Jauh sebelum Hermes berlari dengan sandal bersayapnya di antara dunia para dewa, Maia hidup jauh dari hiruk-pikuk Olympus.
Ia adalah salah satu dari tujuh Pleiades, putri Atlas dan Pleione. Bersama Alcyone, Celaeno, Electra, Taygete, Sterope, dan Merope, Maia tumbuh sebagai bagian dari keluarga yang hidup di antara dunia para Titan dan generasi baru para dewa.
Berbeda dari saudari-saudarinya yang sering dikaitkan dengan laut, bintang, atau kehidupan para pahlawan, Maia lebih menyukai tempat yang sunyi.
Ia memilih pegunungan.
Di sebuah gua di Gunung Cyllene, Maia menjalani kehidupan yang jauh dari istana Olympus. Tidak banyak dewa yang datang ke tempat itu, dan Maia tidak mencari perhatian mereka.
Namun ketenangan itu berubah ketika Zeus datang.
Kedatangan Zeus
Zeus telah menjadi penguasa Olympus, tetapi kekuasaannya tidak membuatnya berhenti mengunjungi dunia di luar istananya.
Ia menemukan Maia di tempat persembunyiannya.
Dari hubungan mereka lahirlah seorang anak laki-laki.
Namanya Hermes.
Maia membesarkan Hermes di dalam gua, jauh dari kehidupan para Olympian. Namun sejak kelahirannya, Maia segera menyadari bahwa putranya tidak seperti anak-anak lainnya.
Hermes sangat cepat belajar.
Ia penuh rasa ingin tahu.
Ia selalu mencari sesuatu yang baru untuk dilakukan.
Maia mungkin menginginkan kehidupan yang tenang, tetapi ia mendapatkan seorang anak yang sejak hari pertama sudah tampak ingin menjelajahi seluruh dunia.
Bayi yang Tidak Bisa Diam
Pada hari kelahirannya, Hermes masih tampak seperti bayi biasa.
Maia meninggalkannya sebentar di dalam gua.
Ketika kembali, tempat itu sudah kosong.
Hermes telah keluar.
Ia berjalan menuju dunia yang belum dikenalnya dan menemukan seekor kura-kura. Ia mengambil cangkangnya, memasang senar, lalu menciptakan alat musik yang kelak menjadi kecapi.
Maia tidak tahu apa yang sedang dilakukan putranya.
Sementara itu, Hermes telah melihat kawanan ternak milik Apollo.
Ia mendapatkan sebuah gagasan.
Ia ingin mengambilnya.
Hermes kemudian menggiring ternak tersebut menjauh dan mengubah arah jejak mereka agar sulit dilacak. Setelah selesai, ia kembali ke gua dan berbaring di tempat tidurnya seolah tidak pernah meninggalkan tempat itu.
Ketika Apollo datang mencari ternaknya, Maia berada di sana.
Apollo menuduh Hermes.
Maia membela putranya, tetapi bahkan ia tidak dapat mengingkari bahwa Hermes memang terlalu pintar untuk ukuran seorang bayi.
Akhirnya Hermes dibawa menghadap Zeus.
Dan untuk pertama kalinya, sang ayah melihat sendiri betapa besar kecerdikan putranya.
Anak yang Membawa Perubahan
Pertemuan Hermes dengan Apollo tidak berakhir sebagai permusuhan.
Hermes memberikan kecapi yang dibuatnya kepada Apollo. Sang dewa musik terpesona oleh suara alat tersebut dan menerima perdamaian.
Apollo kemudian memberikan Hermes tongkat yang menjadi salah satu lambangnya.
Sejak saat itu, Hermes mulai memperoleh tempat di antara para dewa.
Ia menjadi pembawa pesan Zeus, pelindung para pengembara, pedagang, gembala, dan orang-orang yang melakukan perjalanan. Ia juga menjadi penuntun jiwa menuju dunia bawah.
Maia menyaksikan semua itu dari jauh.
Putranya yang dahulu berlari keluar dari gua ketika masih bayi kini telah menjadi salah satu dewa yang paling sering bergerak di antara Olympus dan dunia manusia.
Namun Maia sendiri tetap memilih kehidupan yang tenang.
Maia dan Para Pleiades
Maia tidak pernah benar-benar terpisah dari saudari-saudarinya.
Tujuh Pleiades adalah putri Atlas dan Pleione. Mereka dikenal sebagai kelompok saudari yang kemudian ditempatkan di langit sebagai bintang.
Kisah mereka berhubungan dengan kehidupan keluarga Atlas yang tidak mudah.
Ayah mereka harus menanggung hukuman Zeus dengan memikul langit di pundaknya.
Kehidupan sebagai putri Atlas juga membawa mereka ke dalam berbagai kisah para dewa dan pahlawan.
Namun Maia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki semua saudari lainnya.
Ia menjadi ibu seorang dewa Olympus.
Hermes membawa darah Atlas ke dalam keluarga Zeus.
Dengan demikian, keturunan Maia menghubungkan keluarga Titan dengan generasi baru para Olympian.
Ibu yang Tidak Mencari Kemuliaan
Maia tidak pernah menjadi dewi yang memiliki kuil sebesar Athena atau Demeter. Namanya tidak sering terdengar dalam kisah perang atau perselisihan para dewa.
Namun pengaruhnya sangat besar.
Ia memberikan kehidupan kepada Hermes.
Ia membesarkannya di tempat yang sunyi.
Ia melihat anak itu tumbuh dari bayi yang penuh kenakalan menjadi pembawa pesan yang dipercaya oleh Zeus.
Maia tidak membutuhkan takhta untuk memiliki tempat dalam dunia para dewa.
Ia adalah seorang ibu.
Dan melalui putranya, namanya tetap hidup di Olympus.
Hermes yang Kembali
Sesekali Hermes masih kembali ke Gunung Cyllene.
Meskipun ia kini dapat bergerak dengan cepat ke seluruh penjuru dunia, gua tempat ia dibesarkan tetap menjadi tempat yang tidak dilupakannya.
Maia menyambutnya setiap kali ia datang.
Hermes mungkin membawa berita dari Olympus, cerita dari dunia manusia, atau sekadar datang untuk beristirahat sebelum kembali menjalankan tugasnya.
Maia mendengarkan.
Ia tidak banyak bertanya.
Baginya, Hermes tetaplah anak yang pernah berlari keluar dari gua dan membuat kekacauan dengan ternak Apollo.
Tidak peduli seberapa tinggi kedudukannya di Olympus.
Tidak peduli berapa banyak manusia yang mengenalnya.
Bagi Maia, ia tetap putranya.
Bintang di Atas Gunung
Malam tiba di Gunung Cyllene.
Maia duduk di luar gua dan memandang langit.
Tujuh bintang Pleiades terlihat di atas sana.
Ia mengenali saudari-saudarinya di antara cahaya itu.
Di sampingnya, Hermes bersiap pergi. Sandal bersayapnya telah terpasang, dan tongkatnya berada di tangannya.
"Aku harus kembali ke Olympus," katanya.
Maia hanya mengangguk.
Hermes kemudian berbalik dan melangkah menuju jalan pegunungan. Beberapa saat kemudian, tubuhnya menghilang di antara kegelapan.
Maia tetap duduk di sana.
Di atasnya, tujuh bintang terus bersinar.
Salah satunya membawa namanya.
Di kejauhan, Hermes telah kembali bergerak menuju Olympus, membawa pesan baru untuk para dewa.
Maia memandangnya sampai ia benar-benar menghilang.
Kemudian ia kembali menatap langit.
Ia tidak pernah membutuhkan takhta.
Tidak pernah membutuhkan pasukan.
Tidak pernah membutuhkan tempat di tengah perdebatan para Olympian.
Cukup baginya mengetahui bahwa di antara bintang-bintang ada saudari-saudarinya, dan di antara para dewa ada seorang putra yang pernah ia besarkan di sebuah gua sunyi di Gunung Cyllene.
Malam semakin dalam.
Maia tetap berada di sana, sementara cahaya Pleiades terus menyala di atas pegunungan.
