Alcyone — Pleiad yang Menjadi Burung Laut

   
Alcyone — Pleiad yang Menjadi Burung Laut

Alcyone — Pleiad yang Menjadi Burung Laut

Sebelum menjadi cahaya di langit malam, Alcyone hidup bersama enam saudarinya di antara pegunungan. Ia adalah putri Atlas dan Pleione, saudari Maia, Electra, Celaeno, Taygete, Sterope, dan Merope.

Kehidupan Alcyone berada di antara dua dunia. Ayahnya, Atlas, adalah Titan yang memikul langit setelah kekuasaan para Titan berakhir, sementara generasi baru para dewa mulai menguasai Olympus. Namun Alcyone tidak mencari tempat di antara para penguasa.

Ia lebih dekat kepada laut.

Ia senang berada di pantai, mendengar ombak, dan menyaksikan kapal-kapal bergerak menuju cakrawala. Dari ketujuh Pleiades, Alcyone kemudian menjadi salah satu yang paling erat dengan kisah laut dan badai.

Namun kehidupannya berubah ketika ia bertemu seorang manusia yang sangat ia cintai.

Namanya Ceyx.

Pertemuan dengan Ceyx

Ceyx adalah raja Trachis, seorang penguasa yang dikenal karena kehidupannya yang dekat dengan perjalanan dan laut. Ketika ia bertemu Alcyone, keduanya saling mencintai dan kemudian menikah.

Untuk beberapa waktu, mereka hidup bahagia.

Alcyone tidak lagi hanya dikenal sebagai putri Atlas.

Ia menjadi seorang istri yang sangat mencintai suaminya.

Mereka membangun kehidupan bersama di kerajaan Ceyx, dan Alcyone selalu menunggu kepulangan suaminya setiap kali ia pergi meninggalkan rumah.

Namun Ceyx mulai dihantui kegelisahan.

Ada urusan yang harus diselesaikannya jauh dari rumah, dan ia merasa harus melakukan perjalanan melalui laut.

Alcyone takut.

Ia tahu betapa mudahnya laut berubah dari tenang menjadi ganas.

"Jangan pergi," pintanya.

Namun Ceyx tetap berangkat.

Alcyone hanya dapat berdiri di pantai ketika kapal suaminya menghilang di kejauhan.

Laut yang Berubah

Perjalanan Ceyx tidak berlangsung seperti yang diharapkan.

Di tengah laut, badai datang.

Angin menjadi semakin kuat dan ombak menghantam kapal. Ceyx berusaha mempertahankan dirinya, tetapi laut akhirnya menelan kapal tersebut.

Di tengah badai, ia menyadari bahwa perjalanan itu mungkin akan menjadi akhir hidupnya.

Pikirannya tertuju kepada Alcyone.

Ia ingin pulang.

Namun ia tidak berhasil.

Ceyx meninggal di laut.

Sementara itu, Alcyone tidak mengetahui apa yang terjadi.

Hari-hari berlalu.

Ia tetap menunggu.

Setiap kali melihat laut, ia berharap kapal suaminya akan muncul di cakrawala.

Namun kapal itu tidak pernah kembali.

Mimpi Alcyone

Para dewa mengetahui kesedihan Alcyone.

Morpheus, dewa mimpi, kemudian mengambil wujud Ceyx dan muncul dalam tidur Alcyone.

Dalam mimpinya, Alcyone melihat suaminya berdiri di hadapannya.

Wajahnya tampak sedih.

Ia mengatakan bahwa dirinya telah meninggal dan meminta Alcyone berhenti menunggunya.

Alcyone terbangun dalam keadaan ketakutan.

Ia berlari menuju pantai.

Di sana ia melihat sesuatu mengambang di laut.

Tubuh Ceyx telah terdampar di pantai.

Kini Alcyone mengetahui kebenaran yang selama ini tidak sanggup ia bayangkan.

Suaminya telah meninggal.

Kesedihan memenuhi dirinya.

Ia berlari menuju tubuh Ceyx, tetapi ketika mendekat, sesuatu yang ajaib terjadi.

Menjadi Burung Laut

Para dewa melihat kesetiaan Alcyone dan tidak membiarkan kisah mereka berakhir dengan kematian.

Alcyone berubah menjadi seekor burung laut.

Ceyx juga berubah menjadi burung yang sama.

Keduanya tidak lagi menjadi manusia.

Namun mereka tetap bersama.

Sejak saat itu, Alcyone hidup di atas laut, terbang di atas ombak dan membangun sarang di dekat air.

Orang-orang kemudian menghubungkan hari-hari ketika laut menjadi tenang dengan Alcyone. Pada masa itu, laut seakan memberikan kesempatan bagi burung tersebut untuk bertelur dan merawat anak-anaknya tanpa dihantam badai.

Hari-hari tenang itu kemudian dikenal sebagai hari-hari Alcyone.

Nama Alcyone pun menjadi erat dengan ketenangan laut setelah badai.

Dari Laut Kembali ke Langit

Namun kisah Alcyone tidak berhenti sebagai burung laut.

Ia tetap merupakan salah satu dari tujuh putri Atlas dan Pleione.

Ketika para Pleiades akhirnya ditempatkan di langit, Alcyone kembali bersama enam saudarinya.

Ia menjadi salah satu bintang yang membentuk gugusan Pleiades.

Di sana, kisahnya berubah dari seorang perempuan yang kehilangan suaminya menjadi cahaya yang dapat dilihat manusia dari bumi.

Namun laut tetap menjadi bagian dari namanya.

Setiap kali ombak tenang setelah badai, manusia mengingat kisah Alcyone dan Ceyx.

Putri Atlas yang Tidak Dilupakan

Alcyone tidak meninggalkan kerajaan besar seperti beberapa tokoh lain dalam garis keturunannya.

Ia tidak menjadi ibu seorang dewa Olympus seperti Maia.

Ia tidak menjadi leluhur kerajaan besar seperti Electra melalui Dardanus.

Warisan Alcyone berbeda.

Ia menjadi simbol kesetiaan.

Ia mencintai Ceyx bahkan ketika laut mengambilnya.

Dan ketika para dewa memberikan kesempatan kedua, keduanya kembali bersama sebagai burung yang hidup di atas laut.

Namun di antara tujuh saudarinya, Alcyone tetap membawa nama keluarga Atlas ke langit.

Maia.

Electra.

Alcyone.

Celaeno.

Taygete.

Sterope.

Merope.

Tujuh saudari yang pernah hidup di bumi kini menjadi cahaya di atas dunia.

Laut yang Tenang

Malam turun di atas laut.

Ombak bergerak perlahan tanpa suara keras. Tidak ada badai di cakrawala.

Seekor burung laut terbang rendah di atas permukaan air.

Di kejauhan, seekor burung lain mengikutinya.

Mereka terbang berdampingan menuju pantai.

Di atas mereka, gugusan Pleiades mulai muncul.

Alcyone berada di antara enam saudarinya.

Ia pernah menjadi perempuan yang berdiri di pantai menunggu kapal yang tidak pernah kembali.

Ia pernah kehilangan orang yang paling dicintainya.

Ia kemudian menjadi burung yang hidup di atas laut bersama Ceyx.

Dan akhirnya, ia menjadi bintang.

Angin malam membawa suara ombak ke pantai.

Laut tetap tenang.

Untuk sementara, tidak ada badai.

Dan di bawah cahaya Alcyone yang bersinar di antara Pleiades, dua burung laut terus terbang bersama di atas air yang gelap, seolah perjalanan mereka tidak pernah benar-benar berakhir.

Last update
Add Comment