Hermes lahir jauh dari kemegahan Olympus. Ibunya adalah Maia, salah satu Pleiades dan putri Atlas. Maia tinggal di sebuah gua di Gunung Cyllene, jauh dari keramaian para dewa. Zeus datang kepadanya secara diam-diam, dan dari hubungan mereka lahirlah Hermes.
Sejak awal, Hermes bukan anak yang biasa. Pada hari kelahirannya, ia masih bayi, tetapi pikirannya sudah bekerja seperti seorang dewa yang jauh lebih tua. Ia tidak betah berdiam diri di dalam gua. Ketika Maia lengah, Hermes keluar dan mulai menjelajahi dunia.
Ia menemukan seekor kura-kura. Dengan kecerdikannya, ia mengambil cangkangnya dan membuat alat musik pertama yang kelak dikenal sebagai kecapi. Namun itu baru awal dari ulahnya.
Pencurian Kawanan Apollo
Tidak jauh dari sana, Apollo sedang menggembalakan kawanan ternaknya. Hermes melihat kawanan itu. Ia menginginkannya.
Maka ia merencanakan pencurian dengan cara yang sangat cerdik. Ia membawa ternak Apollo pergi dan mengubah arah jejak mereka agar tidak mudah ditemukan. Ia bahkan membuat beberapa jejak tampak seolah-olah kawanan itu berjalan ke arah yang berlawanan.
Setelah selesai, Hermes kembali ke guanya dan berbaring seperti bayi yang tidak melakukan apa-apa. Apollo akhirnya mengetahui bahwa ternaknya telah hilang. Ia mengikuti jejak yang tersisa dan menemukan Hermes.
Apollo marah. Hermes hanya tersenyum dan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Namun Apollo tidak mudah ditipu. Ia membawa Hermes menghadap Zeus.
Di hadapan ayah mereka, Hermes akhirnya mengungkap kecerdikannya. Untuk meredakan perselisihan, Hermes memberikan kecapi yang baru dibuatnya kepada Apollo.
Apollo begitu terpesona oleh suara alat musik tersebut sehingga ia bersedia berdamai. Sebagai gantinya, Hermes menerima sebuah tongkat yang kemudian menjadi salah satu lambang dirinya. Dua saudara itu akhirnya tidak menjadi musuh. Mereka justru saling menghormati.
Dewa yang Bergerak Cepat
Hermes tumbuh menjadi dewa yang berbeda dari kebanyakan penghuni Olympus. Ia tidak memiliki satu wilayah besar seperti Zeus, Poseidon, atau Hades. Wilayahnya adalah perjalanan.
Ia menjadi pembawa pesan para dewa, pelindung para pengembara, pedagang, gembala, dan mereka yang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain.
Ia juga memiliki hubungan dengan kecerdikan, perdagangan, dan kemampuan berbicara.
Hermes memiliki sandal bersayap dan topi perjalanan yang membantunya bergerak dengan cepat. Tongkatnya, kerykeion, menjadi tanda bahwa ia membawa pesan dan memiliki kedudukan sebagai utusan.
Tidak ada tempat yang benar-benar jauh baginya.
Olympus.
Dunia manusia.
Bahkan dunia bawah.
Hermes dapat melewati semuanya.
Penuntun Jiwa
Salah satu tugas Hermes yang paling penting adalah membawa jiwa orang yang telah meninggal menuju dunia bawah.
Ia dikenal sebagai psychopomp, penuntun jiwa.
Ketika seseorang meninggal, Hermes dapat menuntun mereka melewati batas antara dunia kehidupan dan dunia orang mati. Ia membawa mereka menuju tempat di mana Charon akan menyeberangkan mereka melewati sungai menuju kerajaan Hades.
Tugas itu membuat Hermes memiliki hubungan dengan dua dunia.
Ia adalah dewa yang dapat bergerak di tempat yang tidak dapat dicapai manusia hidup.
Ia tidak menguasai dunia bawah seperti Hades.
Ia hanya mengetahui jalan menuju ke sana.
Dan ketika tugasnya selesai, ia dapat kembali ke dunia atas.
Hermes dan Perseus
Hermes membantu Perseus ketika pahlawan itu mendapat tugas membunuh Medusa.
Perseus membutuhkan perlengkapan khusus untuk menghadapi monster tersebut. Hermes memberikan pedang yang kuat dan membantu menunjukkan jalan yang harus ditempuhnya.
Bersama bantuan Athena dan para dewa lainnya, Perseus berhasil menemukan Medusa.
Ia tidak menatap langsung wajah sang Gorgon.
Dengan perlengkapan yang diberikan kepadanya, Perseus akhirnya berhasil menjalankan tugasnya.
Hermes kemudian tetap menjadi salah satu dewa yang membantu para pahlawan ketika mereka membutuhkan jalan keluar dari keadaan yang sulit.
Hermes dan Odysseus
Hermes juga muncul dalam perjalanan Odysseus.
Ketika Odysseus dan anak buahnya tiba di pulau Circe, penyihir itu mengubah sebagian anak buahnya menjadi babi.
Odysseus bersiap menghadapi Circe.
Namun Hermes datang dan memberinya sebuah tanaman ajaib bernama moly yang melindunginya dari sihir Circe.
Dengan bantuan tersebut, Odysseus dapat menghadapi sang penyihir tanpa terkena kutukannya.
Hermes kemudian membantu menjaga perjalanan Odysseus tetap berada di jalurnya.
Ia tidak melakukan semuanya untuk sang pahlawan.
Ia memberikan apa yang dibutuhkan Odysseus, kemudian membiarkannya menggunakan kecerdikannya sendiri.
Hermes dan Argus
Hermes juga memiliki peran dalam kisah Io.
Zeus telah mengubah Io menjadi sapi putih untuk menyembunyikannya dari Hera, tetapi Hera menempatkan Argus Panoptes untuk menjaganya.
Argus memiliki banyak mata dan hampir tidak pernah benar-benar tidur.
Zeus kemudian mengirim Hermes.
Hermes menyamar sebagai seorang pengembara dan mendekati Argus. Ia berbicara kepadanya, memainkan musik, dan membuat penjaga itu semakin mengantuk.
Satu demi satu mata Argus tertutup.
Ketika semua mata tertidur, Hermes menyerangnya dan membebaskan Io.
Hera kemudian menempatkan mata Argus pada ekor burung merak sebagai penghormatan kepada penjaga yang telah setia kepadanya.
Hermes kembali ke Olympus.
Tugasnya selesai.
Hermes dan Para Dewa
Hermes sering menjadi dewa yang bergerak ketika para Olympian membutuhkan seseorang yang dapat dipercaya untuk menjalankan tugas.
Zeus mengirimnya membawa pesan.
Hera pernah menggunakan bantuannya.
Apollo dan Hermes memiliki hubungan yang dimulai dengan pencurian ternak tetapi kemudian berubah menjadi persahabatan.
Hades juga menerima kedatangannya ketika Hermes membawa pesan dari dunia atas.
Bahkan Persephone dapat dibawa kembali dari dunia bawah oleh Hermes ketika Zeus memutuskan bahwa ia harus kembali kepada Demeter.
Hermes dapat memasuki tempat-tempat yang tertutup bagi banyak dewa.
Itulah kekuatannya.
Ia tidak perlu menguasai sebuah kerajaan.
Ia menguasai jalan yang menghubungkan semuanya.
Putra yang Penuh Kecerdikan
Hermes memiliki banyak keturunan, baik dengan dewi maupun dengan manusia.
Salah satu putranya adalah Pan, dewa alam liar yang memiliki tubuh seperti manusia dengan kaki kambing. Pan hidup jauh dari kota dan lebih menyukai pegunungan serta hutan.
Hermaphroditus juga dikaitkan dengan Hermes dan Aphrodite.
Dari keturunan-keturunan itu, sifat Hermes seperti kecerdikan, kebebasan, dan kemampuan bergerak di antara berbagai dunia terus muncul dalam generasi berikutnya.
Namun Hermes sendiri tetap menjadi sosok yang sulit dikurung dalam satu tempat.
Ia selalu bergerak.
Sang Pembawa Pesan
Hermes bukan dewa yang memimpin pasukan.
Ia tidak memerintah laut.
Ia tidak menguasai dunia bawah.
Ia tidak duduk di takhta Olympus.
Namun hampir semua dewa membutuhkan dirinya.
Ketika pesan harus dikirim, Hermes bergerak.
Ketika seseorang harus dituntun menuju dunia bawah, Hermes berjalan di depan.
Ketika seorang pahlawan membutuhkan bantuan, Hermes dapat muncul di jalan yang sedang dilaluinya.
Ketika dua pihak bertengkar dan sebuah pesan harus disampaikan, Hermes menjadi penghubung.
Ia adalah dewa yang hidup di antara batas.
Antara Olympus dan bumi.
Antara kehidupan dan kematian.
Antara manusia dan para dewa.
Langkah di Jalan
Fajar mulai muncul di balik pegunungan.
Di sebuah jalan yang masih sepi, seorang pengembara berjalan membawa tongkat. Ia tidak tahu bahwa sesosok dewa telah melewatinya beberapa saat sebelumnya.
Hermes bergerak cepat menuju Olympus.
Pesan Zeus telah selesai dibawa.
Namun sebelum mencapai gunung, ia berhenti sejenak.
Di kejauhan, seorang pedagang membuka tokonya. Seorang penggembala membawa ternaknya keluar. Para pelancong mulai menyiapkan perjalanan.
Hermes tersenyum.
Dunia telah bangun.
Dan ketika manusia mulai berjalan, berdagang, berbicara, dan mencari jalan menuju tempat yang belum mereka kenal, selalu ada seseorang yang bergerak lebih cepat dari mereka.
Hermes mengenakan kembali sandal bersayapnya.
Dalam sekejap, ia meninggalkan jalan itu.
Menuju Olympus.
Menuju dunia manusia.
Atau mungkin menuju tempat lain yang bahkan para dewa belum tahu.
Karena bagi Hermes, selama masih ada jalan yang menghubungkan dua tempat, selalu ada alasan untuk berjalan.
