Pallas — Sang Titan Ayah Para Kekuatan

   
Pallas — Sang Titan Ayah Para Kekuatan

Pallas — Sang Titan Ayah Para Kekuatan

Di antara anak-anak Crius dan Eurybia, Pallas tumbuh sebagai seorang Titan yang dekat dengan kekuatan perang. Ia adalah saudara Astraeus dan Perses, lahir pada masa ketika para Titan masih menguasai dunia dan Olympus belum menjadi pusat kekuasaan para dewa. Dari keluarganya, Pallas mewarisi kekuatan yang keras dan tidak mudah ditaklukkan, tetapi takdirnya tidak hanya ditentukan oleh siapa dirinya. Yang membuat namanya terus hidup justru anak-anak yang lahir dari dirinya dan seorang dewi yang kekuatannya bahkan dihormati oleh para Olympian.

Perempuan itu adalah Styx.

Styx, putri Oceanus dan Tethys, bukanlah sosok yang mudah ditemukan di antara para dewa. Ia memiliki sungai suci yang namanya kelak menjadi tempat paling mengikat bagi sumpah para dewa. Pallas dan Styx kemudian menjadi pasangan, dan dari hubungan mereka lahirlah empat anak yang membawa kekuatan-kekuatan yang sangat berbeda: Nike, dewi kemenangan; Kratos, perwujudan kekuatan; Bia, kekuatan yang keras dan tak terbendung; serta Zelos, semangat, hasrat, dan dorongan untuk mengungguli yang lain.

Pallas melihat keempat anaknya tumbuh dan segera memahami bahwa mereka bukan keturunan biasa. Masing-masing memiliki kekuatan yang dapat memengaruhi jalannya sebuah peperangan. Namun ia belum mengetahui bahwa suatu hari kekuatan itu akan digunakan bukan untuk memenangkan perang yang ia perjuangkan, melainkan untuk menjatuhkan dirinya dan generasinya.

Ketika Perang Dimulai

Zaman para Titan akhirnya berubah ketika Zeus bangkit melawan Cronus. Bersama saudara-saudaranya, Zeus menantang generasi lama dan menuntut kekuasaan atas dunia. Perang besar pun pecah, mempertemukan para Titan dengan para Olympian dalam pertempuran yang mengguncang langit dan bumi.

Pallas berdiri bersama para Titan. Ia tidak memiliki alasan untuk meninggalkan keluarganya. Dunia yang dipertahankannya adalah dunia tempat ia dilahirkan, dunia yang selama ini berada di bawah kekuasaan Cronus dan para Titan. Ketika senjata diangkat dan kedua pihak mulai bertempur, Pallas ikut mempertahankan kekuasaan lama dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya.

Namun Styx melihat sesuatu yang tidak ingin dilihat Pallas. Ia menyadari bahwa kekuatan Zeus semakin besar dan bahwa perang itu mungkin akan berakhir dengan kemenangan generasi baru. Ketika Zeus memanggil para dewa untuk bergabung dengannya, Styx membawa keempat anaknya ke hadapan sang penguasa langit. Nike, Kratos, Bia, dan Zelos memilih berdiri di pihak Zeus.

Bagi Pallas, keputusan itu merupakan luka yang lebih dalam daripada kekalahan di medan perang. Istrinya telah memilih pihak lawan, dan keempat anaknya kini berada di barisan yang hendak menghancurkan generasi mereka sendiri. Namun Pallas tetap bertahan. Ia tidak memanggil anak-anaknya kembali dan tidak meninggalkan para Titan. Pilihannya telah dibuat, sebagaimana pilihan mereka telah dibuat.

Anak-Anak di Pihak Zeus

Zeus menerima keluarga Styx dengan tangan terbuka. Ia mengetahui bahwa kemenangan bukan hanya ditentukan oleh jumlah pasukan, tetapi oleh kekuatan yang dapat mengubah arah sebuah pertempuran. Nike menjadi kekuatan kemenangan yang berjalan di sisi para Olympian. Kratos dan Bia membawa kekuatan yang membuat kehendak Zeus sulit dilawan, sementara Zelos memberikan semangat dan dorongan untuk terus maju.

Pallas menyaksikan semua itu dari sisi yang berlawanan. Setiap kali Zeus memperoleh kemenangan, ada bagian dari kekuatan anak-anaknya di dalamnya. Nike membawa keberhasilan kepada musuh para Titan, sementara Kratos dan Bia berdiri sebagai kekuatan yang membantu menegakkan kekuasaan baru. Zelos pun terus menyulut semangat yang membuat para Olympian tidak mudah mundur.

Namun perang tidak memberi waktu kepada seorang ayah untuk meratapi keluarganya. Pallas tetap mengangkat senjatanya dan bertempur bersama para Titan. Gunung-gunung berguncang, langit dipenuhi petir, dan dunia lama perlahan mulai runtuh. Zeus memperoleh senjata petir dari para Cyclopes, sementara para Hecatoncheires membantu para Olympian menghancurkan pertahanan para Titan. Kekuatan generasi baru akhirnya menjadi terlalu besar untuk dihentikan.

Para Titan kalah.

Kekalahan Pallas

Ketika perang berakhir, Zeus mengambil tempat sebagai penguasa baru dunia. Para Titan yang kalah kehilangan kekuasaan mereka dan sebagian dari mereka dijatuhkan ke Tartarus. Pallas pun kehilangan tempatnya dalam dunia yang selama ini ia kenal. Ia bukan lagi bagian dari generasi yang memerintah langit dan bumi, sementara anak-anaknya justru mendapatkan tempat di antara para pemenang.

Nike tetap berada dekat dengan Zeus sebagai lambang kemenangan. Kratos dan Bia menjadi kekuatan yang menopang kekuasaan sang penguasa Olympus, sedangkan Zelos terus membawa semangat persaingan dan hasrat untuk menang. Mereka telah menemukan tempat mereka dalam dunia baru, tetapi bagi Pallas, kemenangan mereka memiliki rasa yang pahit.

Anak-anak yang dahulu ia lihat tumbuh di sisinya kini menjadi bagian dari kekuatan yang menggantikan dunianya.

Namun Pallas tidak dapat menyalahkan mereka sepenuhnya. Anak-anaknya telah memilih jalan mereka sendiri, sama seperti dirinya memilih untuk tetap berdiri bersama para Titan. Perang telah memaksa keluarga mereka berada di dua sisi yang berbeda, dan ketika perang berakhir, tidak ada jalan untuk mengembalikan keadaan seperti semula.

Warisan Sang Titan

Waktu kemudian berjalan jauh meninggalkan perang para Titan. Nama Pallas semakin jarang disebut, tetapi kekuatan yang berasal darinya tidak pernah benar-benar hilang. Setiap kemenangan yang diraih para dewa membawa jejak Nike. Setiap kekuatan yang digunakan untuk menegakkan kehendak Zeus mengingatkan dunia kepada Kratos dan Bia. Setiap dorongan untuk menang dan melampaui lawan membawa semangat Zelos.

Pallas telah kalah, tetapi anak-anaknya menjadi bagian dari dunia yang menang.

Itulah warisan yang paling aneh dari seorang Titan. Ia tidak meninggalkan kerajaan, kota, atau takhta. Ia meninggalkan empat kekuatan yang kemudian hidup jauh lebih lama daripada kekuasaan yang pernah ia pertahankan. Dunia baru yang dibangun Zeus justru menggunakan sebagian dari darah Pallas untuk berdiri semakin kokoh.

Sementara itu, Styx memperoleh kedudukan tinggi di antara para dewa karena kesetiaannya kepada Zeus. Ia menjadi sungai suci tempat para dewa bersumpah, dan sumpah atas namanya membawa konsekuensi yang tidak dapat dianggap ringan. Dengan demikian, jalan Pallas dan Styx semakin jauh berbeda. Pallas menjadi bagian dari generasi yang kalah, sementara istrinya dan anak-anak mereka menjadi bagian dari tatanan baru Olympus.

Di Balik Cahaya Olympus

Pada suatu malam, ketika Olympus telah lama berdiri dan perang para Titan hanya tinggal kenangan, Pallas memandang dari kejauhan ke arah dunia yang telah berubah. Di sana, anak-anaknya masih menjalankan tugas masing-masing. Nike membawa kemenangan, Kratos dan Bia berdiri sebagai kekuatan yang menegakkan kehendak para dewa, sementara Zelos terus bergerak dengan semangat yang tidak pernah padam.

Pallas tidak memanggil mereka. Ia juga tidak meminta mereka kembali. Untuk sesaat, ia hanya mengingat masa ketika keempatnya masih kecil, ketika mereka belum mengenal perang dan belum harus memilih antara ayah mereka dengan masa depan yang menanti di hadapan mereka. Ia mengingat Nike sebelum menjadi lambang kemenangan, Kratos sebelum menjadi kekuatan, Bia sebelum dikenal karena ketegasannya, dan Zelos sebelum dunia mengenal semangat persaingannya.

Angin malam bergerak melewati tempat Pallas berdiri. Di kejauhan, cahaya Olympus masih terlihat di antara pegunungan. Ia tahu bahwa dunia yang dahulu ia kenal tidak akan kembali. Para Titan telah kehilangan zaman mereka, dan para Olympian telah membangun dunia baru di atas reruntuhan perang.

Pallas kemudian berbalik dan meninggalkan cahaya itu. Tidak ada pasukan yang mengikutinya, tidak ada anak yang memanggil namanya, dan tidak ada takhta yang menunggunya di tempat tujuan. Hanya malam yang luas di hadapannya.

Namun di suatu tempat di bawah cahaya Olympus, empat anaknya tetap menjalankan takdir mereka.

Dan setiap kali kemenangan diraih, kekuatan ditegakkan, keberanian diuji, atau hasrat untuk mengungguli lawan kembali menyala, warisan Pallas masih hidup di dunia yang pernah mengalahkannya.

Last update
Add Comment