah tangan, sementara sungai akan terus mengalir.
Ketika Para Dewa Muda Datang
Tahun-tahun berlalu.
Para Titan memiliki anak-anak mereka sendiri, dan generasi baru mulai memenuhi dunia.
Di antara mereka lahirlah Zeus.
Tethys mengetahui apa yang sedang terjadi ketika Cronus mulai menelan anak-anaknya sendiri karena takut pada ramalan bahwa salah satu dari mereka akan menggulingkannya.
Tetapi Tethys bukan Rhea.
Ia tidak memiliki takhta untuk dipertahankan dan tidak hidup dalam ketakutan yang sama.
Ia hanya mengamati.
Kelak, ketika Zeus dan saudara-saudaranya bangkit melawan Cronus, langit dan bumi kembali dipenuhi perang. Titan melawan dewa muda. Saudara melawan saudara. Gunung-gunung berguncang, laut mengamuk, dan dunia yang dahulu masih muda hampir hancur oleh benturan kekuatan mereka.
Oceanus tidak bergabung dalam perang itu.
Tethys tetap bersamanya.
Mereka memilih menjaga dunia daripada ikut memperebutkan siapa yang akan menguasainya.
Ketika perang berakhir, para Titan yang melawan Zeus dihukum. Cronus kehilangan takhtanya. Beberapa Titan dilempar ke Tartarus.
Namun Oceanus dan Tethys tetap berada di wilayah mereka.
Mereka tidak berdiri di Olympus, tetapi juga tidak menjadi tawanan di Tartarus.
Dunia baru telah lahir, dan Tethys menyaksikannya dari kejauhan.
Zeus menjadi penguasa langit.
Poseidon menerima lautan.
Hades mengambil kerajaan orang mati.
Para dewa muda mulai membangun tatanan mereka sendiri.
Tetapi sungai-sungai tetap mengalir seperti sebelumnya.
Tethys masih menjadi ibu mereka.
Tempat Perlindungan Hera
Di antara para dewa muda, ada satu yang pernah mengenal Tethys bukan sebagai Titan, melainkan sebagai sosok yang memberinya perlindungan.
Hera.
Ketika Zeus dan Hera kelak menjadi pasangan penguasa Olympus, dunia mengenal Hera sebagai ratu para dewa. Tetapi sebelum ia duduk di singgasana itu, ia pernah menjadi seorang anak yang harus dijauhkan dari bahaya.
Tethys dan Oceanus menerimanya.
Di tempat yang jauh dari pertikaian para Titan, Hera dibesarkan dalam ketenangan air.
Tethys merawatnya ketika dunia di luar dipenuhi kekacauan.
Tidak ada mahkota di sana.
Tidak ada petir.
Tidak ada perebutan takhta.
Hanya aliran air yang panjang dan suara Oceanus yang tidak pernah berhenti.
Hera tumbuh.
Dan ketika waktunya tiba, ia kembali ke dunia para dewa.
Ia membawa kenangan tentang tempat itu bersamanya.
Bertahun-tahun kemudian, ketika pertikaian di antara para dewa mengguncang Olympus, Hera masih mengingat rumah yang pernah menerimanya.
Karena itu, hubungan Tethys dengan Hera tidak seperti hubungan antara seorang ratu dan Titan tua.
Ada sesuatu yang lebih lama di antara mereka.
Kenangan seorang anak kepada perempuan yang pernah menjaganya.
Ibu yang Tidak Pernah Naik Takhta
Setelah perang para Titan berakhir, Tethys semakin jarang terlihat di antara para dewa.
Zaman telah berubah.
Nama-nama baru memenuhi langit. Zeus menjadi penguasa. Hera menjadi ratu. Poseidon memegang trisulanya. Athena lahir dari kepala Zeus. Apollo dan Artemis membawa cahaya dan panah mereka. Dunia mulai mengenal generasi dewa yang berbeda dari para Titan.
Tetapi di bawah semua itu, Tethys masih menjalankan tugasnya.
Ia tidak membutuhkan Olympus.
Tidak membutuhkan petir.
Tidak membutuhkan manusia untuk berdoa kepadanya setiap pagi.
Selama sungai masih menemukan jalan dari gunung, selama mata air masih muncul dari tanah, selama air masih memberi kehidupan kepada dunia, bagian dari kekuatannya tetap hidup.
Oceanus tetap mengelilingi dunia.
Dan Tethys tetap di sisinya.
Kadang-kadang, ketika malam turun dan para dewa Olympus berhenti berbicara, suara air terdengar jauh di bawah pegunungan. Sungai-sungai membawa suara itu ke lembah, dari lembah menuju laut, lalu kembali lagi ke arus besar yang mengitari dunia.
Di sana, jauh dari singgasana Zeus dan bayang-bayang perang para Titan, Tethys masih menunggu anak-anaknya.
Sungai-sungai terus mengalir pulang kepadanya.
Dan sang ibu tidak pernah menghentikan mereka.
