Styx — Sumpah yang Tak Pernah Patah

   
Styx — Sumpah yang Tak Pernah Patah

Styx — Sumpah yang Tak Pernah Patah

Jauh sebelum para dewa Olympus memiliki istana di puncak gunung, ketika dunia masih muda dan kekuasaan belum memiliki bentuk yang tetap, sungai-sungai besar telah mengalir melalui bumi dan laut yang belum mengenal batas. Di antara anak-anak Oceanus dan Tethys lahirlah seorang putri bernama Styx.

Ia bukan yang paling terkenal di antara saudara-saudarinya. Tidak ada kilat yang mengikutinya, tidak ada mahkota yang menandai kedatangannya, dan tidak ada pasukan yang menunggu perintahnya. Namun sejak awal, Styx memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak makhluk ilahi lainnya: keteguhan.

Ia adalah putri air purba, tetapi air dalam dirinya tidak selalu lembut. Styx membawa sifat sungai yang mengalir tanpa pernah kembali ke tempat yang sama. Ia dapat tenang selama bertahun-tahun, tetapi ketika memilih suatu arah, ia tidak mudah dihentikan.

Seiring waktu, namanya semakin erat dengan sebuah sungai yang kelak menjadi salah satu batas paling ditakuti di dunia bawah. Sungai itu disebut Styx pula—air gelap yang mengalir di antara dunia orang hidup dan kerajaan Hades.

Namun jauh sebelum para jiwa menyeberanginya, Styx telah melihat sesuatu yang lebih besar daripada kematian.

Ia melihat sebuah perang yang akan menentukan siapa yang berhak memerintah dunia.

Ketika Para Titan Berperang

Pada masa itu, para Titan menguasai dunia.

Cronus duduk di singgasana, sementara saudara-saudaranya berdiri di bawah kekuasaannya. Namun di balik kedamaian yang tampak dari kejauhan, sebuah pemberontakan sedang tumbuh.

Zeus telah kembali.

Ia datang bersama saudara-saudaranya yang telah dibebaskan dari perut Cronus, dan bersama mereka ia mengangkat perang melawan generasi lama para penguasa.

Perang itu berlangsung begitu lama sehingga langit dan bumi seakan kehilangan batasnya.

Gunung-gunung dilemparkan seperti batu. Laut berguncang. Petir Zeus membelah cakrawala, sementara para Titan bertahan dengan kekuatan yang telah mereka miliki sejak dunia masih muda.

Styx menyaksikan semuanya dari kejauhan.

Ia tidak memiliki pasukan besar. Ia tidak datang membawa senjata. Tetapi ia tahu bahwa perang seperti itu tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling kuat.

Perang juga ditentukan oleh siapa yang berani memilih sisi.

Dan Styx memilih Zeus.

Keputusan itu tidak datang tanpa alasan. Pallas, putra Crius dan Eurybia, adalah pasangannya. Namun Styx tidak membiarkan hubungan darah menentukan pilihannya. Ia melihat bahwa dunia sedang berubah, dan ia tidak ingin berdiri di sisi kekuasaan hanya karena kekuasaan itu telah ada sejak lama.

Maka Styx membawa anak-anaknya kepada Zeus.

Mereka adalah Nike, Kratos, Bia, dan Zelus—empat kekuatan yang belum sepenuhnya dikenal oleh dunia.

Nike membawa kemenangan.

Kratos membawa kekuatan.

Bia membawa daya paksa yang tidak mengenal keraguan.

Dan Zelus membawa semangat untuk terus maju ketika lawan masih berdiri.

Zeus menerima mereka.

Sejak saat itu, keempat anak Styx berdiri di sisinya.

Dan perang berubah.

Anak-Anak yang Berdiri di Sisi Zeus

Ketika pertempuran mencapai puncaknya, Zeus tidak hanya membutuhkan kekuatan untuk menghancurkan musuh. Ia membutuhkan sesuatu yang dapat membuat para dewa tetap berdiri ketika pertempuran terasa tidak akan pernah berakhir.

Nike menjadi bayangan kemenangan yang selalu berada di dekatnya.

Kratos menjadi kekuatan yang membuat kehendak Zeus dapat ditegakkan.

Bia menjadi daya yang memaksa dunia tunduk ketika kekuasaan baru membutuhkan ketegasan.

Sementara Zelus menjadi semangat yang mendorong mereka untuk tidak berhenti sebelum kemenangan benar-benar tercapai.

Styx tidak berdiri di medan perang seperti seorang prajurit biasa. Namun keputusannya telah menempatkan empat kekuatan besar di tangan Zeus.

Dan ketika akhirnya para Titan kalah, dunia memasuki zaman baru.

Zeus menjadi penguasa langit.

Saudara-saudaranya membagi wilayah dunia.

Para Titan yang kalah dijatuhkan ke Tartarus.

Tetapi Styx tidak meminta hadiah.

Ia hanya kembali ke sungainya.

Zeus tidak melupakannya.

Ia mengetahui bahwa ketika perang sedang menentukan nasib dunia, Styx telah datang kepadanya tanpa menunggu kepastian kemenangan.

Karena itulah, Zeus memberikan penghormatan yang jauh lebih besar daripada emas atau wilayah.

Ia menjadikan air Styx sebagai saksi tertinggi bagi sumpah para dewa.

Sumpah yang Bahkan Para Dewa Takut Langgar

Sejak saat itu, ketika seorang dewa bersumpah atas nama Styx, sumpah itu bukan lagi sekadar kata-kata.

Zeus sendiri menghormati sumpah tersebut.

Jika seorang dewa bersumpah palsu dengan Styx sebagai saksi, hukuman berat menantinya. Untuk sementara waktu ia akan kehilangan tempatnya dalam perjamuan para dewa dan terpisah dari kehidupan ilahi yang biasa dinikmatinya.

Bagi para dewa yang hidup abadi, kehilangan kekuatan dan kebersamaan Olympus bukan perkara kecil.

Maka nama Styx menjadi sesuatu yang membuat bahkan para penguasa langit berhati-hati.

Bukan karena ia mengangkat pedang.

Bukan karena ia memimpin pasukan.

Melainkan karena kata-kata yang diucapkan di hadapannya memiliki harga.

Dan Styx tidak pernah lupa pada janji.

Ada sesuatu yang ironis di sana. Ia adalah seorang Oceanid, putri sungai dan samudra, tetapi justru namanya menjadi batas yang tidak boleh diseberangi oleh kebohongan.

Airnya terus mengalir.

Sumpah-sumpah datang kepadanya.

Dan satu demi satu, sumpah itu terikat pada namanya.

Di Antara Dunia yang Hidup dan yang Mati

Lama setelah Titanomachy berakhir, dunia berubah lagi.

Para manusia memenuhi bumi. Para dewa mengambil tempat masing-masing. Dan di bawah bumi, kerajaan orang mati berdiri dalam kesunyian.

Di sana, sungai Styx mengalir.

Charon membawa jiwa-jiwa melintasi perairan gelap menuju kerajaan Hades. Para penghuni dunia bawah mengenal sungai itu sebagai salah satu batas yang memisahkan dunia kehidupan dari dunia kematian.

Namun bagi para dewa, Styx memiliki makna yang lebih tua.

Ia adalah sungai yang menyimpan sumpah.

Ia adalah saksi yang tidak dapat dibujuk.

Dan ia adalah pengingat bahwa bahkan makhluk abadi pun terikat oleh sesuatu.

Pada akhirnya, kekuatan terbesar Styx bukanlah kekuatan untuk menghancurkan.

Kekuatan terbesarnya adalah keteguhan.

Ia memilih sebuah pihak ketika dunia belum tahu siapa yang akan menang. Ia memberikan anak-anaknya kepada Zeus ketika perang masih berkecamuk. Dan setelah kemenangan itu datang, ia tidak menuntut singgasana untuk dirinya sendiri.

Ia hanya terus mengalir.

Jauh di bawah dunia para dewa, air hitam bergerak perlahan melewati tepian kerajaan orang mati. Tidak ada sorak kemenangan di sana. Tidak ada suara perang.

Hanya arus yang tidak pernah berhenti.

Dan setiap kali seorang dewa berdiri di hadapan air itu, mengangkat tangannya, lalu mengucapkan sebuah sumpah, nama Styx kembali hidup di antara kata-kata mereka.

Karena di dunia para dewa, banyak hal dapat berubah.

Singgasana dapat berpindah.

Kerajaan dapat runtuh.

Kekuatan dapat hilang.

Tetapi sumpah yang telah diberikan kepada Styx—

tetap mengalir bersamanya, menuju tempat di mana bahkan para dewa tidak dapat melarikan diri darinya.

Last update
Add Comment